Resensi Buku: Mempelajari Akar Psikologi Humanistik

“Manusia itu tidak lain dari apa yang dia ciptakan sendiri.”-Jean Paul Sartre

Cara Mudah Mempelajari Eksistensialisme            Saat ini psikologi mempunyai 3 Grand Teori yang masih relevan untuk digunakan di zaman modern ini. Salah satu dari grand teori tersebut adalah Humanistik. Berbicara mengenai humanistik tentu kita akan berbicara mengenai Abraham Maslow dengan hierarki kebutuhannya, lalu Carl Rodgers dengan self  (diri)-nya, lalu Victor Frankle dengan logoterapinya dan masih banyak lagi tokoh-tokoh humanistik lain yang dikenal di dunia psikologi.  Keberadaan humanistik tidak lepas dari filsafat. Akar filsafat yang mendasari munculnya humanistik adalah eksistensialisme dan fenomenologi.

Buku dengan judul asli Existentialisme Made Easy (Cara Mudah Mempelajari Eksistensialisme) merupakan karya Nigel Rodgers & Mel Thompson yang akan membawa kita menjelaji dunia eksistensialisme secara mendalam dan mudah. Buku ini terbagi menjadi 9 bab yang masing-masing bab akan membawa kita masuk ke dunia eksistensialisme dan membuat kita seringkali merefleksikan kebenaran dari eksistensialisme itu sendiri melalui apa yang telah kita lalui.

Bagian pertama menceritakan tentang awal mula eksistensialisme muncul. Berawal dari seorang penulis yang tinggal dan hidup di Paris, yaitu Jean Paul Satre, berasal dari kalangan penulis yang hidup dan bekerja di kafe-kafe Paris, berdiskusi, beradu argumentasi, minum dan berpikir ditengah kebisingan hidup setiap hari (existentialisme made easy, hal.3).  Karyanya yang paling fenomenal dan menginspirasi munculnya eksistensialisme adalah Being and Nothingness (1943), karya ini telah menggoyang dan menghebohkan Paris di tahun 1945 (atau pasca berakhirnya perang dunia kedua).

Data Buku Cara Mudah Mempelajari Eksistensialisme            Walaupun eksistensialisme sering kali dikaitkan dengan Sartre, sebenarnya masih terdapat tokoh pemikir eksistensialis sebelum, sesaat dan sesudah Sartre. Pemikir sebelum Sartre antara lain  Pascal, Kierkegaard dan Nietzsche. Lalu tokoh lainnya adalah Heidegger (dengan karyanya yaitu Being and Time)¸Camus, Bultmann, Tillich dan lain sebagainya.

            Filsafat eksistensialisme berbicara mengenai manusia sebagai aktor utama dalam kehidupannya. Hal ini jelas membantah pandangan filsuf Decartes dengan corgito ergo sum-nya. Pandangan lain yang dikemukakan oleh eksistensialisme adalah eksistensi mendahului esensi. Selanjutnya eksistensialisme banyak juga membahas mengenai kebebasan, pilihan dan tanggung jawab serta hidup yang otentik.

          Buku ini menawarkan kemudahan bagi individu yang ingin mempelajari filsafat eksistensialisme. Akan tetapi, tetap saja terdapat kesulitan-kesulitan memahami isi dan maksud dari kalimat-kalimat yang ditawarkan. Bahkan terdapat beberapa kata yang memang terdengar asing, sehingga perlu kecermatan yang lebih untuk memahami makna kata tersebut.

Secara keseluruhan buku ini cocok dibaca bagi siapa pun yang ingin mendalami atau sedang beajar dunia filsafat eksistensialisme dan humanistik. Selamat menyelami eksistensi hidup Anda untuk mendapatkan esensinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s