Psychovision “Daily Stress”

10363568_10202164768389164_6403264394402091201_n

 

 “sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan, dan sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S Al-Insyirah: 5-6)

 

Gaya hidup masa kini menuntut seseorang untuk bekerja dan bergerak lebih cepat. Dampaknya adalah tercipta pola hidup serba instan. Selain itu, gaya hidup semacam ini menimbulkan munculnya stressor seperti tekanan, konflik, krisis, dan frustasi semakin mudah muncul.tak jarang pula akibat dari stres yang tidak dapat ditangani dengan baik ini memunculkan berbagai macam penyakit.

Gaya hidup seperti inipun menyebabkan waktu 24 jam terasa lebih pendek dari seharusnya. Lebih parahnya waktu 24 jam tersebut lebih banyak digunakan untuk diri sendiri daripada untuk bersosialisasi dengan orang lain baik keluarga, teman, maupun masyarakat lainnya. Sikap acuh tak acuh inilah yang secara tidak langsung menyebabkan terabaikannya kondisi-kondisi dilingkungan sekitar kita.

Berawal dari masalah diatas, Himapsi (Himpunan Mahasiswa Psikologi) Universitas Sebelas Maret membuat Seminar Amal Nasional bertemakan “Daily Stress”. Tema ini diambil karena dirasakan betapa buruknya dampak dari stres. Stres yang terjadi setiap hari tanpa pengelolaan yang baik akan menimbulkan banyak sekali gangguan seperti turunnya produktivitas, kondisi fisik dan psikis yang melemah, turunnya imunitas yang pada akhirnya memicu sejumlah macam penyakit.

Dalam Acara yang berjudul Psychovision ini, Himapsi mengajak seluruh lapisan masyarakat baik mahasiswa, pelajar, guru, dosen, pekerja, dan masyarakat pada umumnya untuk mengenal lebih jauh mengenai stres. Tidak hanya itu, dalam seminar ini juga peserta dapat mendonasikan sebagian rezekinya untuk orang-orang yang membutuhkan. Lembaga dan yayasan yang menerima donasi tersebutpun cukup jelas mau dikelola untuk apa donasi tersebut.

3 C (Childhood Cancer Care Community), Seroja, Rumah Hebat Indonesia, dan Garkitin merupakan beberapa lembaga dan yayasan yang ada dalam acara seminar ini. Tidak hanya menerima donasi dari peserta saja, lembaga dan yayasan inipun menunjukkan pertunjukkan yang dilakukan oleh orang-orang yang akan menerima donasi tersebut seperti pantomim, musik, video, dll.

Acara yang diselenggarakan di Paragon Convention Center ini juga menghadirkan pembicara-pembicara tingkat nasional. Mereka akan membicarakan stres dan cara menghadapinya dari sudut pandang keilmuwan, agama, dan pengalaman mereka. Pembicara-pembicaranya ini adalah Tika bisono (Psikolog), Burhan Sodhiq (Ustadz), dan Marshanda (public Figure dann 1# Motivatrist di Indonesia).

Tika Bisono yang merupakan seorang psikolog menjelaskan mengenai stres melalui sudut pandang keilmuwan psikologi. Beliau mengangkat topik “distress and eustress” sebagai bahan kajian dan diskusi. Dalam sudut pandang beliau sebagai seorang psikolog, beliau melihat stres sebagai gejala yang dapat mengancam dan merusak diri kita. Selain itu stres juga lebih cepat menyerang orang-orang dengan kepribadian seperti pencemas, perfeksionis, petualang, dan ambisius. Stres dari orang-orang bertipe seperti ini lebih dikarenakan rasa takut dari dalam diri mereka sendiri.

Selanjutnya beliau mengemukakan bahwa stres dibagi menjadi 2, yaitu distress (stres yang merusak atau negatif) dan eustress (stress yang baik atau positif). Kajian mengenai eustress inilah yang sangat menarik bagi peserta. Karena eustress ini digadang-gadangkan sebagai cara untuk menghadapi dan mengelola stres yang muncul pada diri kita. Eustress adalah respon kognitif yang positif, yang dapat memberi rasa positif dan kendali terhadap pencapaian hasrat, dan terhadap stress yang dialami.

Lalu Ust. Burhan Sodhiq melihat stres dari sudut pandang agama Islam. Beliau menilai dunia itu adalah rumah dari masalah. Jadi tidak dapat dipungkiri selama manusia hidup didunia ini, manusia tidak akan pernah lepas dari berbagai macam masalah. Akan tetapi masalah-masalah ini jika tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi stressor bagi manusia itu sendiri.

Untuk menghadapi stress dari sudut pandang agama maka cara yang dilakukan adalah dengan bersabar, bersyukur, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Lalu kita juga harus bisa mengendalikan pikiran kita karena didalam pikiran itulah merupakan pusat kebaikan dan pusat keburukan. Jadi jika pikiran itu baik maka tingkah laku kita juga akan baik, begitu juga sebaiknya.

Lalu pembicara terakhir yang tampil setelah ISHOMA adalah marshanda. Beliau merupakan seorang artis, publik figur, penyanyi, dan 1# Motivatris di Indonesia. Berbagai pengalaman-pengalaman buruk dimasa kecil seperti bullying, perceraian orang tua, perbedaan pendapat dengan sosok Ibu, tekanan media, dan lain sebagainya membuat ia menjadi sosok yang dewasa dan cepat belajar. Dari pengalaman itu jugalah yang membuat ia menjadi terinspirasi untuk memotivasi orang-orang untuk dapat bangkit dari keterpurukan.

Walaupun marshanda tidak terlalu menguasai psikologi dan agama, namun ia membahas manajemen stres melalui pengalaman pribadinya itu. Dari usaha-usahanya untuk menghadapi stres ditemukanlah formulasi “ADER” yang merupakan singkatan dari Accept, Detox, and Reborn. Untuk mengahadapi dan memanajemen stres awalnya kita harus menerima berbagai macam stressor yang masuk kedalam diri kita. Lalu dikelola dan diperbaiki menjadi “obat” yang malah akan membantu menyembuhkan diri kita. Lalu setelah itu kita dapat menjadi sesosok yang baru jika telah melewati berbagai pengalaman tersebut.

Usaha-usaha real yang beliau lakukan selama masa Detoxing ini adalah menulis catatan harian yang berisi hal yang paling disyukuri hari ini. Catatan tersebut ditulis setiap malam menjelang tidur. Hal ini dimaksudkan untuk selalu bersyukur dan menerima hal-hal yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada dirinya.

Begitulah cara 3 tokoh yang membahas dan melihat stres dari 3 sudut pandang tersebut. Penjelasan-penjelasan mereka itu diharapkan membantu peserta yang hadir dalam mengelola stres mereka. Sehingga permasalahan-permasahalan yang datang seiring dengan hadirnya stres dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan.

Selain itu seminar ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa peduli, kepekaan, dan keikhlasan untuk saling menolong dan membantu terutama orang-orang yang membutuhkan. Dengan begitu terciptalah kepribadian-kepribadian yang tidak hanya pintar mengelola stres tetapi juga peduli dan ikhlas untuk berbagi dengan orang-orang disekitarnya. Hal ini sesuai dengan jargon dari acara Psychovision ini yaitu We Build, We Care, We Share.

 

Ditulis oleh

Rezky Akbar Tri Novan

Mahasiswa Psikologi UNS dan Staff BANINFOKOM ILMPI WILAYAH 3

Surakarta, 1 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s