Teori Psikoanalisis Humanistis

Gambaran Umum Teori Psikoanalisis Humanistis

Tesis dasar Erich Fromm menyatakan bahwa manusia pada masa modern ini telah terpisah dari kesatuan prasejarah mereka dengan alam dan juga dengan satu sama lain, namun mereka memiliki kekuatan akal, antisipasi dan imajinasi.

Fromm mengembangkan teori kepribadian yang menekankan pengaruh faktor sosiobiologis, sejarah, ekonomi dan struktur kelas.

Psikoanalisis humanitis berasumsi bahwa terpisahnya manusia dengan dunia alam menghasilkan perasaan kesendirian dan isolasi, kondisi yang disebut sebagai kecemasan dasar (basic anxiety)

Biografi Erich Fromm

Fromm lahir pada tanggal 23 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman.Ia merupakan anak tunggal dari orang tua Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya adalah Naphtali Fromm dan Ibunya bernama Rosa Krause Fromm. Masa kecil Fromm jauh dari kehidupan ideal, ia ingat bahwa ia memiliki orang tua neurotic. Dan bahwa ia juga mungkin seorang anak neurotik yang agak di luar batas.Saat Fromm berusia 14 tahun, pada saat pecahnya perang dunia 1. Dan semasa remaja, Fromm sangat tergerak oleh tulisan Freud dan Karl Marx.Setelah perang, Fromm menjadi seorang sosialis. Walaupun pada saat itu ia tidak mau bergabung dengan partai sosialis.

Dari tahun 1925 sampai 1930, ia mempelajari psikoanalisis, pertama di Munich lalu di Frankfurt kemudian di Berlin Psychoanalitic Institute.Pada tahun 1926, tahun yang sama dimana ia keluar dari agama ortodoks, Fromm menikahi Frieda Reichman (analisnya) yang berusia 10 tahun lebih tua darinya. Namun mereka bercerai pada tahun 1930.Pada tahun 1930, Fromm dan beberapa orang lainnya ,mendirikan South German Institute for Psychoanalitic di Frankfurt. Pada tahun 1941, Fromm bergabung dengan Asosiasi untuk Perkembangan Psikoanalisis.

Pada tahun 1944 Fromm menikahi Henry Gurland, seorang wanita yang dua tahun lebih muda darinya dan memiliki minta pada agama dan pikiran mistis, kemudian mendorong hasrat Fromm akan Budhisme zen lebih jauh. Namun istrinya meninggal pada tahun 1952.Di meksiko, ia bertemu dengan Annis Freeman yang ia nikahi pada tahun 1953.Erich Fromm meninggal pada tanggal 18 Maret 1980 setelah ulang tahun yang ke 80 di Swiss.

Asumsi Dasar Fromm

Asumsi dasar Fromm adalah bahwa kepribadian individu dapat dimengerti hanya dengan memahami sejarah manusia. “Diskusi mengenai keadaan manusia harus mendahulukan fakta bahwa kepribadian dan psikologi harus didasari oleh konsep antropologis-filosofis akan keberadaan manusia” (Fromm,1947,hlm.45)

Fromm (1947) percaya bahwa manusia, tidak seperti binatang lainnya, telah “tercerai berai” dari kesatuan prasejarahnya dengan alam. Mereka tidak memiliki insting kuat untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah, melainkan mereka telah memperoleh kemampuan bernalar—keadaan yang disebut Fromm sebagai dilema manusia.

Kemampuan bernalar manusia adalah anugerah dan juga kutukan. Di satu sisi, kemampuan ini membiarkan manusia bertahan, namun  di sisi lain, hal ini memaksa manusia berusaha untuk menyelesaikan dikotomi dasar yang tidak ada jalan keluarnya.

Fromm menyebut hal tersebut sebagai “dikotomi eksistensial”  karena hal ini berakar dari keberadaan atau eksistensi manusia. Ada 3 jenis dikotomi:

–          Dikotomi pertama dan paling fundamental adalah antara hidup dan mati

–          Dikotomi eksistansial kedua adalah bahwa manusia mampu membentuk konsep tujuan dari realisasi diri utuh, namun kita juga menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk mencapai tujuan itu

–          Dikotomi eksistensial ketiga adalah bahwa manusia pada akhirnya hanya sendiri, namun kita tetap tidak bisa menerima pengucilan atau isolasi.

Kebutuhan Manusia

Manusia, secara  biologis termasuk dalam kingdom animalia yang berarti manusia memiliki dorongan terhadap kebutuhan-kebutuhan fisiologis seperti rasa lapar, seks, dan keamanan. Namun, manusia tidak akan bisa menyelesaikan dilemanya sebagai manusia dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hewani ini. Hanya kebutuhan manusia khusus yang bisa mendorong manusia menuju ikatan kembali dengan dunia alam. Kebutuhan manusia yang khusus ini disebut sebagai kebutuhan eksistensial. Kebutuhan eksistensial ini muncul saat evolusi budaya manusia yang tumbuh dari usaha mereka untuk menemukan jawaban atas keberadaan mereka dan untuk menghindari ketidakwarasan. Individu yang sehat secara mental (waras) lebih mampu menemukan cara untuk bersatu kembali dengan dunia dengan memenuhi kebutuhan manusiawi mereka akan keterhubungan, keberakaran, kepekaan akan identitas, dan kerangka orientasi.

  1. Keterhubungan

Keterhubungan adalah dorongan untuk bersatu dengan satu orang atau lebih. Fromm menyatakan tiga cara dasar bagi manusia untuk terhubung dengan dunia, yaitu kepasrahan, kekuasaan, dan cinta. Pada dasarnya cara kepasrahan dan kekuasaan saling berhubungan. Orang yang tergolong pada tipe orang yang pasrah akan merasakan jati diri dalam hubungannya dengan kekuasaan yang dimiliki oleh siapapun tempat manusia tersebut memasrahkan dirinya (Fromm, 1981, hlm. 2). Begitupun dengan tipe orang penguasa. Mereka akan menyambut orang-orang pasrah yang menjadi pasangannya. Hubungan yang terjalin antara kepasrahan dan kekuasaan ini menghasilkan hubungan simbiosis yang memuaskan untuk keduanya. Walaupun simbiosis tersebut menyenangkan, hal tersebut dapat menghalangi pertumbuhan menuju integritas dan kesehatan psikologis. Keduanya hidup dari satu sama lain, memuaskan kebutuhan mereka akan kedekatan, namun kekurangan kekuatan dari dalam diri sendiri dan ketergantungan diri yang membutuhkan kebebasan dan kemandirian (Fromm, 1981, hlm. 2)

Menurut Fromm, cinta adlah satu-satunya jalan untuk seseorang bersatu dengan dunia dan dalam waktu yang sama mencapai individualitas dan integritas. Fromm mendefinisikan cinta sebagai kesatuan dengan seseorang atau sesuatu di luar diri dengan kondisi memegang teguh keterpisahan dan integritas diri sendiri. Cinta membiarkan seseorang untuk memuaskan kebutuhan mereka akan keterhubungan tanpa mengorbankan integritas dan kemandirian. Dalam cinta dua orang dapat menjadi satu, namun tetap terpisah. Dalam buku The Art of Loving, Fromm menyebutkan ada empat elemen dasar yang dapat ditemukan dalam cinta yang tulus yaitu rasa peduli, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan.

  1. Keunggulan

Keunggulan (transcendence) didefinisikan sebagai dorongan untuk melampaui keberadaan yang pasif dan kebetulan menuju alam penuh makna dan kebebasan. Keunggulan dapat dicari melalui pendekatan positif dan negatif. Pendekatan positif dilakukan dengan cara menciptakan. Manusia sadar akan kemampuannya menciptakan kehidupan (reproduksi) dan juga manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan kreasi dalam seni, agama, gagasan, hukum, produksi materi, dan cinta. Karena manusia memiliki daya cipta.

Melalui pendekatan negatif, manusia dapat melakukan penghancuran. Manusia dapat mengungguli hidup dengan menghancurkannya dan oleh karena itu melampaui korban-korban yang kita musnahkan. Fromm menyatakan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang menggunakan agresi keji, yaitu membunuh untuk alasan selain mempertahankan diri. Meskipun agresi keji dominan dan kuat pada beberapa individu namun hal ini tidak umum dimiliki semua manusia.

  1. Keberakaran

Keberakaran maksudnya adalah kebutuhan untuk berakar atau merasa berpulang kembali di dunia dengan kata lain manusia butuh pegangan dalam hidupnya, apakah itu orang lain atau dirinya sendiri tergantung pada bagaimana dirinya berkembang selama hidupnya. Keberakaran dapat dicari melalui cara produktif dan nonproduktif. Dengan cara produktif yaitu manusia, semakin dewasa, akan secara aktif dan kreatif berhubungan dengan dunia dan menjadi utuh atau terintegrasi setelah mereka berhenti bergantung pada orangtuanya, terutama ibunya. Dengan cara nonproduktif yaitu fiksasi. Fiksasi adalah keengganan yang kuat untuk bergerak melampaui keamanan dan perlindungan yang diberikan oleh seorang ibu. Orang-orang tipe ini memiliki keinginan kuat untuk dirawat, diasuh, dan dilindungi oleh figur ibu. Mereka adalah orang-orang yang bergantung secara eksternal dan takut serta merasa tidak aman ketika tidak lagi mendapat perlindungan sang ibu (Fromm, 1955, hlm. 40).

  1. Kepekaan akan identitas

Kepekaan akan identitas maksudnya adalah kemampuan untuk menyadari diri sendiri sebagai wujud terpisah. Ada dua cara untuk mencapai kepekaan akan identitas. Pertama, penyesuaian dengan kelompok. Maksudnya adalah identitas seseorang bergantung pada keterikatan mereka dengan orang-orang lain atau institusi, seperti bangsa, agama, pekerjaan, dan kelompok sosial. Kedua, dengan cara individualitas yaitu seseorang yang memiliki sedikit kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya dan sedikit kebutuhan untuk menyerahkan rasa dan kesadaran mereka sebagai individu. Mereka tidak perlu menyerahkan kebebasan dan individualitas mereka demi masuk dan diterima dalam masyarakat karena mereka memiliki kepekaan akan identitas yang otentik.

  1. Kerangka orientasi

Kerangka orientasi adalah kerangka arah yang digunakan manusia untuk mencari jalannya di dunia sehingga manusia bisa menemukan dan mencapai tujuannya. Kerangka orientasi membuat manusia bisa mengatur berbagai macam rangsang yang mengganggu mereka. Kerangka orientasi ini merupakan filosofi yang dijadikan cara yang konsisten dalam memandang sesuatu. Banyak orang yang terlalu menganggap benar pandangan filosofi mereka sampai-sampai mereka mau untuk melakukan apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankan kerangka orientasi mereka. Hal tersebut biasanya mengarah pada tujuan yang irasional. Oleh karena itu, untuk menjaga kewarasan pada manusia, manusia membutuhkan tujuan yang rasional yang memungkinkan manusia untuk mengungguli keberadaannya yang terasing dan mengubah arti hidup mereka ke arah yang lebih baik.

Gangguan Kepribadian

Fromm (1981) menyatakan bahwa orang-orang yang terganggu secara psikologis tidak mmapu mencintai dan gagal mencapai kesatuan dengan yang lainnya. Fromm membahas tiga masalah gangguan kepribadian yang berat yaitu:

  1. Nekrofilia

Nekrofilia berarti cinta akan kematian dan biasanya mengacu pada kelainan seksual dimana seseorang menginginkan kontak seksual dengan mayat. Tapi disini fromm mengartikan nekrofilia secara umum yaitu menunjukkan ketertarikan kepada kematian.

Seorang nekrofilia biasanya  bertingkah laku destruktif. Kepribadian nekrofilia membenci kemanusiaan, rasis, penghasut preman dan preman. Mereka suka membicarakan pertumpahan darah, penyiksaan, kehancuran, teror.

  1.  Narsisme berat

Manusia yang sehat menunjukkan bentuk narsisme yang baik yaitu ketertarikan akan tubuh sendiri. Narsisme berat menghalangi persepsi akan kenyataan sehingga segala sesuatu yang dimiliki orang dengan narsisme berat akan dinilai tinggi sementara milik orang lain dinilai tidak berharga. Orang dengan narsisme hanya terpaku dengan diri sendiri.

Keterpakuan pada diri sendiri  terkadang  menyebabkan hipokondriasis atau perhatian pada obsesif akan kesehatan seseorang. Fromm (1964) juga membahas hipokondriasis moral atau keterpakuan dengan rasa bersalah akan pelanggaran yang sebelumnya terjadi.

  1. Simbiosis inses

Simbiosis inses (incestous symbiosis)  merupakan  ketergantungan ekstrem pada sosok ibu maupun pengganti ibu. Manusia dengan simbiosi inses tidak dapat dipisahkan dengan ibunya (inangnya). Kepribadian mereka bercampur dengan orang lain (inang) yang menyebabkan jati dirinya hilang.  Orang dengan simbiosis inses akan merasa cemas dan takut apabila hubungan itu terancam. Mereka yakin bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa sosok ibu.

Sebagian individu patologis memiliki ketiga gangguan kepribadian ini.  individu-individu seperti ini membentuk  sindrom pembusukan (syndrom of decay).

 

Psikoterapi

Fromm terlatih sebagai analis freudian yang ortodoks, namun ia menjadi bosan dengan teknik analis yang standar. Kemudian ia mengembangkan sistem terapinya sendiri yang ia sebut dengan psikoanalisis humanistis.  Sistem terapi Fromm ini lebih memikirkan aspek interpersoanal dari pengalaman terapeutik. Ia percaya bahwa tujuan dari terapi adalah untuk pasien mengenali dirinya sendiri. Oleh karena itu, terapi harus membangun hubungan pribadi antar terapis dan pasien, sehingga sangat dibutuhkan komunikasi yang yang tepat.

Sebagai bagian dari usahanya untuk mencapai komunikasi aktif yang saling berbagi, Fromm meminta pasien untuk mengungkapakan mimpi-mimpi mereka. Fromm percaya bahwa mimpi memiliki arti di balik individu yang bermimpi. Ia menuturkn bahwa, terapis seharusnya tidak terlalu ilmiah dalam memaham pasien. Hanya dengan sukap keterhubungan maka seseorang dapat seutuhnya dimengerti.

 

Metode Investigasi Fromm

Fromm mengumpulkan data mengenai kepribadian manusia melalui banyak sumber termasuk psikoterapi, antropologi budaya, dan sejarah kejiwaan. Adapun kajian analisisnya antara lain: Sejarah singkat kajian antopologi budaya kehidupan sebuah desa di meksiko dan analisis psikobiografis terhadap Adolf Hitler.

  1. Karakter sosial sebuah desa di Meksiko

Mulai dari akhir tahun 1950 sampai pertengahan tahun 1960-an, Fromm dan sekeklompok psikologis, psikoanalisis, antropologis, dokter, dan ahli satistika mempelajari karakter sosial di Chiconcuac. Tim ini mewawancarai setiap orang dewasa dan sebagian anak-anak di desa pertanian terpencil dengan 162 kepala keluarga dan 800 penduduk. Sebagian besar penduduk adalah petani yang hidup dari sepetak tanah kecil yang subur.

Setelah hidup dengan diantara penduduk desa dan diterima oleh mereka, tim penelitian menggunakan berbagai macam teknik yang dirancang untuk menemukan orietasi karakter Fromm dalam masyarakat sepert itu.  Fromm percaya bahwa karakter memasarkan adalah hasil dari perniagaan modern dan cenderung ada dalam masyarakat di mana perdagangan bukan lagi sesuatu yang pribadi dan manusia menganggap diri mereka sebagai komoditas.

Walaupun demikian, peneliti menemukan bukti lain mengenai beberapa tipe karakter lain, yang paling umum adalah tipe reseptif nonproduktif. Orang-orang dengan orientasi ini cenderung untuk mengidolakan orang lain dan mengabdikan banyak energi untuk berusaha menyenangkan orang yang mereka anggap superior.

Tipe kepribadian kedua yang ditemukan adalah karakter menimbun produktif. Orang-orang dengan tipe ini  tergolong pekerja keras, produktif, mandiri. Mereka biasanya bercocok tanam di lahan mereka sendiri dan bergantung pada hasil panen dan biji yang disimpan aabila terjadi gagal panen. Menimbun bukan mengonsumsi, esensial bagi hidup mereka.

Tipe ketiga adalah tipe eksploitatif nonproduktif. Orang-orang dengan tipe ini cenderung terlibat perkelahian dengan pisau atau pistol, sedangkan wanitanya cenderung menyebar gosip. Secara umum Fromm dan Cobby (1970) melaporkan kemiripan yang luar biasa antara orientasi karakter sebuah desa di Meksiko dengan orientasi teoritis yang dinyatakan Fromm beberapa tahun sebelumnya.

  1. Studi psikohistoris mengenai hitler

Fromm meneliti dokumen sejarah untuk mendapat gambaran dari profil orang terkenal melalui sebuah teknik yang disebut psikohistoris atau psikobiografi. Fromm menganggap Hitler sebagai contoh dari manusia dengan sindrom pembusukan yang paling jelas di dunia. Hitler memiliki kombinasi nekrofilia, narsisme berat, dan simbiosis inses.  Berbeda dengan psikoanalisis lain yang hanya melihat masa kecil awal sebagai petunjuk bagi kepribadian saat dewasa, Fromm percaya bahwa dari tiap tahap perkembangan yang penting tidak ada sesuatu dalam kehidupan awal Hitler yang mendorongnya ke arah sindrom pembusukan.

Sebagai anak, Hitler dimanjakan oleh ibunya. Perlakuan ibunya itu, tersebut membesarkan rasa narsistis akan pentingnya diri sendiri.  Selama  remaja, ia mengalami konflik dengan ayahnya, yang menginginkan ia untuk lebih bertanggung jawab dan memiliki pekerjaan yang diandalkan sebagai pegawa negeri. Hitler di sisi lain, memiliki keinginan yang tidk realistisuntuk menjadi artis. Narsismenya menyalakan hasrat berapi-api akan kehebatan sebagai artis atau arsitek, namun kenyataan membawanya pada kegagalan demi kegagalan dalam bidang ini.

Kesadaran Hitler akan kegagalannya sebagai seniman semakin jelas dengan pecahnya perang dunia I. Ambisinya yang kuat, kini dapat disalurkan dengan menjadi pahlawan perang yang berjuang untuk tanah airnya. Akan tetapi, seusai perang ia mengalami kegagalan, bangsa tercintanya mengalami kekalahan dalam perang. Kegagalan inilah yang menyebabkan sifat destruktif Hitler  mencapai puncaknya dan menjadi tidak terbinasakan. Sifat Hitler yang termanifestasi adalah narsisme berat. Ia hanya tertarik pada dirinya sendiri, rencana-rencananya, dan ideologinya.

Menurut analisis Fromm, Hitler juga memiliki simbiosis inses yang tidak terlihat dari pengabdiannya pada ibunya, melainkan pada “ras” Jerman. Konsisten dengan sifat ini, ia juga seorang sadomasokis, terasing, dan kurang memiliki rasa cinta yang tulus atau rasa iba. Fromm juga menyatakan bahwa orang-orang tidak melihat Hitler sebagai seorang yang tidak manusiawi. Fromm menyimpulkan psikohistoris Hitler dengan kata-kata berikut: “Analisis mana pun yang berubah gambaran Hitler dengan menutupinya dengan kemanusiaan, hanya akan meningkatkan kecenderungan orang-orang terbutakan dari calon-calon Hitler yang baru, kecuali mereka memiliki tanduk.

 

Penelitian Terkait

1. Kerenggangan Kultur dan Kesejahteraan

Semakin seseorang menyatakan bahwa nilai-nilai mereka berbeda dengan masyarakat secara umum, semakin ia cenderung merasakan kerenggangan (Bernard, Gebauer, & Malo, 2006). Pernyatann ini mendukung teori fromm yang menyatakan bahwa, ‘Semakin seseorang merasa jauh dengan orang – orang dilingkungannya, semakin ia cenderung merasa terasingkan.’ Masyarakat modern dimana kita hidup disediakan banyak sekali kenyamanan dan keuntungan. Akan tetapi, kenyamanan tidak datang begitu saja. Kebebasan pribadi dan individualitas memang penting, namun ketika muncul paksaan paksaan yang mendorong manusia merasa renggang dari masyarakat, hal ini berbahaya bagi kesejahteraan mereka.

2. Beban Kebebasan dan Bujukan Politik

Gagasan dari Fromm yang cukup berpengaruh ialah soal politik. Dimana untuk menghindari beban kebebasan dalam keyakinan politik, khusunya dalam authoriarism dan konformitas. Authoriarism yakni bersatu pada sistem keyakinan yang lebih kuat dari pada individu tersebut. Konformitas mencakup perubahan sikap ndividu sesuai apa yang diinginkan orang lain.

Yang menarik dalam psikologi kepribadian mengenai keyakinan terhadap politik tersebut adalah bagaimana manusia mengembangkan bujukan politik tersebut dan apakah keribadian dapat memperkirakan jenis parpol yang akan dipilih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s