Mimpi Kami dari Rejosari untuk Indonesia

”We are guilty of many errors and faults, but our worstcrime is abandoning our children, neglecting the fountain of life. Many of thethings we need can wait. The child can not. Right now is the time his bones arebeing formed, his blood is being made and his senses are being developed. Tohim we cannot answer “Tomorrow”. His name is “Today”. (Gabriela Mistral Pemenang Nobel Sastra 1945)

Hampir tak ada yang menyangkal bahwa anak adalah titipan dari Sang Maha Kuasa yang sudah sepatutnya dijaga dan dikasihi. Jumlah anak Indonesia (0-18 tahun) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 mencapai 79,8 juta anak. Ironisnya,kekerasan terhadap anak di Indonesia sepertinya masih menjadi momok yang menghantui mereka. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat dalam semester I di tahun 2013 atau mulai Januari sampai akhir Juni 2013 ada 1032 kasus kekerasan anak yang terjadi di Indonesia. Dari jumlah itu kekerasan fisik tercatat ada 294 kasus atau 28 persen, kekerasan psikis 203 kasus atau 20 persen dan kekerasan seksual 535 kasus atau 52 persen. Ini adalah fakta yang sangat mengkhawatirkan, terlebih terdata 52 persen 1032 kasus kekerasan itu adalah kekerasan seksual.

Padahal Undang-undang perlindungan anak sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga kita. Menurut Karen Horney, tokoh psikoanalisa sosial, rumah yang hangat dan penuh kasih bisa memungkinkan seseorang untuk menghindari kecemasan neurotik dan konflik. Ia juga percaya bahwa aspek tertentu dari masyarakat kita menciptakan konflik yang intens seperti itu dan mereka perlu banyak “istirahat”  untuk menghadapi tantangan menjadi orang yang sehat. Dalam hal ini, kekerasan terhadap anak jelas mendekatkan anak pada kecemasan neurotik yang mungkin saja berproses terus menerus secara sporadis hingga membuat masalah kecemasan dasar dan permusuhan dasar semakin menguat.

Tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penyelamatan anak dari kekerasan mutlak dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat termasuk mahasiswa. Menurut hasil penelitian UNICEF 2013, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Semakin jelaslah bahwa kekerasan pada anak bukanlah tindakan yang tepat yang dilakukan oleh siapapun.

Perlu disadari bahwa kekerasan terhadap anak bukanlah permasalahan yang sederhana. Kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tak jarang menjadi faktor lain yang dapat melatarbelakangi terjadinya kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, solusi komprehensif sangat dibutuhkan untuk memecahkan permasalah ini.

Tegakah kita hanya diam dan membiarkan kekerasan terhadap anak terus menerus terjadi?

Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (selanjutnya disebut ILMPI) bersama Rumah Hebat Indonesia (selanjutnya disebut RHI) telah berupaya mengawali langkah untuk meminimalisir angka kekerasan terhadap anak di Indonesia. Sebuah program jangka panjang bernama RT Ramah Anak diharapkan bisa menjadi salah satu solusi efektif untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan sebelumnya.

Bukanlah perjalanan yang singkat hingga program ini tersusun denganbaik. Kami, mahasiswa psikologi Indonesia yang tergabung dalam ILMPI telah melewati tahapan panjang demi mendapatkan formula yang tepat untuk mengatasi permasalahan sosial ini. Mulai dari mengadakan seminar Gerakan Mahasiswa Peduli Orang tua dan Anak (Gemaperak), seminar nasional ‘Saving Children for Saving Indonesia’ hingga audiensi ke Kementerian Sosial Republik Indonesia. Akhirnya, di tahun 2013 program RT Ramah Anak ini berhasil kami mulai. Seperti yang disebutkan sebelumnya, permasalahan kekerasan terhadap anak adalah permasalahan yang kompleks.

Oleh karena itulah kami bekerjasama dengan Rumah Hebat Indonesiauntuk membersamai program ini. Dari sekian banyak daerah di Indonesia, di RT 03 Desa Rejosari, KecamatanNgemplak, Kelurahan Gilingan Kota Surakarta inilah program RT Ramah Anak ini akan kami laksanakan. Mengingat banyak kegiatan yang telah dilaksanakan oleh rekan-rekan RHI dan ILMPI di RT ini. Berbagai pendekatan dan pengambilan data pun sudah kami lakukan untuk menyusun program-program pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat RT 03 Rejosari. Selain itu, masyarakat tidakhanya dijadikan sebagai objek pemberdayaan, melainkan sebagai subjek dan mitra dalam pelaksanaan pemberdayaan.

Program ini tidak akan berjalan lancar tanpa kerjasama berbagai pihak, termasuk kerjasama kita sebagai mahasiswa psikologi untuk mengaplikasikan ilmu yang kita miliki. Ini adalah tindakan kecil kami untuk Indonesia. Mohon doa dari teman-teman semua agar pelaksanaan program kerja ini lancar dan mencapai hasil yang diharapkan. Semoga sinkronisasi program dengan pemerintah Kota Surakarta dan audiensi dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia yang kesekian kalinya ini bisa membuahkan hasil yang menyenangkan. Amin

Masihkah kau hanya memutuskan untuk diam dan mencaci kegelapan?

 

 

Salam Hangat,

Badan Bidang Nasional 2013-2014

Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s