TEORI OPERANT CONDITIONING (B.F SKINNER, 1974)

 

Dalam bukunya yang berjudul about behaviorism seorang tokoh psikologi behaviorisme, B.F. Skinner, mengemukakan bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri (Bruno, 1987).

Dalam teorinya operant conditioning (pembiasaan perilaku respon) disebutkan bahwa respon terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan terjadi akibat adanya reinforcement (penguatan). Reinforcer ini menimbulkan dan  meningkatkan respon-respon tertentu, akan tetapi tidak terjadi dengan sengaja. Jadi reinforcer ini merupakan proses alamiah yang memang tidak disusun sebelumnya.

Teorinya ini didasarkan pada penelitianya terhadap seekor tikus yang diletakkan didalam skinner box. Skinner box ini terdiri atas tombol yang bilamana ditekan akan mengeluarkan makanan. Dalam penelitiannya, mula-mula tikus akan mengeluarkan emitted behavior  yang tidak mempedulikan stimulus-stimulus tertentu. Namun, secara tidak sengaja si tikus menginjak pengungkit yang akan mengeluarkan makanan. Dalam percobaannya yang dilakukan secara terus-menerus inilah didapatkan hasil bahwa tikus akan semakin cepat menginjak pengungkit untuk mendapatkan makanan dibanding waktu pertama kalinya.

Makanan disinilah yang merupakan bentuk reinforcement, sedangkan menginjak pengungkit merupakan tingkah laku operant yang akan terus meningkat seiring terjadinya reinforcement tersebut. Namun, jika tidak terdapat reinforcement, maka tingkah laku akan menurun bahkan menghilang. Untuk menjelaskan proses keduanya maka bisa dilihat dari law of effect.

Terdapat 2 law of effect yang mempengaruhi teori operant conditioning, yakni: law of operant conditioning dan law of operant extinction. Law of operant conditioning terjadi jika munculnya tingkah laku operant diikuti dengan reinforcment, ketika itu terjadi terus menerus maka akan terjadi penguatan terhadap tingkah laku itu.

Law of operant extinction dapat terjadi jika tingkah laku yang telah diperkuat sebelumnya tidak lagi diiringi oleh stimulus penguat (reinforcment) sehingga tingkah laku tersebut akan menurun intensitasnya bahkan menghilang.

Sedangkan dalam pemberian reinforcment itu sendiri terdiri dari 2 bentuk, yaitu positive reinforcment dan negative reinforcment. Positive reinforcement terjadi ketika perilaku diikuti penambahan stimulus yang menghasilkan penguatan perilaku dengan memberikan kenyamanan pada sipelaku. Contohnya adalah seperti yang terjadi pada penelitian B.F Skinner kepada tikus yang berada dalam skinner box

Lalu reinforcement negative terjadi ketika perilaku diikuti oleh pengurangan stimulus yang menghasilkan penguatan perilaku dengan mengurangi ketidaknyamanan. Contohnya adalah anak yang mempunyai beban rumah tangga seperti menyapu, mengepel dan mencuci, akan tetapi ia malas sekali belajar. Lalu suatu saat ia rajin belajar, ketika itu ibu dari si anak mengurangi beban si anak untuk menyapu, mengepel dan mencuci, sehingga akan terjadi penguatan untuk selalu rajin belajar.

Reinforcement positive vs reward dan reinforcement negative vs punishment

Telah disinggung sebelumnya mengenai reinforcement positive dan negative. Lalu apa beda keduanya dengan punishment dan reward?

Secara simple dijelaskan bahwa punishment merupakan stimulus yang diberikan ketika perilaku terjadi untuk mengurangi perilaku tersebut. Contohnya adalah ketika siswa terlambat datang sekolah, lalu ia dijemur ataupun disuruh berlari mengelilingi lapangan.

Sedangkan reward adalah pemberian hadiah ketika terjadi perilaku yang diharapkan dengan tujuan terjadi penguatan perilaku. Pemberian stimulus ini akan mendatangkan efek rewarding. Contohnya jika anak membersihkan rumah maka ia akan diberikan sejumlah uang.

Namun antara rewarding dan punishment pada dasarnya tidak akan memberikan dampak yang signifikan bagi si pelaku. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi effektif atau tidaknya sebuah puunishment maupun rewarding.

  1. Immediacy (kesegeraan)

 

Sebuah pemberian punishment maupun reward dapat effektif jika pemberian itu dilakukan dengan segera. Artinya tidak terjadi penundaan ketika perilaku tersebut muncul.

 

  1. Contigency (konsistenan)

 

Jika pemberian punishment maupun reward tidak dilakukan secara terus menerus atau tidak konsisten maka yang terjadi adalah tidak terjadi internalisasi nilai-nilai dari pemberian punishment dan reward tersebut.

 

  1. Establishing operations (kejadian yang merubah nilai)

 

Ketika nilai-nilai telah masuk melalui pemberian punishment maupun reward, kadangkala terjadi sebuah kejadian dimana nilai-nilai tersebut dapat berubah. Contoh jika ia belajar bahwa tidak boleh berkata kasar, namun ketika ia berada diluar lingkungannya ia melihat banyak orang yang berkata kasar, maka akan terjadi perubahan nilai-nilai yang telah ditanamkan sebelumnya melalui proses punishment dan rewarding ini.

 

  1. Individual differences (perbedaan individual)

 

Pemberian punishment dan rewardin juga harus melihat perbedaan individu seperti usia, budaya, agama, status sosial, dll. Ketika seorang anak menunjukan perilaku baik maka ia diberikan reward sebuah permen. Namun  jika hal ini dilakukan kepada orang dewasa maka belum tentu langkah (pemberian reward) ini effektif terhadap siorang dewasa ini.

 

Kekurangan dan kelemahan dari teori Operant conditioning

Teori-teori operant conditioning maupun operant classical seringkali dipertanyakan secara prinsip penggunaannya. Banyak ilmuwan melihat bahwa teori-teori belajar semacam ini secara prinsip bersifat behavioristik yaitu hnay melihan dari timbulnya perilaku jasmaniah yang dapat diukur. Sedangkan pada kenyataannya perilaku  jasmaniah ini hanya merupakan sebagian dari gejala-gejalanya,bukan mempresentasikan keseluruhan perilaku dari seseorang.

Selain itu teori ini juga dianggap bersifat otomatis-mekanis sehingga perilaku yang terjadi terkesan seperti kinerja mesin dan robot yang memang dapat diatur sebelumnya. Akan tetapi teori-teori belajar dari B.F Skinner, Ivan Pavlov, maupun Thorndike telah banyak dipercaya oleh para ahli dalam hal pendidikan seperti yang terjadi di Indonesia saat ini.

Diantara kelemahan-kelemahan dari teori B.F skinner adalah

  1. Proses belajar itu dapat diamati secara langsung, padahal proses belajar merupakan proses mental yang tidak dapat dilihat dan diamati dari luarnya saja. Perilaku luarnya hanya menggambarkan sedikit dari proses mental tersebut yang terjadi didalamnya. Ibarat sebuah gunung es.
  2. Proses belajar bersifat otomatis-mekanis. Kesan-kesan terhadap proses belajar ibarat sebuah mesin dan robot. Hal ini jelas menghilangkan sifat kemanusiaan manusia. Seperti yang telah diketahui sebelumnya manusia selalu mempunyai self-direction, self control, ideal self, dan lain-lain. Sehingga tidak mungkin menjelaskan perilaku manusia hanya seperti robot/
  3. Proses belajar manusia dalam teori ini cenderung disamakan dengan perilaku hewan. Pada dasarnya banyak sekali perbedaan karakter yang mencolok antara hewan dengan manusia.

 

 

Daftar Pustaka

 

http://rudicahyo.com/psikologi-artikel/teori-belajar-operant-conditioning-skinner/

syah, Muhibbin.2002. psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Atkinson, Rita.L. 2010. Pengantar Psikologi. Tanggerang: Interaksara

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s