Teori Perkembangan Erick Erickson

Biografi Erick Erickson 

TTL : Frankfurt, 15 Juni 1902

Wafat : Harwich, 12 Mei 1994

Ayahnya adalah seorang laki-laki berkebangsaan Denmark (tidak dikenal namanya) dan tidak mau mengaku Erikson sebagai anaknya sewaktu masih dalam kandungan dan langsung meninggalkan ibunya. Ibunya bernama Karla Abrahamsen yang berkebangsaanYahudi. Saat Erikson berusia tiga tahun ibunya menikah lagi dengan seorang dokter bernama Theodore Homburger, kemudian mereka pindah ke daerah Karlsruhe di Jerman Selatan. Nama Erik Erikson dipakai pada tahun 1939 sebagai ganti Erik Homburger. Erikson menyebut dirinya sebagai ayah bagi dirinya sendiri, nama Homburger direduksi sebagai nama tengah bukan nama akhir.

Sebelum melihat lebih jauh mengenai teori dari Erik Erikson, maka kita tidak bisa melewati sketsa biografi Erik Erikson yang juga berperan/mendukung terbentuknya teori psikoanalisis. Pencarian identitas tampaknya merupakan fokus perhatian terbesar Erikson dalam kehidupan dan teorinya.

Pertama kalinya Erikson belajar sebagai “child analyst” melalui sebuah tawaran/ajakan dari Anna Freud (putri dari Sigmund Freud) di Vienna Psycholoanalytic Institute selama kurun waktu kurang lebih tahun 1927-1933. Bisa dikatakan Erikson menjadi seorang psikoanalisis karena Anna Freud. Kemudian pada tanggal 1 April 1930 Erikson menikah dengan Joan Serson, seorang sosiologi Amerika yang sedang penelitian di Eropa. Pada tahun 1933 Erikson pindah ke Denmark dan di sana ia mendirikan pusat pelatihan psikoanalisa (psychoanalytic training center). Pada tahun 1939 Erikson pindah ke Amerika Serikat dan menjadi warga Negara tersebut, selain itu secara resmi pun dia telah mengganti namanya menjadi Erik Erikson. Tidak ada yang tahu apa alasannya memilih nama tersebut.

 

 

KONSEP TEORI

3 alasan kenapa teori erikson dikatakan sangat selektif:

  • sangat representatif, dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia
  • menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan
  • menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan

 

Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian, namunlebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan.Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial.Erikson mengemukakan persepsinya bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic. Epigenetic berasal dari dua suku kata yaitu epi yang artinya “upon” atau sesuatu yang sedang berlangsung, dan genetic yang berarti “emergence” atau kemunculan

Erikson mengungkapkan

Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.

Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.

Dalam bukunya yang berjudul “Childhood and Society” tahun 1963, Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”. Erikson berdalil bahwa setiap tahap menghasilkan epigenetic.

 

Tahapan Perkembangan  Erikson membagi tahapan perkembangan psikososial menjadi delapan tahapan

Tahap Perkiraan Usia Krisis Psikososial
I Lahir – 18 bulan Percaya vs Tidak Percaya
II 18 bulan – 3 tahun Kemandirian vs Keraguan
III 3 tahun – 6 tahun Inisiatif vs Rasa Bersalah
IV 6 tahun – 12 tahun Ketekunan vs Rasa Rendah Diri
V 12 tahun – 18 tahun Identitas vs Kekacauan Identitas
VI Dewasa Awal ( 18 – 40 tahun) Keintiman vs Isolasi
VII Dewasa Pertengahan (40 – 65 th) Generativitas vs Stagnasi
VIII Dewasa Akhir (>65 tahun) Integritas vs Keputusasaan

 

 

Masa Bayi

Tahapan psikososial pertama adalah masa bayi, periode yang kurang lebih setahun pertama kehidupan dan paralel dengan fase oral dalam perkembangan menurut Freud. Tidak seperti perkembangan yang  menurut Freud yang memperhatikan hanya terbatas pada mulut, menurut Erikson masa bayi adalah masa pembentukan, dimana bayi ‘menerima’ bukan hanya melalui mulut, namun juga melalui organ indra lain. Masa bayi ditandai oleh gaya psikososial sensori – oral, krisis psikososial rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya dasar, dan kekuatan dasar harapan.

Gaya Sensori – Oral

Pandangan luas Erikson terhadap bayi diungkapkan dalam istilah sensori – oral, frasa yang mencakup gaya psikoseksual utama dalam penyesuaian diri. Tahapan sensori – oral ditandai oleh dua gaya pembentukan, yaitu memperoleh dan menerima apa yang diberikan. Bayi dapat memperoleh walaupun tanpa keberadaan orang lain. Akan tetapi, gaya pembentukan kedua menyiratkan konteks sosial. Pelatihan awal dalam hubungan interpersonal membantu mereka belajar untuk menjadi pemberi nantinya. Untuk membuat orang lain memberi, mereka harus belajar untuk mempercayai atau tidak mempercayai orang lain. Hal inilah yang membangun krisis psikososial dasar di masa kanak – kanak, yang dinamai rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya dasar.

Rasa Percaya Dasar versus Rasa Tidak Percaya Dasar

Apabila pola menerima segala sesuatu cocok dengan kulturnya menerima segala sesuatu, maka bayi belajar rasa percaya dasar. Sebaliknya, mereka belajar rasa tidak percaya dasar bila mereka tidak menemui kecocokan antara kebutuhan sensori – oral mereka dengan lingkungan mereka. Rasa percaya dasar biasanya sintonik, sementara rasa tidak percaya dasar umumnya distonik. Walaupun demikian, bayi harus mengembangkan kedua sikap tersebut. Rasa percaya terlalu besar membuat mereka mudah ditipu dan rapuh terhadap keanehan dunia, sedangkan sedikit kepercayaan mengakibatkan mudah frustasi, amarah, sifat permusuhan, sikap sinis, atau depresi.

Erikson percaya bahwa rasio rasa percaya dan rasa tidak percaya merupakan hal kritis bagi kemampuan manusia untuk beradaptasi. Ia berkata pada Richard Evans bahwa ‘keika kita berhadapan dengan sebuah situasi, kita harus bisa membedakan seberapa besar kita harus mempercayai dan seberapa besar kita tidak boleh mempercayai, dan saya menggunakan kata tidak percaya disini dalam arti kesiapan akan bahaya dan antisipasi akan rasa tidak nyaman.

Harapan: Kekuatan Dasar Masa Bayi

Harapan muncul dari konflik antara rasa percaya dan rasa tidak percaya dasar. Tanpa hubungan antitesis antara rasa percaya dan rasa tidak percaya, manusia tidak bisa mengembangkan harapan. Apabila bayi tidak mengembangkan harapan yang cukup pada masa ini, maka mereka akan menampilkan antitesis atau lawan dari harapan, yaitu penarikan diri, patologi inti di masa bayi. Dengan hanya sedikit harapan, mereka akan menarik diri dari dunia luar dan memulai perjalanan menuju gangguan psikologis yang serius.

 

Masa Kanak – kanak Awal

Tahapan psikososial kedua adalah kanak – kanak awal, periode yang paralel dengan tahap anal Freud dan meliputi kurang lebih tahun kedua dan tahun ketiga dalam kehidupan. Freud yang menganggap bahwa anus sebagai zona yang paling memberikan kepuasan seksual (erogenous) selama periode ini dan selama fase anal – sadistis awal, anak – anak mendapat kesenangan dengan menghancurkan atau menghilngkan objek dan nantinya mereka mendapat kesenangan dengan buang air besar. Tetapi Erikson mengambil pandangan yang lebih luas, Erikson beranggapan bahwa anak – anak mendapat kesenangan bukan hanya karena menguasai otot sirkular yang dapat berkontraksi (sphincter), namun juga menguasai fungsi tubuh lainnya, seperti buang air kecil, jalan, memegang, dan seterusnya. Selain itu, anak – anak mengembangkan rasa kendali akan lingkungan interpersonal mereka, juga pengukuran dari kendali. Akan tetapi, masa kanak – kanak awal juga merupakan masa ragu dan malu karena mereka belajar bahwa banyak usaha mereka akan otonomi tidak berakhir dengan sukses.

Gaya Otot – Uretral – Anal

Selama tahun kedua kehidupan, penyesuaian psikoseksual utama anak adalah gaya otot – uretral – anal. Pada masa ini anak belajar untuk mengendalikan tubuh mereka, khususnya berkaitan dengan kebersihan dan pergerakan. Misalnya waktu untuk pelatihan menggunakan toilet (toilet training), belajar jalan, berlari, memeluk orang tua, berpegangan pada mainan, atau objek lain. Dengan aktivitas – aktivitas ini, anak – anak menunjukkan kecenderungan menjadi keras kepala, melakukan sesuatu dengan kehendak mereka sendiri.

Kanak – kanak awal adalah masa kontradiksi, masa pemberontakan yang bersikeras dan kepatuhan yang lembut, masa pengungkapan diri yang impulsif dan penyimpangan yang kompulsif, masa kerja sama yang penuh cinta dan penolakan yang penuh kebencian. Desakan yang bersikeras dan dorongan yang berlawanan ini memicu krisis psikososial utama masa kanak – kanak awal, yaitu otonomi versus rasa malu dan ragu.

Otonomi versus Rasa Malu dan Ragu

Bila masa kanak – kanak adalah masa untuk pengungkapan diri dan otonomi, maka masa ini juga merupakan masa untuk rasa malu dan ragu. Sebagaimana anak – anak dengan keras kepala mengungkapkan gaya otot – uretral – anal mereka, mereka cenderung menemui kultur yang berusaha untuk menghambat pengungkapan diri mereka. Konflik antara rasa malu dan ragu ini menjadi krisis psikososial utama di masa kanak – kanak awal. Idealnya, anak – anak seharusnya mengembangkan rasio yang pantas antara otonomi dengan rasa malu dan ragu, dan rasio tersebut harus lebih sedikit condong pada otonomi. Anak – anak yang terlalu sedikit mengembangkan otonomi akan mendapatkan kesulitan di tahapan – tahapan yang akan datang dan kekurangan dasar akan tahapan – tahapan selanjutnya.

Menurut diagram epigenetik Erikson, otonomi merupakan kualitas sintonik dan tumbuh dari rasa percaya dasar, dan bila rasa percaya dasar telah dicapai pada masa bayi, maka anak – anak belajar untuk memiliki keyakinan terhadap diri mereka sendiri, dan dunia tetap utuh selama mereka mengalami krisis sosial yang ringan. Sebaliknya, bila anak – anak tidak mengembangkan rasa percaya dasar selama masa bayi, maka usaha mereka untuk mengendalikan organ anal, uretral, dan ototnya selama masa kanak – kanak awal akan diakhiri dengan rasa malu dan ragu yang kemudian membangun krisis psikososial yang serius. Rasa malu adalah perasaan sadar diri bahwa ia dipandangi dan dipertontonkan, misalnya orang tua mungkin mempermalukan anak mereka yang mengotori celana dan mengacaukan makanan mereka sehingga rasa malu muncul dari anak tersebut. Sedangkan rasa ragu adalah perasaan tidak pasti, perasaan bahwa sesuatu tetap disembunyikan dan tidak bisa terlihat, misalnya anak mungkin menanamkan rasa ragu akan kemampuan mereka untuk memenuhi standar orang tuanya. Rasa malu dan ragu adalah kualitas distonik, dan keduanya tumbuh dari rasa tidak percaya dasar yang dicapai ketika masa bayi.

Keinginan: Kekuatan Dasar Kanak – kanak Awal

Kekuatan dasar akan keinginan dan kemauan berkembang dari resolusi krisis otonomi versus rasa malu dan ragu. Langkah ini adalah awal dari kehendak bebas dan kekuatan keinginan, namun hanya awal. Kekuatan keinginan yang matang dan ukuran signifikan kehendak bebas tertahan hingga tahapan perkembangan selanjutnya, namun mereka berasal dari keinginan awal yang timbul pada masa kanak – kanak awal. Konflik dasar selama kanak – kanak awal adalah antara perjuangan anak akan otonomi dan usaha orang tua untuk mengendalikan anak dengan menggunakan rasa malu dan ragu.

Anak – anak hanya akan berkembang bila lingkungan mereka membiarkan mereka memiliki pengungkapan diri dalam kendali otot sphincter dan otot – otot lainnya. Ketika pengalaman mereka mengakibatkan rasa malu dan ragu yang terlalu besar, anak – anak tidak mampu mengembangkan kekuatan dasar yang penting ini. Ketidakmampuan ini akan diungkapkan sebagai dorongan, patologi inti masa kanak – kanak awal. Terlalu kecilnya keinginan dan terlalu besarnya dorongan akan terbawa sampai usia bermain sebagai kurangnya tujuan dan hingga usia sekolah sebagai kurangnya rasa percaya diri.

 

Usia Sekolah

Menurut erikson, konsep usia sekolah merupakan perkembangan anak mulai dari usia 6 tahun hingga sekitar 12 atau 13 tahun dan cocok dengan tahun-tahun masa laten dalam teori Freud. Pada tahap ini, dunia sosial anak tidak hanya identik dengan pendidikan informal keluarga melainkan meluas pada kelompok teman, guru, bermain, dan masyarakat. Pada anak usia sekolah ditemukan adanya rasa keingintahuan kuat dan terikat dengan usaha dasar akan kompetensi. Biasanya anak berkembang dalam hal menulis, berburu dan memancing serta mengembangkan segala hal yang berkaitan dengan ketrampilan. Pada tahap anak usia sekolah, terdiri beberapa periode seperti:

Latensi

Usia sekolah merupakan periode latensi psikoseksual. Sepemahaman dengan freud, erikson menyatakan bahwa latensi penting. Karena kemungkinan anak mengalihkan energi mereka untuk mempelajari teknologi kultur dan strategi akan interaksi sosial mereka. Anak mulai membentuk gambaran diri mereka sebagai orang yang berkompeten dan tidak kompeten. Gambaran inilah yang berasal dari ego identitas.

Industri versus Rasa Rendah Diri

Pada tahap ini telah ditemukan krisis psikososial yaitu industri versus rasa rendah diri. Dimana, industri merupakan kualitas sintonik yang berarti kesungguhan dan kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu. Jika pekerjaan yang mereka lakukan tidak cukup baik untuk mencapai sasaran maka anak akan mengalami rasa rendah diri. Rendah diri merupakan kualitas distonik dalam usia sekolah. Erikson optimis, bahwa manusia mampu mengatasi krisis dengan sukses ditahapan apapun walaupun tidak seluruhnya sukses ditahap sebelumnya. Rasa rendah diri tidak harus di hindari, karena Alfred Adler menyatakan bahwa rasa rendah diri dapat bekerja sebagai pendorong untuk melakukan yang terbaik.

Kompetensi: Kekuatan Dasar Usia Sekolah

Anak usia sekolah mengembangkan kekuatan dasar kompentensi dengan rasa percaya diri untuk menggunakan kemampuan fisik dan kognitif dalam menyelesaikan masalahnya.

Jika pertentangan antara industri dan rendah diri tidak condoh pada salahsatunya maka anak akan cenderung menyerah dan mundur ke tahap sebelumnya. Kemunduran ini disebut inersia, antitetis dari kompetensi, dan patologi inti usia sekolah.

 

Remaja 

Remaja merupakan periode pubertas, dimana berlangsung hingga dewasa muda. Pada tahan ini, anak mengalami perkembangan yang paling krusial karena anak harus mendapat identitas ego yang tetap. Krisis antara identitas dan kebingungan identitas yang terjadi menimbulkan kesetiaan, kekuatan dasar masa remaja.

Erikson, melihat masa remaja sebagai latensi sosial. Remaja diperbolehkan untuk mengalami berbagai cara dan mencoba peran-peran serta keyakinan baru sambil mencari ego identitas. Jadi, remaja adalah fase adaptif dari perkembangan kepribadian atau periode coba-coba.

Pubertas

Merupakan kematangan genital yang memainkan peranan cukup kecil dalam tahap remaja. Tapi, pubertas adalah hal penting secara psikologis karena memicu pengharapan akan peran yang secara esensial dan dapat dipenuhi hanya dengan perjuangan untuk mencapai ego identitas.

Identitas versus Kebingungan Identitas

Dalam perkembangan pubertas, remaja peran baru untuk membantu menemukan identitas seksual, ideologis, dan pekerjaan mereka. Pencarian identitas dikuatkan dalam krisis yang mereka coba mengatasi dengan konflik psikososial identitas versus kebingungan identitas.

Erikson menyatakan bahwa identitas timbul dari dua sumber :

Penegasan atau penyangkalan remaja akan identifikasi masa kanak-kanak

Konteks sosial serta sejarah mereka yang mendukung konformitas pada standar tertentu.

Identitas sendiri dapat dilihat secara positif dan negatif.

Sedangkan kebingungan identitas adalah gejala dari masalah yang mencakup gambaran diri yang terpisah, ketidakmampuan untuk mencapai keintiman, rasa terdesak oleh waktu, kurangnya konsentrasi pad tugas yang harus dilakukan, dan penolakan keluarga atau kmunitas. Jika kita mengembangkan rasio yang baik akan identitas dan kebingungan identitas maka kita akan memiliki :

Keyakinan dalam arti prinsip ideologis.

Kemampuan untuk memutuskan secara bebas bagaimana seharusnya bertingkhlaku.

Rasa percaya dari kelompok teman dan orang dewasa yang memberikan saran mengenai sasaran serta aspirasi.

Rasa percaya diri terhadap plihan pekerjaan.

Kesetiaan : Kekuatan Dasar Remaja

Kesetiaan merupakan kekuatan dasar yang timbul saat usia remaja. Dimana, rasa percaya memang dipelajari saat bayi oleh karena itu menjadi dasar kekukatan usia remaja. Sehingga remaja tidak membutuhkan bimbingan orangtua namun butuh adanya rasa percaya diri dalam ideologi agama, politik, dan sosial.

Pasangan patologis kesetiaan adalah penyangkalan peran, hal ini yang menghalangi remaja untuk mempersatukan beragam gambaran diri dan nilai menjadi identitas yang berfungsi. Penyangkalan peran berwujud kurangnya kepercayaan diri. Kurangnya kepercayaan merupakan kurangnya keyakinan pada diri sendiri yang diungkapkan dengan rasa malu dan ragu untuk mengekspresikan diri sendiri. Penyimpangan yang juga bisa sebut sebagai kurangnya kepercayaan diri merupakan tindakan memberontak melawan penguasa. Penyimpangan dapat berupa remaja yang keras kepala. Menurut Erikson, sejumlah penyangkalan bukan hanya dibutuhkan untuk mengembangkan identitas pribadi remaja tapi juga memberikan gagasan baru dan vitalitas baru ke dalam struktur sosial.

 

Dewasa muda

Masa perkembangan sekitar usia 19 sampai 30 tahun, tidak dibatasi waktu tapi dimulai dengan adanya keintiman di awal tahapan dan generativtas diakhir. Dewasa muda harus mengembangkan genitalitas yang matang, mengalami konflik antara keintiman dan ketersaingan, serta memperoleh kekuatan dasar cinta.

Genitalitas

Genitalitas sejati dapat berkembang hanya selama dewasa muda pada saat dibedakan antara rasa percaya, kepuasan seksual yang stabil dengan seseorang yang dicintai.

Keintiman versus Ketersaingan

Keintiman adalah kemampuan untuk meleburkan identitas seseorang dengan orang lain tanpa ketakutan untuk kehilangan identias tersebut. Hal ini dapat dicapai apabila seseorang sudah membentuk ego yang stabil. Perasaan tergila-gila yang biasa kta temui pada remaja muda bukanlah keintiman yang sebenarnya karena dengan putus asa mencari keintiman melalui hubungan seksual yang tidak bermakna. Sebaliknya, keintiman yang matang, kemampuan atau kemauan untuk berbagi rasa percaya timbal balik.

Lawan dari keintiman adalah ketersaingan, ketidakmampuan untuk mengambil kesempatan dengan identitas seseorang dengan berbagi keintiman saja. Ketersaingan dibutuhkan sebelum seseorang memperoleh cinta yang matang. Bahaya yang terjadi jika kebersamaan yang berlebihan akan mengakibatkan hilangnya ego identitas seseorang, yang lebih parah jika ketersaingan yang berlebihan, keintiman yang terlalu kecil, dan kekurangan kekuatan dasar cinta.

Cinta : Kekuatan Dasar Dewasa Muda

Cinta menjadi kekuatan dasar dewasa muda yang muncul dari krisis keintiman versus ketersaingan. Erikson sendiri mendefinisikan cinta sebagai pengabdian matang yang mengatasi segala perbedaan antara pria dan wanita. Cinta yang matang adalah komitmen, hasrat seksual, kerjasama, persaingan, dan pertemanan.

Lawan dari cinta, eksklusivitas yang menjadi inti patologi pada dewasa muda. Patologi yang mampu menghambat kemampuan seseorang dalam bekerja sama, bersaing atau berkompromi yang mendasari cinta dan keintiman.

 

Dewasa

Tahap ke tujuh dalam teori erikson adalah masa dewasa. Dimana, manusia mulai mengambil bagian dalam masyarakat dan menerima tanggung jawab dari apapun yang diberikan masyarakat. Mengahabiskan waktu dari usia 31 tahun sampai 60 tahun dan ditandai dengan gaya psikoseksual prokreativitas, krisis psikososial generativitas versus stagnasi, dan kekuatan dasar rasa peduli.

Prokreativitas

Prokreativita tidak sekedar mengacu pada kontak genital dengan pasangan intim namun juga mencakup tanggung jawab untuk mengasuh keturunan yang merupakan hasil kontak seksual. Prokreasi baiknya timbul pada keintiman yang matang dan cinta stabil karena dewasa yang matang menuntut lebih dari prokreasi keturunan. Hal ini juga mencakup merawat anak-anak sendiri dan anak orang lain.

Generativitas versus Stagnasi

Erikson mendifinisikan generativitas sebagai generasi akan keberadaab produk baru dan gagasan baru. Generativitas tumbuh dari kualitas sintonik lainya seperti keintiman dan identitas. Adanya kesatuan ego mengakibatkan perluasan berangsur-angsur akan minat. Untuk dewasa yang sudah matang, dorongan memberi petunjuk kultur bukan semata kebutuhan egois namun merupakan dorongan evolusioner untuk berkontribusi pada generasi yang sukses dan untuk memastikan kesinambungan masyarakat manusia juga.

Rasa Peduli : Kekuatan Dasar Dewasa

Rasa peduli menurut Erikson adalah komitmen meluas untuk merawat seseorang, produk, dan gagasan seseorang yang harus dipedulikan. Inilah menjadi kekuatan dasar dewasa. Rasa peduli bukanlah tugas atau kewajiban namun dorongan alamiah yang muncul dari konflik antara generativitas dan stagnasi atau keterpukauan diri.

Lawan dari rasa peduli adalah penolakan. Dimana, adanya ketidakinginan untuk merawat orang atau kelompok tertentu (Erikson,1982). Penolakan berupa keterpusatan diri, provinsialisme, atau pseudospesiasi yaitu keyakinan bahwa kelompok manusia lain lebih rendah dari kelompokya sendiri.

Usia Lanjut        

Tahap perkembangan terakhir dari teori erikson adalah usia lanjut. Periode usia lanjut mulai 60 tahun sampai akhir kehidupan. Bukan berarti usia lanjut tidak bisa lagi menghasilkan generative. Secara prokreasi, untuk menghasilkan keturunan memang tidak bisa namun tetap bisa produktif dan kreatif dalam berbagai cara. Mereka dapat menjadi nenek dan kakek bagi cucunya dan merawat cucunya. Gaya psikoseksual usia lanjut adalah sensualitas tergeneralisasi, krisi psikososial intregitas versus keputusan, dan kekuatan dasar kebijaksanaan.

Usia lanjut bukan berarti seseorang sudah tidak lagi mengasilkan (generative).Prokreasi atau dalam arti sempit menghasilkan anak,namun orang dalam usia lanjut tetap bisa produktif dan kreatif dalam banyak cara lain.Misalkan mereka dapat merawat cucu cucu atau anggota keluarga yang lebih muda.Usia lanjut menjadi usia kesenangan,keriangan,dan bertanya tanya,namun juga masa akan kepikunan,depresi,dan keputusasaan.Gaya psikoseksual usia lanjut ada 3 yaitu :

  • Sensualitas tergeneralisasi

Seseorang dapat berkesimpulan bahwa sensualitas tergeneralisasi memiliki arti mendapat kesenangan dalam ragam sensasi fisik yang berbeda-pengelihatan,suara,bau,berpelukan,dan mungkin rangsangan genital.Akan tetapi,sikap sensualitas tergeneralitas bergantung pada kemampuan seseorang untuk mempertahankan integritas dalam wajah keputusasaan

  • Integritas versus keputusasaan

Integritas berarti perasaan akan keutuhan dan koherensi,kemampuan untuk mempertahankan rasa “kesayaan” serta tidak kehilangan kekuatan fisik dan intelektual.Integritas ego kadang sulit diperthankan ketika seseorang kehilangan aspek familiar dalam keberadaan mereka.Keputusasaan secara harfiah berarti tanpa haarapan.Kualitas distonik terakhir dalam siklus kehidupan terletak di sudut beriawanan dengan harapan.Seketika harapan itu hilang maka keputusasaan mengikuti dan hidup tak lagi bermakna

  • Kebijaksanaan : Kekuatan Dasar Usia Lanjut

Manusia dengan kepedulian terpisah bukan berarti kurang memiliki kepedulian,melainkan mereka menunjukan minat aktif,namun tidak berhasrat.Dengan kebijaksanaan yang matang,mereka mempertahankan integritas mereka walaupun kemampuan fisik dan mentalnya menurun.Di usia lanjut manusia memikirkan persoalan pokok,termasuk ketidakberadaan.

Rangkuman Siklus Hidup

Tahapan Gaya Psikoseksual Gaya Psikososial Kekuatan Dasar Patologi Inti Hubungan Signifikasi
Masa bayi Pernapasan-oral:sensori,kinestetik Rasa percaya dasar vs rasa tidak percaya dasar Harapan Penarikan diri Seseorang yang keibuan
Kanak kanak awal Otot,uretral,

anal

Otonomi vs rasa malu,ragu kemauan Paksaan Orang tua
Usia bermain Lokomotor genital kekanak kanakan Inisiatif vs rasa bersalah Tujuan Keterhambatan Keluarga
Usia sekolah Latensi Industri vs kerendahan diri Kompetensi Inersi Lingkungan tempat tinggal,sekolah
Remaja Pubertas Identitas vs kebingunan identitas Kesetiaan Penyangkalan peran Kelompok teman
Dewasa Muda Generalitas Keintiman vs Keterasingan Cinta Eksklusvitas Pasangan seksual
Dewasa Prokreativitas Generativitas vs Stagnasi Kepedulian Penolakan Pekerjaan terpisah dan berbagai rumah tangga
Usia Lanjut Generalisasi gaya sensual Integritas vs keputusasaan Kebijaksansaan Penghinaan Semua umat manusia

 

Metode Investigasi

Erikson menyatakan bahwa kepribadian adalah produk sejarah,kultur,serta biologi dan metode investigasinya yang beragam mencerminkan keyakinan ini.Erikson menggunakan metode antropologis,sejarah,sosiologis,dan klinis untuk mempelajari anak anak,remaja,dewasa dan orang lanjut usia.

Studi Antropologis

Erikson meneliti penyebab apatis di kalangan anak anak Sioux di South Dakota.Erikson mendapati bahwa apatis adalah ungkapan ketergantungan ekstrem bangsa Sioux yang telah berkembang sebagai hasil rasa percaya mereka pada program pemerintah federal yang beragam.Erikson menunjukan bahwa pelatihan di kanak kanak awal konsisten dengan nilai kultur yang kuat dan sejarah serta masyarakat membantu terbentuknya kepribadian.

Psikohistoris

Psikohistoris merupakan bidang kontroversial yang memadukan konsep psikoanalisis dengan metode sejarah.Erikson mendefinisikan psikohistoris dengan metode yang memadukan psikoanalisis dengan sejarah.Erikson menggunakan psikohistoris untuk menunjukan keyakinan utamanya bahwa setiap orang adalah hasil dari masa sejarahnya dan masa sejarah dipengaruhi oleh pemimpin luar biasa yang mengalami konflik identitas pribadi.

 

Penelitian terkait

Satu kontribusi utama Erikson adalah memperluas perkembangan kepribadian hingga dewasa. Dengan mengembangkan pernyataan perkembangan Freud hingga usia lanjut, Erikson menentang gagasan bahwa perkembangan psikologis berhenti sampai pada masa kanak-kanak. Peninggalan Erikson yang paling berpengaruh adalah teori perkembangannya dan khususnya tahapan remaja sampai usia lanjut. Ia salah satu teoritikus pertama yang menekankan periode kritis pada masa remaja dan konflik-konflik seputar pencarian seseorang akan identitas. Remaja dan dewasa muda sering bertanya: Siapa saya? Kemana saya akan pergi? Dan apa yang ingin saya lakukan sepanjang sisa hidup saya? Bagaimana mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan ini memainkan peranan penting terhadap hubungan seperti apa yang akan mereka kembangkan, siapa yang akan mereka nikahi, dan jalur karier apa yang akan mereka ikuti.

Berlawanan dengan teoritikus psikodinamika lainnya, Erikson memicu cukup banyak penelitian empiris, terutama pada remaja, dewasa muda, dan dewasa di sini, kita akan membahas penelitian akhir-akhir ini mengenai perkembangan dewasa dan pertengahan, khususnya tahapan generativitas anak.

Generativitas dan Parenting

Erikson (1982) mendefinisikan generativitas sebagai “generasi akan manusia baru sebagaimana produk dan gagasan baru”. Generativitas (hal-hal menghasilkan) secara khas tidak hanya diungkapkan dengan membesarkan dan mengasuh pertumbuhan pada anak-anak muda, tetapi juga dengan mengajar, membimbing, menciptakan, dan aktivitas pembacaan cerita yang membawa pengetahuan baru dalam keberadaan dan menyampaikan pengetahuan lama kepada generasi berikuatnya. Dan McAdams dan koleganya (McAdams, 1999; McAdams & de St. Aubin, 1992, Bauer & McAdams, 2004b) telah menjadi figur utama dalam penelitian mengenai generativitas dengan mengembangkan Skala Generativitas Loyola (Loyola Genarativity Scale – LGS) untuk mengukurnya, LGS mencakup butir-butir, seperti “Saya memiliki ketrampilan penting yang saya coba ajarkan pada orang lain” dan “Saya tidak bekerja secara sukarela untuk sebuah acara amal”. Skala ini mengukur beberapa aspek dalam generativitas, termasuk kepedulian terhadap generasi berikutnya; menciptakan dan mempertahankan objek dan hal lainnya; serta narasi seseorang, yaitu cerita atau tema subjektif yang orang dewasa ciptakan untuk menyediakan sesuatu bagi generasi berikutnya.

Menggunakan skala LGS, para peneliti telah menyelidiki dampak generativitas orang tua pada perkembangan anak. Secara teori, orang tua yang memiliki rasa generativitas yang tinggi seharusnya memberikan usaha dan rasa peduli yang besar dalam membesarkan anak sehingga menghasilkan keturunan yang baik dan bahagia. Bill Peterson menguji gagasan ini dengan studi terhadap mahasiswa dan orang tua mereka (Peterson, 2006). Peterson memprediksikan bahwa anak-anak dengan orang tua generatif tidak hanya akan lebih bahagia, namun juga memiliki sudut pandang masa depan, yaitu suatu cara untuk menjelaskan bahwa anak-anak dengan orang tua generatif akan memandang jauh ke depan dan dengan itu memandang optimis hal-hal yang akan datang. Untuk menguji prediksi ini, orang tua diminta melengkapi LGS dan mahasiswa melengkapi pengukuran kesejahteraan yang mencakup butir-butir mengenai kebahagiaan secara keseluruhan, rasa kebebasan, dan keyakinan terhadap diri sendiri. Mahasiswa juga melengkapi pengukuran pandangan masa depan di mana mereka memberikan urutan peringkat mengenai seberapa besar mereka memikirkan tentang hari berikutnya, bulan berikutnya, tahun berikutnya, dan sepuluh tahun dari sekarang.

Hasilnya mendukung pernyataan umum bahwa memiliki generativitas tinggi sangat penting untuk menjadi orang tua yang efektif. Anak-anak dengan orang tua yang sangat generatif lebih memiliki keyakinan terhadap diri mereka sendiri, memiliki rasa kebebasan yang lebih besar, dan secara keseluruhan lebih bahagia dalam hidup. Selain itu, anak-anak dengan orang tua yang sangat generatif memiliki orientasi masa depan yang lebih kuat, yang berarti mereka meluangkan waktu memikirkan masa depan mereka, dan berdasarkan pengukuran kesejahteraan secara menyeluruh, merasa cukup baik mengenainya. Ketika penemuan ini ditelaah dengan kerangka Erikson, semuanya masuk akal. Kebalikan dari generativitas adalah keterpakuan diri dan stagnasi. Apabila orang tua terlalu terpaku dan memanjakan diri sendiri, maka mereka kurang meluangkan waktu untuk memedulikan kesejahteraan anak-anak mereka. Sebaliknya, apabila orang tua sangat generatif, maka mereka peduli akan perkembangan anak dan akan melakukan segalanya untuk menyediakan lingkungan yang merangsang dan mendukung di mana di dalamnya anak akan tumbuh.

Generativitas versus Stagnasi

Seperti semua tahapan, masa dewasa terdiri dari dua konflik interaktif, yaitu generativitas dan stagnasi. Erikson secara umum menganggap stagnasi dan generativitas sebagai ujung berlawanan dari kontinum yang sama. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki generativitas tinggi akan memiliki stagnasi yang rendah dan juga sebaliknya. Akan tetapi, akhir-akhir ini, para peneliti mulai mempertanyakan seberapa berlawanannya dua aspek perkembangan masa dewasa ini dan telah melakukan eksplorasi stagnasi serta generativitas sebagai konstruk yang mandiri (Van Hiel, Mervielde, & De Fruyt, 2006). Satu alasan untuk pertukaran dari model Erikson ini, yaitu adanya kemungkinan bahwa manusia menjadi generatif dan stagnan. Situasi seperti ini mungkin terjadi ketika seseorang ingin menjadi generatif dan mengerti pentingnya menjadi generatif, namun karena apapun alasanya, tidak bisa mengatasi keterlibatan dirinya sendiri. Ia mungkin menyadari bahwa generativitas adalah tahapan selanjutnya dalam perkembangan, namun tidak bisa mencapainya.

Satu cara untuk menentukan kemandirian dari dua konstruk ini adalah dengan mengukur keduanya secara terpisah dan mengukur beberapa hal yang dihasilkan. Apabila mereka merupakan tingkat berlawanan dalam kontinum yang sama, maka kerika generativitas memprediksikan hasil secara positif, seperti kesehatan mental, stagnasi seharusnya memprediksikan kesehatan mental yang positif. Akan tetapi, bila mereka tidak selalu sesuai, maka kedua konstruk tersebut mungkin merupakan konsep terpisah. Oleh karena stagnasi tidak pernah diukur terpisah dari generativitas sebelumnya, maka para peneliti harus menciptakan pengukuran benar-benar dari awal. Berdasarkan deskripsi stagnasi yang diberikan oleh ahli-ahli lain (contohnya Bradley & Marcia, 1998), Van Hiel dan koleganya (2006) menciptakan pengukuran penilaian diri yang terdiri dari butir-butir, seperti “Saya sering menjaga jarak antara saya dengan anak-anak saya” dan “sulit untuk mengatakan apa tujuan saya”. Untuk mengukur generativitas, para peniliti menggunakan LGS yang sebelumnya dijelaskan dan digunakan di sebagian besar penelitian mengenai generativitas. Untuk melihat bahwa dua konstruk ini sesuai dalam hasil-hasil yang penting, para peniliti menyeleksi pengukuran luas akan kesehatan mental yang mencakup penilaian gejala terkait dengan beragam gangguan kepribadian, seperti ketidakmampuan mengatur emosi dan persoalan keintiman.

Hasil dari studi ini mendukung pemikiran baru bahwa stagnasi dan generativitas harus dilihat sebagai dua hal yang mandiri. Contohnya, stagnasi dan generativitas tidak memprediksikan kesehatan mental dengan cara yang sama. Mereka berada pada keadaan stagnasi yang tinggi cenderung tidak bisa mengatur emosi mereka. Akan tetapi, pada saat yang sama, generativitas tidak berkaitan dengan pengaturan emosi. Jika hanya generativitas yang diukur (dan bukan stagnasi secara terpisah), maka para peniliti ini tidak akan menemukan penemuan penting bahwa stagnasi berkaitan dengan masalah regulasi emosi. Para peneliti juga mendapati individu-individu yang berada pada keadaan stagnasi dan generativitas yang tinggi, dan kepribadian seperti ini tidak sehat dalam kesejahteraan mental dan emosi. Dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki generativitas tinggi, tetapi stagnasi rendah, orang-orang yang tinggi pada kedua dimensi kurang mampu untuk mengatur emosi mereka dan mengalami lebih banyak kesulitan keintiman. Kedua kualitas ini dianggap sebagai komponen-komponen kepribadian yang tidak adaptif.

Secara konseptual, penelitian ini tidak terlalu jauh berbeda dengan penelitian Erikson (stagnasi dan generativitas tetap tercakup). Akan tetapi, hal ini menunjukkan bahwa untuk tujuan praktis penelitian dan untuk memahami kepribadian dewasa dengan lebih utuh, stagnasi dan generativitas bisa dan kadang beroperasi secara terpisah serta mandiri dalam perkembangan dewasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s