THE POWER OF LIFE “R.A KARTINI” FOR INDONESIAN WOMEN’S

20160421110058

Besok kembali kita menjumpai sebuah peringatan akan sosok perempuan pribumi yang membumi, ya, beliau adalah RA Kartini. Yang namanya diperingati setiap tanggal 21 April. Hal ini berdasarkan Sinkron Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964, maka setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Namun yang jadi pertanyaan adalah, “Apakah ‘Panggung-Panggung Kartini’ saat ini, yang dipenuhi dengan karpet merah atau sekedar lenggak-lenggok manis dapat memunculkan sosok Kartini?”, kelihatannya belum!.

Mari kita awali untuk sedikit berkenalan dengan sosok perempuan Inspiratif Indonesia yang juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – wafat di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun). Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara[9]. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah

Kartini muncul di jaman feodalisme yang masih begitu kental dan imperialisme modern yang mulai muncul. Kartini membawa konsep kemajuan dan kebebasan dalam ranah pemikiran dan perkembangan Indonesia melalui titik tekannya yang sangat memperhatikan pendidikan bagi bangsanya. Terutama bagi kaum perempuan yang memang kondisi pada saat Kartini masih hidup begitu memprihatinkan. Bahkan cerita tentang RA. Kartini sampai diangkat ke sebuah film, yang disitu digambarkan tentang kondisi masyarakat pada jaman Kartini.

Dalam Film R.A.Kartini digambarkan bagaimana sosok perempuan Jawa yang mengalami  ketidakadilan  gender,  baik  dalam  keluarga,  pendidikan. Dari awal film ini diperlihatkan  bagaimana Kartini lahir dalam keluarga yang mempraktekkan poligami, dilarang  melanjutkan sekolah,  hidup  dalam  tekanan tradisi pingit, dinikahkan  dengan orang yang belum ia  kenal  sebelumnya  dan masih   banyak   lagi   persoalan   ketidaksetaraan yang terdapat dalam film ini.

Bentuk-bentuk   ketidaksetaraan   yang   dialami   perempuan   dalam   film   R.A. Kartini adalah

  1. Dalam  aspek  pendidikan  bahwa    kaum  wanita  tidak  mendapat  kebebasan untuk  menuntuti  ilmu  kejenjang  yang  lebih  tinggi,  pendidikan  tersebut hanya  untuk  kaum  pria  saja.  Islam  telah  mengajarkan  bahwa  menuntun ilmu  itu  wajib  bagi  semua  umat  muslim,  karena  Allah  SWT  mewajibkan bagi umatnya untuk menuntut ilmu.
  2. Dalam  aspek  sosial  bentuk  deskriminatif    kaum  perempuan  sebagaimana yang  dialami  keluarga  R.A.  Kartini  dalam  kehidupan  sehari-hari dalam berkomunikasi  diharuskan  boso  saat    R.M.A.  Sosoroningrat  (ayah  Kartini) berbicara  dengan  Ngasirah  (ibu  kandung  Kartini)  dengan  bahasa  ngoko sedangkan  Ngasirah dengan bahasa Krama ketika berbicara dengan R.M.A. Sosoroningrat.
  3. Dalam film R.A. Kartini terdapat aspek budaya pingit dan poligami di masa kehidupan  R.A.  Kartini.  Budaya  pingit  yang  dialami  oleh  R.A.  Kartini sendiri   yaitu   di   mana   sejak   beranjak   dewasa   mulai   diasingkan   dalam ruangan  sendiri  dan  sunyi.  Selain  itu,  budaya  poligami  yang  sudah  menjadi hal yang biasa dalam kehidupan R.A. Kartini, yang nantinya juga dilakukan oleh   suaminya.   Kehidupan   keluarga   R.A.   Kartini   terlihat   menyakitkan karena adanya poligami yang dilakukan oleh R.M.A. Sosoroningrat.

Setelah kita melihat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam perjalanannya menjadikan wanita indonesia kali ini memiliki kedudukan yang sama seperti  kaum laki-laki, apakah kita pernah bertanya bagaimana R.A Kartini memiliki kekuatan atau keinginan menjadikan gender tidak di hubungkan dalam pembeda kehidupan sehari-hari. Menurut harlock (1999; 118) Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Itulah yang membuat Kartini tergerak hatinya karena beliau telah merasakan berada di posisi wanita pada zaman itu yang penuh dengan kekangan dan pemabatasan gerak serta hak asasi sebagai wanita. Perjuangan pertama yang Kartini lakukan adalah membangun sarana pendidikan pertamanya pada tahun 1912 selain itu Kartini aktif melakukan korespondensi selama lima tahun sejak 1899 dengan kenalannya dari Belanda, seperti Stella Zeehandelaar, Prof. dan Ny F.K. Anton, dan Ny. Abendanon. Tulisan-tulisannya banyak berisi tentang kehidupan keluarga, adat, keterbelakangan wanita, serta yang paling utama adalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan.

 Begitu banyak yang beliau lakukan bagi wanita indonesia dengan menggunakan hati dan nurani serta kerja keras beliau. Kepedulian akan sekelilingnya sangatlah besar didalam diri seorang R.A Kartini, Sears (1991: 61) Bahwa individu bukanlah semata-mata mahluk tungggal yang mampu hidup sendiri, melainkan sebagai mahluk sosial yang sangat bergantung pada individu lain, individu tidak dapat menikmati hidup yang wajar dan bahagia tanpa lingkungan sosial, mungkin konsep tersebut telah tertanam dalam diri R.A Kartini sehingga memiliki sisi kepribadian yang lekat dengan cerminan yang ada dilingkungannya seperti membantu,menghibur,persahabatan,pengorbanan,kemurahan hati dan saling membagi. Mungkin apabila kita memposisikan R.A Kartini pada zaman sekarang tidaklah sulit untuk melihat bahwa banyak sekali wanita indonesia menjadikan simbol 21 april sebagai hak asasi wanita untuk sama-sama menjadi individu yang berguna tanpa melihat perbedaan gender. Tapi apakah konsep yang R.A Kartini bawa bisa menjadi sebagai kekuatan bagi indonesia saat ini? Itulah yang menjadi good quetion for women’s. Mengawali adalah sebuah kemudahan yang dapat dilakukan untuk mencapai sesuatu pertama yang dihasilkan tapi untuk mempertahankannya adalah suatu hal yang sulit. Dalam penerapannya R.A Kartini memperjuangkan hak asasi wanita adalah hal yang sulit karena beliau harus melawan segala tantangan yang ada pada zamannya.

 Walau usianya masih belia, dilihat dari sisi psikologinya beliau memiliki kemantangan emosi yang sangat luar biasa karena hasil tekananan yang ia alami dalam hidupnya, Kartono (1995: 165) kematangan emosional sebagai  suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional, oleh karena itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pada emosional seperti pada masa kanak-kanak. Seseorang yang telah mencapai kematangan emosional dapa mengendalikan emosinya. Emosi yang terkendali menyebabkan orang mampu berpikir secara lebih baik, melihat persoalan secara objektif.  Itulah yang membuat diri seorang R.A Kartini menjadi seorang wanita serta tokoh pejuang wanita yang sangat kuat dan berani menegakkan apa ynag seharusnya menjadi proporsi kehidupan dan membuatnya seimbang. Mungkin apa jadinya apabila seorang R.A Kartini tidak memiliki kematangan emosional yang baik ? apakah hak wanita indonesia menjadi kekuatan yang sama dengan kaum laki-laki. Seperti yang ada didalam sebuah Novel divergent bahwa konsep pendekatan sosiologi dan teori feminisme menjadi sebuah kunci perjuangan dalam kisah seorang wanita yang berjuang dalam mendapatkan hak serta peran penting dalam kehidupan. Selain menjadikan kesetaraan dan bentuk kekuatan juga menggambarkan bahwa wanita adalah bagian terpenting juga dalam perputaran roda kehidupan[3] Seharusnya wanita indonesia saat ini memahami secara benar makna hari kartini pada 21 april bukan hanya sekedar mengetahui tapi mulai menggerakan kekuatan kartini pada saat ini jangan hanya memandang kalau wanita hanya saja mengandalkan sifat feminim tapi juga bisa memperdayakan dirinya dalam segala kesempatan Leidenfrost (1992: 115) mengatakan bahwa pemberdayaan diri berarti kekuatan untuk melakukan sesuatu dapat berasal dari pengetahuan, pengalaman, keterampilan yang dimiliki. Walau pada konteks saat ini banyak perempuan melakukan pekerjaan menyerupai beban yang ditanggung oleh kaum pria seharusnya kita bisa mengambil sisi yang positifnya karena dengan hal itu bisa memberikan bahwa tanggung jawab yang wanita pegang dapat mempengaruhi kesetaraan struktur yang lebih besar (sosial,ekonomi,politik) dalam kehidupan yang mengancam manusia dan lingkungan.

Jadi dapat disimpulkan seharusnya wanita indonesia memiliki jiwa yang penuh powerfull and action for life dengan melihat konsep kekuatan dan kisah dari pejuang wanita indonesia kita yaitu Raden Ajeng Kartini yang penuh akan keinginan dan motivasi bagi para kaum wanita selama dia berjuang mendapatkan posisi bahwa wanita memiliki posisi sejajar dan memiliki kesamaan dengan kaum pria. Tapi pada satu sisi wanita memiliki kemampuan dalam jiwa sosial dan kepekaan terhadap kehidupan seperti dapat mengambil pekerjaan yang seharusnya tidak sesuai dengan kodratnya dalam menggantikan posisi laki-laki seperti (tukang beca dll) untuk menghidupi keluarga, Melihat kondisi lingkungan dan perlakuan yang tidak benar atau sesuai nurani, akan timbul gejolak emosi pada diri seseorang. Menurut teori kognitif dari Richard Lazarus dan koleganya (Morgan, 1986), bahwa emosi yang kita rasakan berasal dari penilaian, atau evaluasi tentang informasi yang datang dari situasi lingkungan. Ingatan masa lalu berhadapan dengan situasi yang sarna, kecenderungan untuk menanggapi dengan cara tertentu, dan mempertimbangkan konsekuensi tindakan yang mungkin hasil dari keadaan emosi masuk ke dalam penilaian .

Banggalah menjadi wanita Indonesia dengan jiwa dan raga yang tertanam dari seorang wanita yang sangat luar biasa yaitu R.A Kartini. Semoga dengan adanya artikel ini bisa membuat perempuan indonesia menjadi next of  R.A Kartini bumi pertiwi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s