Analisis Sosial : Analisis Dan Pergerakan Mahasiswa Psikologi di Jawa Tengah

Awal dari tulisan ini bermula dengan ungkapan yang sering terdengar di kalangan mahasiswa, yaitu mahasiswa sebagai agen-agen perubahan. Sebagai agen perubahan, mahasiswa dituntut untuk melakukan perubahan dengan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dan miliki selama menuntut ilmu di lingkungan universitas. Mahasiswa juga dituntut untuk lebih peka melihat kondisi sosial masyarakat yang ada dan melakukan perubahan didalamnya. Hal ini harus dilakukan oleh semua mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya sebagai agen perubahan, khususnya mahasiswa psikologi yang akan dibahas pada tulisan ini.

Sebagai mahasiswa psikologi kita mengenal apa itu simpati dan empati, selain mengenal kita juga dituntut untuk bisa menerapkan keduanya didalam praktik keilmuwan kita. Mahasiswa psikologi apapun bidang yang ingin digelutinya baik itu sosial, perkembangan, pendidikan, industri dan organisasi, maupun kesehatan/klinis pasti akan berhubungan dengan manusia. manusia sebagai objek dari psikologi akan menghasilkan tujuan akhir dari keilmuwan psikologi itu sendiri yaitu Pengabdian kepada Masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip dari well being of human being.

Untuk dapat lebih simpati dan empati, maka mahasiswa psikologi pun dituntut untuk lebih peka dan mengenal dengan lingkungan sekitar mereka. Permasalahan-permasalahan dimasyarakat baik kasat mata maupun tak kasat mata harus dapat dilihat dengan jeli oleh mahasiswa psikologi sebagai wadah untuk belajar dan mengaplikasikan keilmuwannya didalam masyarakat.

Kepekaan Mahasiswa Psikologi

Dalam tulisan ini akan dijabarkan beberapa permasalahan-permasalahan yang mahasiswa psikologi yang dilihat dan dirasakan, khususnya mahasiswa psikologi yang tergabung dalam ILMPI  Wilayah 3 (Jawa Tengah dan Kalimantan). Dalam diskusi Analisis Sosial pada rapat kerja wilayah (Rakerwil) di Mess Pertamina Semarang, dikemukakan beberapa permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat baik lingkup daerah maupun nasional. Kita tentu masih ingat kasus pengemis yang membawa anak kecil didalam buaian pengemis, dengan bermaksud mengais iba dan prihatin dari para pengendara mereka dengan tega dan tanpa rasa bersalah menggunakan anak kecil tersebut. Hal ini menjadi masalah lebih besar ketika terdapat beberapa fakta dilapangan menemukan bahwa anak kecil tersebut ternyata bukan anak kecil milik pengemis akan tetapi miliki orang lain yang di gunakan untuk mengemis. Lalu fakta lainnya adalah penggunaan obat tidur maupun minuman keras untuk membuat si anak larut dalam buaian pengemis. Masalah tersebut menjadi lebih besar lagi manakala usaha-usaha yang dilakukan pemerintah pun dirasa kurang cukup maksimal memberantas praktik-praktik seperti itu. Padahal usaha seperti larangan bagi pengendara memberikan uang kepada pengemis sampai pembekalan untuk pengemis sudah dilakukan. Lalu dimana letak kekurangannnya ?

Ternyata solusi-solusi yang ditawarkan pemerintah tidak memiliki efek jangka panjang. Berdasarkan analisis, ditemukan bahwa penegakkan aturan larangan tidak berjalan optimal di lapangan, lalu pembekalan kepada para pengemis juga tidak memberikan banyak kesempatan bagi pengemis untuk merubah nasibnya. Masih Diperlukan usaha yang masif dan struktur dari berbagai instansi dan kalangan baik pemerintah pusat, daerah, kementerian, LSM, dan masyarakat.

Lalu permasalahan lainnya dikemukakan oleh mahasiswa dari UNDIP dan UNNES. Permasalahan tersebut dimulai dari pemberitaan di media masa mengenai pesta seks yang diadakan para remaja pasca menjalani Ujian Nasional. Ternyata setelah ditilik lebih jauh lagi akar permasalahan ini terjadi karena didaerah permasalahan tersebut memang dikenal sebagai daerah prostitusi. Bahkan PSK disana disebut sebagai pahlawan ekonomi, rantai prostitusi disana dianggap meningkatkan pendapatan daerah dan memberikan kontribusi besar bagi pemasukan daerah. Sehingga menjadi kewajaran ketika lulus menempuh pendidikan, banyak perempuan yang beralih profesi sebagai PSK.

Salah satu mahasiswa dalam mata kuliah patologi sosial pernah ditantang untuk mencari tau latar belakang mereka menjadi PSK. Ketika terjun ke lapangan ia menemukan fakta bahwa mereka (PSK) sebetulnya tau apa yang mereka lakukan adalah dosa, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara keluar dari lingkaran prostitusi karena mereka sudah nyaman dengan pekerjaan tersebut. Patologi sosial (penyakit masyarakat) ini tentu menjadi masalah yang harus diselesaikan bersama oleh pemerintah, LSM, dan kalangan akademisi. Langkah-langkah berani seperti pembubaran gang Dolly harus diikuti oleh langkah-langkah selanjutnya seperti pembinaan, pembukaan lapangan kerja baru, pendampingan, dan lain sebagainya agar tidak menjadi langkah merubah wajah prostitusi dari terbuka menjadi tertutup/sembunyi-sembunyi.

Pergerakan Mahasiswa Psikologi

Selain permasalahan yang sudah diungkap diatas, terdapat permasalahan dibidang pendidikan dan sosial yang sedang dicari solusinya oleh mahasiswa Psikologi. Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto mendirikan sebuah rumah hebat yang diberi nama Gilar-Gilar Foundation, sebuah rumah hebat yang bertujuan memberikan pendidikan bagi anak berlatar belakang kurang mampu. Kegiatan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial ini berjalan dengan relawan-relawan baik dari mahasiswa psikologi itu sendiri dan dibantu oleh para musisi.  Akan tetapi setelah tanya jawab ditemukan fakta yang umum terjadi yaitu kurangnya relawan yang membantu jalannya rumah hebat tersebut.

Lalu di Semarang juga berdiri suatu komunitas harapan di daerah joar, semarang. Berdirinya komunitas ini diawali oleh keprihatinan atas masa depan anak-anak jalanan didaerah tersebut. Pendirian komunitas inipun tidak lepas dari banyaknya masalah yang seringkali menghadang komunitas ini seperti ketidakpercayaan masyarakat terhadap komunitas ini karena terdapat anggapan pendirian komunitas ini tidak murni sosial tetapi hanya menguntungkan pendiri dari komunitas harapan tersebut. Namun hal tersebut tidak mengurangi kepercayaan dan kegelisahan mahasiswa di UNDIP, UNNES, dan USM yang turut membantu berjalannya komunitas iini.

Pergerakan terakhir yang terungkap datang dari mahasiswa di Kudus, Jawa Tengah. Mahasiswa psikologi dari Universitas Muria Kudus berserta Mahasiswa Hukum dan elemen masyarkat sedang dihadapkan pada permasalahan advokasi hukum dari seorang ibu yang mempunyai anak berumur 3 bulan. Ibu M, dituntut oleh pengadilan dengan hukuman penjara kurang lebih 1 tahun 6 bulan atas penyiksaan yang dilakukannya terhadap wanita selingkuhan suaminya. Yang menjadi masalah dalam kasus ini adalah tanggungan anak 3 bulan yang dimiliki oleh Ibu M. Seperti yang dipelajari oleh mahasiswa Psikologi bahwa anak pada umur 3 bulan masih sangat butuh peran, kelekatan (attachment) dan ASI dari seorang ibu. Namun semenjak Ibu M dipenjara, maka si bayi ini sudah tentu tidak dapat mendapatkan kasih sayang ibu secara maksimal. Akan tetapi pihak lapas tidak memberikan sedikitpun kelunakan untuk Ibu M memberikan ASI dan hak-hak lain kepada si bayi. Hal inilah yang menjadi perjuangan bersama mahasiswa UMK beserta elemen masyarakat untuk dapat mengadvokasi Ibu M sehingga ia dapat menjadi tahanan rumah. Dari usaha-usaha yang dilakukan oleh mahasiswa dan elemen masyarkat tersebut membuahkan hasil mengubah status Ibu M menjadi tahanan rumah sehingga ia dapat memberikan hak-hak kepada anaknya yang berumur 3 bulan tersebut.

Dari beberapa analisis terhadap permasalahan sosial yang terjadi dimasyarakat diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan masih dapat memiliki kontribusi yang besar. Sekarang tinggal bagaimana para mahasiswa khususnya mahasiswa psikologi untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkannya di kehidupan kampus unutk diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. pengaplikasian tersebut agar mahasiswa psikologi dapat berkontribusi sesuai dengan tujuannya yaitu pengabdian kepada masyarakat. Sehingga dapat diwujudkan cita-cita mulia wadah aspirasi mahasiswa psikologi (ILMPI) untuk mewujudkan Indonesia tersenyum dengan Psikologi.


Nb: tulisan ini merupakan intisari dari hasil analisis sosial yang dilaksanakan pada tanggal 18-19 April di rapat kerja wilayah (Rakerwil) ILMPI WIL 3 bertempat di Mess Pertamina, Semarang.

Ditulis oleh

Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuwan

Wilayah 3 (Jawa Tengah dan Kalimantan)

Periode 2015-2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s