Belajar Filsafat Dari Sosok Buya Hamka (1908-1981)

Mengenal lebih Jauh sosok Buya Hamka

            Nama Buya Hamka terdengar agak sedikit asing terutama bagi orang-orang Indonesia yang lahir medio 80 an sampai sekarang. Namun usaha-usaha dan jasa beliau akan selalu abadi tercatat dalam catatan sejarah bangsa Indonesia sebagai Pahlawan Nasional, Ulama, Sastrawan, Novelis, Politisi, dan Tokoh Pergerakan Bangsa Indonesia.

            Sosok yang bernama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini telah banyak menyumbangkan jiwa, raga, ide, serta pemikiran-pemikirannya bagi bangsa Indonesia dan agama Islam khususnya. Salah satu  jasa beliau bagi bangsa Indonesia adalah pergerakan beliau di Sumatera Barat mempertahankan kemerdekaan NKRI yang pada saat itu baru merdeka. Dari pergerakan beliau tersebutlah yang membuat Letjen A.Nasution pada tahun 1961 akan memberikan pangkat Mayor Jenderal litetuler kepada Buya Hamka. Akan tetapi dengan pertimbangan yang matang bersama istrinya, beliau menolak pangkat tersebut.

Sedangkan sumbangsih beliau dibidang agama sangat banyak sekali, namun satu yang paling fenomenal adalah tafsir Alquran 30 Juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Hasil pemikiran beliau ini lahir ketika beliau dipenjara selama 2 tahun 4 bulan karena dituduh melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No.11 yaitu merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno.

            Yang lebih mencenangkan lagi mengenai  sosok beliau  adalah ketika mengetahui bahwa beliau tidak pernah menamatkan pendidikan sekolah dasarnya. Akan tetapi berkat keteguhan hati dan usaha yang sungguh-sungguh, beliau dapat menghasilkan banyak sekali karya dan pemikirannya yang berguna bagi Indonesia dan Agama Islam.

            Prof.Dr. Hamka merupakan sebutan akademisnya, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa beliau tidak pernah menamatkan pendidikan dasarnya. Akan tetapi dari hasil karyanya lah yang membuat beliau mendapatkan gelar kehormatan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Lalu beliau juga mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Prof. Moestopo Beragama dan ditahun 1974 beliau mendapatkan gelar yang sama dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

            Penghargaan lain untuk beliau adalah Bintang Mahaputera Madya dari Pemerintah RI pada tahun 1986. Tidak sampai disana saja penghargaan yang diberikan oleh pemerintah atas jasa-jasa beliau terhadap RI, Beliau pada tahun 2011 lalu mendapatkan penghormatan sebagai Pahlawan Nasional.

            Jika berbicara mengenai sosok Buya Hamka maka akan banyak sekali yang dapat diceritakan mengenai sosok beliau. Yang pasti sosok Buya Hamka merupakan seorang yang memiliki jasa sangat besar, tidak hanya untuk keluarga, masyarakat, Bangsa dan Negaranya, agamanya, namun juga sosok yang berjasa bagi dunia.

Pokok-pokok pemikiran Filsafat Buya Hamka

            Membicarakan sosok Buya Hamka maka kita pasti akan selalu teringat mengenai karya berjudul Tafsir Al-Azhar. Selain itu masih banyak lagi karya-karya beliau seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal V            an Der Wijck, Falsafah Hidup, Tasawuf Modern, Perkembangan Tasawuf, dan masih banyak lagi karya beliau yang jumlahnya mencapai ratusan.

            Dari karya-karya beliau maka dapat kita lihat beliau dari sudut pandang filsafat manusia. beliau merupakan sosok yang berpikir jauh kedepan (visioner). Dari karya-karyanya juga terlihat bagaimana beliau dapat berpikir transenden. Mengacu pada pendapat Jurgen Moltman, bahwa ‘masa depan itu adalah paradigma baru dari transendensi’. Keterlibatan manusia dengan dunia disekitarnya, hubungan sesama manusia, keterlibatan religius dan keterlibatan politik merupakan bentuk transendensi.

 Maka dapat kita ambil kesimpulan dari pendapat Jurgen Moltman diatas bahwa Prof.Dr.Hamka merupakan sosok manusia yang transendensi. Keterlibatan beliau dengan masyarakat, karya beliau dibidang agama, sampai terlibatnya beliau dalam politik yang ditandai dengan terpilihnya beliau sebagai anggota konstituante dari Fraksi Partai Masyumi merupakan bentuk nyata dari transendensi beliau.

            Dibalik karya dan nama besar beliau menyimpan sebuah kepahitan perjuangan beliau untuk menjadi sosok seperti yang dikenal saat ini. pada rentang umur 15-17 tahun, beliau sudah merantau ke tanah jawa dari daerah asalnya di Sumatera. Perantauan beliau ini untuk mencari ilmu kepada ulama-ulama dan tokoh-tokoh ditanah Jawa pada waktu itu seperti HOS Tjokroaminoto, R.M Soeryopranoto, Haji Fachruddin, Ki Bagus Hadikusumo, dan Buya Sutan Masyur.

            Sekembalinya beliau dari perantauan, beliau dikenal sebagai sosok “revolusioner” di daerah asalnya, Sumatera Barat. sejak saat itu beliau sering mengobarkan semangat masyarakat di Padang melalui pidato-pidatonya. Akan tetapi tidak lama kemudian masyarakat mulai menyadari kekurangan beliau dalam  membaca Al-Quran dan Bahasa Arab. Dari sinilah beliau kembali merasa ‘terbuang’, dan kali ini tujuan beliau untuk menuntut ilmu adalah Kota Makkah.

            Pada usianya yang 18 tahun beliau pergi untuk menuntut ilmu di Kota Makkah. Beliau belajar disana melalui berbagai macam buku agama yang menyangkut Tahuid, Filsafat, Tasawuf, Sirah, dan lain sebagainya. 8 bulan menuntut ilmu dan berhaji, akhirnya atas saran dari tokoh islam Indonesia yaitu Haji Agus Salim, beliau pulang kembali ke tanah air.

            Setelah kembali ke tanah air, dengan ilmu yang banyak ia timba di kota Makkah maka beliau memulai dakwahnya. Selain itu beliau juga aktif menulis dan mengirim tulisannya ke “Suara Muhammadiyah” di Yogyakarta. Selain itu beliau turut aktif mengembangkan Muhammadiyah, yayasan pesantren Islam Al-Azhar, sampai menjadi ketua umum MUI.

            Sekali lagi dari latar belakang perjuangan beliau kita dapat mengambil pelajaran mengenai filsafat manusia. Hakikat manusia sebagai sosok yang berpikir kedepan/masa depan (transendensi). Kita dapat melihat perjuangan beliau untuk tidak menyerah terhadap lingkungannya tetapi menjadikan lingkungannya sebagai motivasi utama untuk menjadi manusia yang berguna.

            Dimensi Transendensi telah beliau lewati melalui jalan pemikirannya yang visioner. Hasil-hasil dari karyanya telah dapat dinikmati dan dipelajari oleh manusia terutama bangsa Indonesia pada masa kini. Pemikiran-pemikirannya turut memberikan kontribusi bagi terbentuknya Republik Indonesia. kehadiran beliau dalam dunia perpolitikan Indonesia juga memberikan warna tersendiri dalam mengartikan politik yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut.

Pandangan dan Pemikiran Politik Buya Hamka

            Walaupun dikenal sebagai sosok ulama dan sosok agamis yang sangat taat,  hal ini tidak menjadikan beliau sebagai sosok yang intoleran. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa cerita mengenai beliau. tercatat bagaimana beliau taat mempertahankan akidah beliau tanpa berprilaku intoleran.

 Kemunduran beliau dari ketua umum MUI karena menolak bujukan pemerintah untuk membatalkan fatwa haram atas umat islam untuk merayakan natal merupakan bentuk toleransi tertinggi. Dari kemunduran beliau dapat diambil 2 kesimpulan, pertama, bagaimana beliau berlaku toleransi tanpa mencederai umat islam dan umat lainnya dengan mundurnya beliau dari MUI. Kedua, kemunduran beliau dari jabatan sebagai ketua MUI sebagai bentuk mempertahankan akidah yang beliau pegang. Beliau tidak berkompromi mengenai hal-hal yang menyinggung akidahnya. Jika kita berpikir jernih, maka kemunduran beliau ini bukan merupakan bentuk intoleransi beliau terhadap agama lain, tetapi ini merupakan bentuk toleransi tertinggi yang pernah dilakukan umat manusia seperti yang dilakukan oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW terhadap kaum kafir pada waktu itu.

Lalu mengenai sikap politik beliau juga dapat diambil banyak sekali pelajaran berharga yang menyangkut hak asasi manusia dan penghargaan beliau terhadap hakikat manusia sebagai pribadi. Terdapat 3 kejadian yang menyangkut sikap politik beliau, kejadian pertama adalah dengan Presiden Pertama Indonesia yaitu Ir.Soekarno. di medio 1964-1966 beliau pernah dipenjara pada masa pemerintahan Soekarno. Kala itu beliau dipenjara dengan tuduhan merencanakan pembunuhan Ir.Soekarno. tidak sampai dipenjara saja, karya tulisan beliau diberangus sehingga tidak dapat diterbitkan oleh penerbit atas perintah pemerintah kala itu. Cobaan menjadi lebih berat manakala mengetahui pemasukan uang beliau satu-satunya berasal dari royalti hasil karya bukunya.

            Ketika beliau keluar dari penjara ditahun 1966, tidak terlihat kebencian sedikitpun terhadap Ir.Soekarno. hal ini dibuktikan dengan kesediaan beliau untuk mensholatkan jenazah Ir.Soekarno pada tanggal 16 Juni 1970di Wisma Yaso. Ketika ditanyakan mengenai tindakannya tersebut dan apakah beliau dendam terhadap Soekarno, beliau hanya berkata ‘Dendam itu termasuk Dosa, saya tidak pernah dendam terhadap orang yang pernah menyakiti saya.’.

            Masih berkaitan dengan kejadian pertama, kita dapat mengetahui bagaimana sikap politik, sikap pemaaf, dan ketulusan beliau dalam berpolitik pada kejadian dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pada masa pemerintahan Soekarno, Pram (sebutan untuk Pramoedya) merupakan sosok besar dibalik partai Komunis Indonesia pada masa itu. Pram dalam harian rakyat dan harian bintang timur menyerang Buya Hamka dengan tuduhan penjiplakan karya pujangga Prancis pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. atas tuduhan tersebut maka berkembanglah opini buruk ditengah masyarakat Indonesia pada masa itu.

            Namun sekali lagi Buya Hamka menghadapi permasalahan tersebut dengan tenang tanpa terpancing emosi sedikitpun. Beliau tidak pernah dendam terhadap Pram karena kelakuannya tersebut. Sifat pemaaf dan tidak pendendam dari Buya Hamka kembali terlihat manakala kesediaan beliau untuk mengajar agama Islam kepada Daniel Setiawan yang merupakan calon menantu Pramoedya. Dalam penjelasan Pram kepada Dr. Hoedaifah yang merupakan teman beliau, ia mengatakan,

“Masalah paham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon mennantu saya belajar agama islam dan masuk islam kepada Hamka.”

            Dari pernyataan Pram diatas maka dapat dilihat dari kebudayaan jawa sebagai bentuk permintaan maaf Pram kepada Hamka secara tidak langsung. Dan kesediaan Buya Hamka juga merupakan bentuk memaafkan Pramoedya. Hingga akhir hayatnya sosok Buya Hamka tidak pernah sedikitpun membahas permasalahan tersebut.

            Cerita terakhir mengenai sikap politik yang mulia dari Buya Hamka terlihat kala ia merumuskan dasar negara Republik Indonesia pada tahun 1955. Kala itu Buya Hamka tercatat sebagai anggota Konstituante dari Fraksi Partai Masyumi. Pada suatu kesempatan dalam sidang yang membahas dasar negara RI antara Pancasila dengan Islam. beliau mengutarakan pendapatnya yang mencenangkan tidak hanya bagi PNI namun bagi kalangan Masyumi juga. Beliau berkata ‘bila negara ini mengambil dasar negara berdasarkan pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka.’

            Karena ucapan beliau itulah yang memancing tokoh PNI seperti Mr. Moh.Yamin menjadi gusar. Kebencian mulai tampak dari Mr. Moh Yamin baik ketika bertemu dalam acara resmi, seminar, sampai sidang konstituante. Kebencian beliau tidak pernah surut, sampai suatu ketika beliau jatuh sakit. Buya Hamka dengan keikhlasan dan kesediaannya menjenguk bahkan menemani akhir hayat Mr. Moh Yamin sampai keliang kuburnya di Talawi, Sumatera Barat.

            Dari ketiga kejadian diatas kita dapat belajar kepada sosok Buya Hamka mengenai sikap politiknya, penjunjungan tinggi HAM, sampai penghargaan manusia sebagai Pribadi yang merupakan produk dari Filsafat Manusia. Beliau mengajarkan kita bagaimana memandang dan berperilaku kepada Individu lain dengan cara pandang ‘aku-engkau’ bukan ‘aku-itu’. beliau sangat menghargai dan menghormati hak-hak manusia lain untuk berpendapat sampai kesediaan beliau  untuk memaafkan individu-individu yang  telah  menyakitinya tanpa ada rasa dendam sama sekali kepadanya.

            Beliau benar-benar mengajarkan kita bagaimana manusia seharusnya berperilaku terhadap manusia lainnya. Beliau mengajarkan kebencian dan dendam tidak dapat menyelesaikan masalah, akan tetapi dengan sikap pemaafnya dan keikhlasannya lah yang bisa menjadi solusi konkret saat menghadapi masalah dengan manusia lain.

Lalu sikap politiknya mengajarkan kita bahwa politik merupakan alat yang mulia untuk mencapai kesejahteraan bersama bukan alat kotor dan busuk untuk mencapai kekuasaan semata yang pada akhirnya berakhir pada tujuan materialistik semata. Sikap tanpa kompromi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan akidah menunjukkan sikap toleransi sebenarnya yang kerap kali disalahkan oleh manusia saat ini. alih-alih mendengungkan toleransi kebablasan seperti masa kini, beliau mengajarkan toleransi tingkat tinggi seperti yang pernah  Rasulullah lakukan pada perjanjian makkah kala itu.

Demikian mengenai sosok ulama, sastrawan, politisi, novelis, pahlawan dan tokoh nasional, serta bisa dikatakan sebagai filsuf dari Indonesia. semoga karya-karya, pemikiran-pemikiran, ide dan gagasan, serta sikap dan perilaku beliau dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia saat ini.

Akhir kata, penulis ingin mendoakan agar sosok Buya Hamka ditempatkan ditempat yang layak oleh Allah SWT bersama para nabi, sufi, alim ulama, dan orang-orang beriman lainnya. Dan juga penulis berdoa agar penulis dan masyarakat Indonesia lainnya dapat meneruskan jejak perjuangan yang beliau rintis. Amin

 

 

Referensi

 

Hamka, Irfan. 2013. Ayah. Jakarta: Republika Penerbit.

Suryabrata, Drs. Sumadi. 2012 . Psikologi Kepribadian . Jakarta : Rajawali Pers

Sutrisno, FX. Mudji. 1993. Manusia dalam Pijar-Pijar Kekayaan Dimensinya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

            

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s