Pengaruh Besar Pola Asuh Orang Tua Terhadap Konsep Diri Pada Anak

Oleh: Pentarina Intan Laksmitawati

Berdasarkan tata bahasanya, pola asuh terdiri atas kata pola dan asuh. Dalam kamus umum bahasa Indonesia menyebutkan bahwa kata pola berarti model, sistem, cara kerja, bentuk, sedangkan kata asuh mengandung arti menjaga, merawat, mendidik anak agar dapat berdiri sendiri (Kartini Kartono, 1989: 166).

Pola asuh orang tua merupakan pola perilaku orang tua yang diterapkan kepada anak, yang bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Menurut Karlinawati (2010:163) mengasuh anak yaitu sebuah proses yang menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan suatu interaksi antara orang tua dengan anak yang berkelanjutan, dalam proses tersebut memberi suatu perubahan baik kepada orang tua maupun kepada anak. Peran orang tua mempengaruhi anak dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak . Sebagai contoh, orang tua membimbing anak-anaknya untuk mengenalkan sesuatu agar anak-anaknya mengerti, mengetahui dan memahami yang akhirnya dapat menerapkan suatu tingkah laku.

Konsep diri adalah gambaran dan penilaian seseorang tentang keadaan diri seseorang pada saat sekarang dan masa mendatang yang diukur dengan skala konsep diri yang disusun berdasarkan aspek-aspek. Konsep diri menurut Hurlock, yaitu aspek fisik dan psikologis. Aspek fisik berkenaan dengan aspek penampilan diri, sedangkan aspek psikologis mengacu pada penilaian seseorang terhadap dirinya. Konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri anak sendiri (persepsi diri). Persepsi diri tersebut dapat bersifat sosial, fisik dan psikologis yang diperoleh dari pengalaman berinteraksi dengan orang lain. Konsep diri juga berarti cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisik, emosional, intelektual sosial dan spiritual. (Sunaryo, 2004:32).

Psikodinamik memandang bahwa keluarga merupakan lingkungan sosial yang secara langsung mempengaruhi individu. Keluarga terutama orang tua merupakan lingkungan mikrosistem yang menentukan kepribadian dan kesehatan mental anak. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak, karena dari merakalah anak mulai menerima pendidikan. Terdapat hubungan yang kuat antara peran atau pola asuh orang tua dalam pembentukan konsep diri anak. Peran dan perawatan orang tua terhadap anak yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.  Karena pembentukan perilaku dan kepribadian terjadi melalui proses interaksi antar anggota keluarga dalam proses pengasuhan, dengan demikian baik buruknya periaku anak juga tergantung dari cara dan nilai yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Sutherland dalam salah satu analisisnya “The Home and Family in Relation to Crime” mengatakan bahwa anak menjadi nakal/delinkuen karena perilaku nakal telah dipelajarinya di rumah. Di rumah mungkin anak meniru perilaku orang tuanya atau sanak keluarganya yang lain dengan cara mengobservasi sikap-sikap, simbol dan pola perilaku delinkuensi.

Terdapat beberapa macam pola asuh, pertama, pola asuh demokratis. Ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selau tergantung pada orang tua. Orang tua memberi sedikit kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya. Pola asuh dan sikap orang tua yang demokratis menjadikan adanya komunikasi yang membuat anak merasa diterima oleh orang tua sehingga muncul peraturan perasaan. Dalam pola asuh ini menerapkan adanya reward dan punishment, namun lebih utama pada reward. Punishment yang diberlakukan bersifat tidak keras dan hanya digunakan bila anak-anak terbukti secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan orang tua. Dan sebaliknya jika anak melakukan sesuatu yang diharapkan orang tua, anak diberi reward. Melalui pola asuh ini tercipta suasana keluarga yang harmonis.

Kedua, pola asuh permisif. Orang tua mendidik anak secara bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa yang bisa melakukan apa saja yang dikehendaki dan tidak memerlukan arahan, teguran atau bimbingan. Pengawasan menjadi longgar. (Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, hlm. 112.)

Pola asuh yang demikian menjadikan anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku.  Namun berlaku sebaliknya, jika anak mampu mengolah kebebasan tersebut dengan penuh tanggungjawab, maka anak tersebut dapat menjadi pribadi yang mandiri dan mampu mewujudkan aktualisasi dirinya.

Dalam membatu membentuk konsep diri anak, maka orang tua perlu meluangkan waktu bersama anak. Anak-anak akan mengalami kemajuan pesat jika menjadi bagian dalam keluarga yang memilki waktu “bermain” bersama. Melewatkan waktu bersama orang tua melakukan hal-hal yang menyenangkan.

Ketiga, pola asuh otoriter. Orang tua menentukan aturan-aturan dan batasan-batasan mutlak yang harus ditaati. Orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi. Orang tua menentukan tanpa memperhitungkan keadaan anak, tanpa menyelami keinginan dan sifat-sifat khusus atau bakat anak. Sikap keras dianggap sebagai sikap yang harus dilakukan karena hanya sikap yang demikianlah anak menjadi penurut. Pola asuh yang demikian mengakibatkan hilangnya kebebasan pada anak, inisiatif dan aktivitas anak pun menjadi tumpul. Hal ini menyebabkan kepribadian anak yang lemah termasuk tingkat percaya dirinya yang rendah serta tingkat agresif yang tinggi dan tidak terkendali (Irawati : 2006). Kecenderungan memaksa anak melakuan suatu peranan menyebabkan timbulnya benih-benih pertentangan. Semakin orang tua berusaha keras mendidik anaknya untuk berperilaku tertentu, semakin keras pula anak untuk menentang, tidak patuh, keras kepala. Jika anak terus ditekan, maka anak akan merasa down, rendah diri dan tidak percaya diri, mereka merasa dirinya tidak dihargai. Mindset  merasa dirinya bodoh dan tidak berguna dalam diri anak pun akan muncul.

Keterkaitan pola asuh orang tua dalam konsep diri anak dimaksudkan sebagai upaya orang tua dalam meletakkan dasar-dasar konsep diri anak dan membantu mengembangkannya sehingga anak memiliki konsep diri yang baik. Namun demikian, banyak orang tua gagal mengasuh anak-anaknya karena tidak tahu pendekatan yang harus dilakukan dalam menghadapi anak. Pola tingkah laku dan sugesti orang tua dapat mencetak pola yang hampir sama pada anak. Oleh karena itu, tradisi, kebiasaan dan sikap hidup sehari-hari, cara berpikir keluarga sangat besar pengaruhnya dalam proses pembentukan tingkah laku dan sikap anggota keluarga terutama anak. Misalnya anak yang dididik dengan disiplin militer yang keras, besar kemungkinannya anak akan tumbuh dengan kepribadian kaku dan keras. Pola pengasuhan dengan kekerasan atau orang tua yang melakukan tindak kekerasan akan berpotensi menjadi model yang buruk bagi anak, anak berpotensi mengulang hal tersebut apabila mereka memiliki anak (Rosalina : 2014). Sebaliknya, anak yang dididik dengan toleransi akan mudah belajar menghargai dan belajar percaya diri. Menurut  Norman (1996), hal itu terjadi pula  bila orang tua memahami anak dengan baik dan mengenali sikap dan bakatnya yang unik, mengembangkan dan membina kepribadiannya tanpa memaksanya menjadi orang lain. Menurut Darajat (dalam Yasin, 2007) dalam melaksanakan pendidikan keluarga harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak tak terkecuali di dalam mendidik emosi anak. Pendidik (orang tua) harus memiliki pemahaman tentang perkembangan emosi anak karena anak memiliki ciri khas sendiri dalam perkembangannya.


Daftar Pustaka

Jalaluddin, Rakhmat. 1996. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muthohiroh. (2009). Pengaruh Pola Asuh Demokratis Orang Tua Terhadap Tingkat Kecerdasan Interpersonal Anak Didik. Program Sarjana. IAIN Walisongo. Semarang

Kartini, Kartono & Jenny, Andari. 1989. Hygiene Mental Dan Kesehatan Mental Dalam Islam. Bandung: Mandar Maju

Singgih, Gunarsa. 2006. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia

Irawati, Istadi. 2006. Mendidik dengan Cinta. Jakatra: Pustaka Inti

Salim, Bahreisy. 1990. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 2. Surabaya: Bina Ilmu

Elfira, Evi. (2014, 14 Juni). Pola Asuh Buruk Picu Anak Alami Kekerasan Seksual. Okezone [Online]. Tersedia: http://lifestyle.okezone.com/read/2014/06/14/196/998851/pola-asuh-buruk

picu-anak-alami-kekerasan-seksual [25 April 2015]

Edwin H. Sutherland. Principles of Criminology, seventh edition.  New York:  J. B. Lippincott Compan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s