Masihkah buku menjadi jendela kita? : “Buku adalah jendela dunia”

infografis artikel bukuMasihkah buku menjadi jendela kita? : “Buku adalah jendela dunia”

 

“yang paling berbahaya dari rendahnya minat baca adalah tingginya minat berkomentar”

Zed RS

Pada pertengahan bulan Mei, tepatnya 17 Mei 2016 merupakan Hari Buku Nasional. Penentuan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional sendiri merupakan ide Mentri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar 2002. Ide awal pencetusan Hari Buku Nasional ini datang dari golongan masyarakat pecinta buku, yang bertujuan memacu minat atau kegemaran membaca di Indonesia, sekaligus menaikkan angka penjualan buku. Hari buku Nasional ini diharapkan dapat meningkatkan dan melestarikan budaya membaca buku, karena dengan terciptanya budaya membaca yang baik dan teratur maka ilmu pengetahuan akan semakin bertambah. Budaya membaca bisa didefinisikan sebagai kegiatan positif yang dilakukan untuk melatih otak agar mampu menyerap segala informasi yang diterima seseorang dalam kondisi dan waktu tertentu.

Apabila melihat potret realitas Indonesia saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa buku telah tertingggal jauh oleh kecanggihan teknologi yang membuat generasi zaman sekarang seakan tutup mata untuk melirik buku. Survei menunjukan bahwa Indonesia menduduki tempat terendah dalam minat baca di kawasan Asia Timur (OECD, 2009) dan hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat serius dalam membaca, rata-rata orang Indonesia membaca buku pertahun yaitu kurang dari (<) 1 judul buku, sedangkan Jepang bisa sampai 10-15 buku dalam sehari dan Amerika bisa sampai 20-30 judul buku dalam sehari (UNESCO, 2012). Lantas apa peran kita sebagai generasi muda untuk fenomena yang begitu tragis tentang minat orang Indonesia dalam membaca buku ini? Untuk itu sebenarnya dengan adanya peringatan Hari Buku Nasional ini setidaknya kita mampu menumbuhkan kecintaan terhadap membaca buku, karena pada hakikatnya membaca buku adalah kebutuhan setiap individu. Problematika mendasar masalah minat baca pada masyarakat indonesia adalah pada tingkat intensitas aktivitas membacanya yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan asia. Faktor budaya dapat dikatakan sebagai penyebab dari permasalahan tersebut dimana budaya lisan dan visual di Indonesia lebih dominan dan menunjukkan angka mayoritas terhadap budaya baca. Permasalahan tersebut juga dipengaruhi oleh seberapa jauh proses pengenalan perilaku dan minat baca sedini mungkin. Untuk hal tersebut peran orang tua dan lingkungan anak lebih diutamakan sebagai pembentukan semangat membaca dalam diri anak. Pada umumnya anak yang gemar membaca mendapat pengaruh dari orang tua maupun lingkungannnya yang kemudian pengaruh itu berkembang menjadi stimulus pada si anak untuk menumbuhkan minat dan perilaku gemar membaca.

Lalu, seberapa jauh masyarakat Indonesia sadar akan fenomena buku di zaman sekarang ini? Ini perlu menjadi cambukan besar bagi kita generasi muda agar setidaknya merubah minat baca buku menjadi lebih tinggi. Kemudian penting gak sih baca buku? Menurut Maghfiratul Istiqamah salah satu Founder Ulet Buku daerah Semarang dengan membaca buku mata akan menjadi jauh lebih sehat, kemudian di buku tidak akan ada notifikasi “smartphone” yang mengganggu, kita juga mampu merasakan serunya berada di toko buku, selain manfaat secara keilmuan buku memang sangat kaya buku juga mampu membuat ruangan jauh lebih bagus dan keren. Manfaat dari membaca buku diatas hanya sebagian kecil dari banyaknya manfaat membaca buku, hanya saja masyarakat khususnya Indonesia terlalu terlena dengan kecanggihan teknologi di zaman sekarang. Zed RS berkata “yang paling berbahaya dari rendahnya minat baca adalah tingginya minat berkomentar” fenomena ini cukup nampak nyata, semakin rendahnya minat baca seseoarang dia akan semakin mudah berkomentar, kenapa demikian? Karena ketika bacaan yang kita dapat itu kurang kita akan mudah mengkritik atau memberi komentar kepada hal-hal yang sebenarnya belum kita ketahui seluk beluknya. Jadi apakah buku masih menjadi jendela kita?

Dengan fenomena diatas tumbuhlah gagasan bahwa membaca dapat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang yang disebut dengan Biblioterapi (jack & Ronan, 2008) sehingga apa yang dibaca oleh seseorang akan berpengaruh pada cara pandang, sikap dan reaksi terhadap sesuatu hal. Oleh karena itu bacaan menjadi penting untuk diperhatikan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Istilah biblioterapi mula-mula muncul pada awal abad 20, Crothes tahun 1916 mengenalkan istilah ini. Biblioterapi merupakan terapi memberikan buku atau cerita bertema tertentu terkait dengan permasalahan pribadi dan sosial untuk membantu individu atau kelompok agar memperoleh insight mengenai masalah pribadinya dan belajar cara-cara yang lebih sehat dalam menghadapi kesulitan (Heath dkk, 2005;  Cook dkk, 2006). Biblioterapi dibedakan menjadi dua yaitu 1) biblioterapi kognitif 2) biblioterapi afektif.

Biblioterapi kognitif ini meyakini bahwa proses belajar merupakan mekanisme utama dari sebuah perubahan dan buku-buku non fiksi dipilih untuk mengajarkan seseorang sebagai bentuk intervensi. Asumsi dasarnya behavioral-kognitif, yakni semua perilaku adalah hasil belajar, dan karenanya segala sesuatu dapat dipelajari dibawah bimbingan yang tepat. Sedangkan biblioterapi afektif berakar pada teori psikodinamik yang berpandangan: penggunaan bacaan untuk membuka pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan pengalaman seseorang. Asumsi dasarnya: seseorang menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti represi untuk melindungi diri  dari sesuatu yang menyakitkan. Ketika menggunakan mekanisme pertahanan diri, individu menjadi tidak terhubung dengan emosinya, tidak sadar perasaan yang sesungguhnya, sehingga tidak dapat menyelesaikan permasalahan secara konstruktif. Cerita akan membantu dengan memberi kesempatan individu untuk mendapatkan insight.

 

FOKUS BIBLIOTERAPI:

Biblioterapi remedial: ditujukan pada penggunaan klinis untuk membimbing pembaca yang mengalami masalah emosi dan perilaku. Gladding (2000): biblioterapi dapat digunakan sebagai bentuk konseling remediasi yaitu konseling yang bertujuan untuk mengoreksi, misalnya membantu individu yang memiliki harga diri rendah dan kecemasan tinggi. Biblioterapi perkembangan: membimbing pembaca untuk mengalami interaksi dinamis antar kepribadian pembaca dan bacaan. Biblioterapi perkembangan menurut Cook, dkk (2006) dirancang sebagai pendekatan proaktif yang ditujukan untuk memunculkan perilaku atau memudahkan seseorang dalam memperoleh solusi-solusi dalam situasi spesifik.

Berikut ini kelebihan penggunaan biblioterapi (Jack & Ronan, 2008)

  1. Meningkatkan pemahaman mengenai reaksi psikologis dan fisiologis dirinya terhadap frustrasi dan konflik,
  2. Meningkatkan pemahaman antara terapis dan klien yang dapat meningkatkan penyembuhan psikologis
  3. Mendorong verbalisasi masalah-masalah yang secara umum sulit disampaikan
  4. Menstimulasi berpikir secara konstruktif dalam sesi-sesi terapi dan menganalisa sikap-sikap dan pola-pola perilaku selanjutnya,
  5. Memperkuat kemunculan perilaku dengan aturan-aturan dan contoh yang terkendala pola-pola sosial dan budaya dan pola perilaku infantil yang terhambat
  6. Menstimulasi imajinasi.

 

Melalui hari buku Nasional ini, mari kita kembali melestarikan budaya membaca buku. Bersama-sama kita kembalikan budaya membaca di lingkungan sekitar kita.

Yuk, kita kembali membaca dan nikmati buku!

 

 

 

 

 

 

Sumber:

http://cibubur.globalmandiri.sch.id/component/content/article/310-sejarah-hari-buku-nasional.html

http://www.riaupos.co/1929-opini-hari-buku-dan-masalah-minat-baca-.html#.V0W2vDV97Dd

Jack, S. J., & Ronan, K. R. (2008). Bibliotherapy: Practice and research. School Psychology International, vol 29 (2), 161-182.

http://kangkoez9.blogspot.co.id/2009/05/kajian-terhadap-fenomena-minat-baca.html

Harper, E. (1989). Bibliotherapy intervention exposure and level of emotional awareness among students with emotional and behavioral disorder. Thesis (unpublished). Kent state university.

Cook, K. E., Earless-Vollrath, T., & Ganz, J. B. (2006). Bibliotherapy. Intervention in School and Clinic, 42 (2), 91-100.

Gladding, S. T. (2000). Counseling: A Comprehensive Profession. Fourth edition. New Jersey: Prentices-Hall, Inc.

http://babongpedia.blogspot.co.id/2015/05/selamat-hari-buku-nasional.html

https://polka.id/peringatan-hari-buku-nasional-dan-pentingnya-membaca/

http://www.riaupos.co/1929-opini-hari-buku-dan-masalah-minat-baca-.html#.V0W8ozV97Df

Advertisements

2 thoughts on “Masihkah buku menjadi jendela kita? : “Buku adalah jendela dunia”

  1. It iss perfect timᥱ to make some plans forr the futurᥱ and it’s tіme to bee happy.
    I have read this post ɑnd if I ϲould I wish to sugɡest you some interesting thіngs or advice.
    Maybe you could writе next artiсles referring too this article.

    I desire to rеad even more things about it!

    • Hi, Jason! Thank you for visiting our blog and giving we some advice. We’ll write an article reffered to this topic. But, we’re apologising that we couldn’t write it as soon as possible. Nice to know you, Jason.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s