BERUNTUNGNYA PEREMPUAN INDONESIA

1429618076944Hari kartini yang jatuh setiap tanggal 21 bulan April selalu menjadi media bagi para aktivis perempuan untuk menggelorakan semangat emansipasi, kesetaraan jender dan feminisme. Momentum untuk memperingati hari pahlawan yang memperjuangkan kesetaraan jender dengan surat-surat dan bukunya yang berjudul “habis gelap terbitlah terang” itu selalu menjadi ‘roh’ dan ‘semangat’ dalam setiap gerakan-gerakan tersebut. Bahkan hasilnya saat ini sangat jelas terlihat, sekarang setiap warga negara tanpa membedakan jender dapat menempuh pendidikan yang sama dan sederajat, hal yang mustahil untuk era Kartini pada waktu itu.

Lebih beruntungnya lagi, gerakan-gerakan emansipasi, kesetaraan jender dan feminisme di Indonesia mempunyai suatu bentuk pergerakan yang unik dibanding dengan gerakan-gerakan di negara-negara barat.  dinegara barat kesetaraan jender digugat melalui aktivitas membuang rasa malu dengan menjadikan tubuhnya sebagai senjata kesetaraan jender. Sangat mudah dilihat sekarang berita-berita yang memuat gerakan kaum wanita disana bertelanjang dengan bebas didepan kamera seolah-olah berkata “dari dulu kaum pria bebas bertelanjang dada, mengapa kami, kaum wanita, tidak boleh ?”

Sedangkan jika di Indonesia konsep kesetaraan jender lebih di praktikan dalam gerakan yang lebih cerdas dan santun. Alih-alih menentang agama, gerakan kewanitaan di Indonesia merangkul agama. Hal ini sudah lama dilakukan oleh Istri Ahmad Dahlan, Nyai Walidah, yang menginisiasi pendidikan agama bagi perempuan muslim di Yogyakarta. Lalu konsep merangkul agama demi menegaskan kesetaraan jender itu berkembang dizaman modern dengan cara meningkatkan posisi sosial wanita, seperti persamaan dasar antara pria dan wanita sebagai insan Ilahi, yang sebagai pasangan suami-istri dikaitkan satu sama lain oleh kewajiban saling mendukung, menghormati, dan melindungi. (Jean Couteau, 2015)

Terlepas dari bagaimanapun pengewanjatahan semangat R.A Katini dalam membela kaum wanita, yang jelas bukti nyata dari perjuangan tersebut dapat terlihat sekarang. Selain hak untuk memperoleh pendidikan yang sama antara pria dan wanita, perjuangan tersebut juga terlihat dari banyaknya wanita yang sekarang menduduki posisi penting baik di suatu organisasi, industri, militer, pendidikan, partai politik, sampai lembaga pemerintahan tertinggi seperti Presiden pun pernah diisi oleh seorang wanita.

Namun hal diatas tidak menunjukkan bahwa perjuangan kaum wanita sudah selesai. Masih sangat banyak perjuangan kaum wanita di era modern. Selain masih terdapat stereotip terhadap kaum wanita, perjuangan melawan patriakisme, misoginisme, seksisme, dan lain sebagainya seakan menjadi perjuangan yang tanpa henti hingga akhir zaman. Wanita harus dapat memanfaatkan posisinya yang dimilikinya saat ini seperti dapat menduduki posisi penting, sampai keharusan parlemen diisi oleh 30% wanita untuk dapat mengubah dan berjuang demi menggapai emansipasi dan kesetaraan jender yang diinginkan. Jangan sampai kesempatan yang terbuka luas ini tidak dimanfaatkan oleh kaum wanita dengan baik.

Omas Bulan Samosir, dosen FEB UI, didalam tulisannya yang diterbitkan di koran kompas mengungkapkan terdapat 4 bidang kunci yang mempunyai pengaruh katalis dan pengganda pada kehidupan perempuan, anak perempuan, dan generasi perempuan yang akan datang. 4 bidang tersebut adalah peningkatan pendidikan yang berkualitas, peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, peningkatan kendali perempuan terhadap aset produktif dan finansial, identifikasi dan dukungan terhadap pemimpin-pemimpin wanita disemua tingkat.

Terkait dengan kunci yang kedua yaitu  pelayanan kesehatan, sepertinya telah menjadi urgensi yang amat sangat diperlukan. Hal ini dapat dilihat dari AKI (Angka Kematian Ibu) yang mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini dapat menjadi pemicu bagi pemerintah, LSM, lembaga pelayanan kesehatan, dan pihak-pihak terkait lainnya untuk berjuang lebih ekstra lagi dalam memperjuangkan hak dan kunci perubahan kaum wanita. Jangan sampai kasus kematian R.A Kartini yang meninggal saat berumur 25 tahun ketika melahirkan anak pertamanya lebih dari 100 tahun yang lalu terulang kembali.

Akhir kata, penulis berharap semoga Hari Kartini dapat dimanfaatkan lebih bijak dan dapat menjadi ‘roh’ dan ‘semangat’ yang membawa perubahan bagi kaum wanita. Dan semoga perayaan Hari Kartini bukan sekedar seremonial tahunan tanpa ada perubahan yang signifikan dari kaum wanita itu sendir. Berjuanglah wanita Indonesia. Selamat Hari Kartini.

Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuwan

Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia

Wilayah 3 (Jawa Tengah dan Kalimantan)

2015-2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s