Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab Membentuk Ketahanan Mental

Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab Membentuk Ketahanan Mental

 

Kondisi kehidupan yang semakin kompleks dan tidak memanusiakan manuisa berdampak pada kondisi mental. Kondisi mental ini diperparah banyaknya tontonan yang tidak menyuguhkan sebuah tuntunan yang baik. Misal, banyaknya tayangan yang menampilkan hedonis, kapitalistik,  pragmatis, individualistik, dan bahkan gaya hidup yang bebas menjadikan rapuhnya kondisi mental. Rapuhnya kondisi mental ini salah satunya berdampak pada penyalahgunaan terahadap obat-obatan terlarang. Hal ini sebagai alternatif jalan keluar dari segala macam ekspektasi yang diinginkan akan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang diharapkan.

Sesuai dengan apa yang dirilis oleh kantor berita Antara Jakarta yang bersumber dari Badan Narkotika Nasional (BNN) berdasarkan laporan UNODC (lembaga survey internasional) yang menempatkan Indonesia pada tahun 2015 lalu pada posisi peringkat pertama mengenai peredaran narkotika di wilayah ASEAN. Kemudian berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BBN dan Universitas Indonesia bahwa pengguna obat-obatan terlarang tercatat dimulai dari rentang usia 10 sampai 59 tahun (Sumber: http://www.antaranews.com).

Berdasarkan data dari BNN tersebut mengindikasikan bahwa kualitas mental masyarakat Indonesia memiliki ketahanan mental yang  rapuh. Indikator yang dapat dijadikan dasar adalah adanya mental-mental yang berorientasi pada hasil akhir yang baik (best output) akan tetapi tidak mengedepankan pada proses yang baik yang dapat dilakukan (best process). Sehingga menjadikan banyaknya masyarakat Indonesia yang mudah mengambil jalan-jalan pintas yang dianggap sesuai agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan.

Mental pragmatis, hedonis, dan praksis ini merupakan indikator yang nyata. Di mana ketika mereka telah sampai pada tujuan yang diinginkan dengan segala macam bentuk popularitas dan fenomena puncak kejayaan, menjadikan banyak yang tidak tahan dengan godaan karena tidak memiliki pondasi dasar yang kokoh. Kemudian menyebabkan  banyak yang terjerat pada pusaran narkoba. Hal ini terbukti, berdasarkan realitas di masyarakat dapat menyaksikan di televisi akhir-akhir ini banyak orang-orang berurusan dengan hukum akibat penyalahgunaan obat-obatan terlarag.

Orang-orang tersebut antara lain adalah selebritis, pimpinan partai politik, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), penegak hukum, bahkan seorang hakim yang memiliki kewenangan untuk mengadilipun akhirnya diadili. Tidak sampai di situ juga, mahasiswa dan pelajar yang belum berpenghasilanpun ikut terjerat barang haram narkoba. Fakta ini mengindikasikan bahwa narkoba tidaklah pandang bulu dalam menjerat para penggunanya yaitu masyarakat Indonesia yang memiliki ketahanan mental yang lemah (Purwowiyoto: Tabloid Profesi Kardiovaskuler, 2014).

Di sisi lain pendidikan yang didapat seeorang sampai pada jenjang yang tinggi pun belum tentu menjadi jaminan dan manifestasi akan kondisi ketahanan mental yang kokoh. Sebab, jika dalam konteks ini pendidikan yang ada hanya sebatas membicarakan tahu apa (kognitif). Maka, tanpa adanya implementasi dan dibiasakan sampai dengan kapanpun tak akan mampu mewujudkan bangunan ketahanan mental yang kokoh.

Boomingnya character building pada tahun 2013 dari implementasi kurikulum 2013 yang berbasis karakterpun tak berdampak secara signifikan terhadap membangun karakter yang dimiliki setiap orang. Akan tetapi, semakin hari kualitas dari karakter masyarakat Indonesia makin mencemaskan. Kasus-kasus yang melibatkan siswa misalnya, banyaknya siswa yang tidak memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik serta dinilai tidak memiliki kesalehan, baik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat menunjukan adanya sebuah hal yang salah dengan sistem pendidikan nasional Indonesia yang menekankan karakter tersebut (Wijaya: Tribun Jateng, 2015).

Hampir setiap hari kita bisa menyaksikan berbagai perilaku penyimpangan dalam realitas sosial. Seperti menurunya moral dan tata krama sosial dalam praktik kehidupan sekolah maupun masyarakat, yang pada dasarnya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal masyarakat setempat. Bahkan justru sering terlibat dalam berbagai tindakan kekerasan massal dan perilaku yang menyimpang lainnya termasuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Potret Mental Masyarakat Indonesia

Dalam bukunya yang berjudul, Pribadi karya Prof. Hamka memberikan gambaran tentang sosok manusia yang pandai tetapi tidak memiliki pribadi yang unggul: “Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi “mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya. Tidak memiliki pribadi yang kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiaannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup (Hamka: Bulan Bintang, 1982).

Pendapat yang hampir sama dijabarkan oleh budayawan Mochtar Lubis mengenai kondisi mental masyarakat Indonesia yang memberikan deskripsi mengenai karakter bangsa Indonesia yang sangat negatif pada masanya. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 6 April 1977, Mochtar Lubis mendeskripsikan ciri-ciri umum manusia Indonesia sebagai berikut: munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya. Bahkan ada bagian paling menarik dari pemaparan yang digambarkan oleh beliau pada ciri kelima manusia Indonesia yaitu  mempunyai watak yang lemah dan karakter yang kurang kuat (Lubis: Yayasan Obor Indonesia, 2001).

Sehingga jelaslah, gambaran mental masyarakat Indonesia tak jauh beda kondisi dulu dengan kondisi sekarang. Memang, bisa jadi pendapat para tokoh tersebut hanya dapat dijadikan sebagai sebatas opini saja. Sebab, kita tidak mengetahui kondisi yang senyatanya pada waktu itu. Sedangkan, jika kalimat itu diterapkan pada masa sekarang banyak bukti yang dapat dijadikan dasar. Contoh yang konkrit misalnya, banyak pejabat, tokoh intelektual, publik figur, sampai dengan pelajar yang tak berpenghasilanpun terjerat pada yang dinamakan barang haram narkoba.

Itulah potret mental manusia Indonesia yang kurang kuat dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Begitu mudah, apalagi jika dipaksa dan demi untuk survive bersedia mengubah keyakinannya. Ketika kondisi mental masyarakat Indonesia seperti itu, hal negatif pasti akan sangat mudah untuk menginjeksi.

Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab

Berdasarkan rekomendasi World Health Organization (WHO) seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat apabila memenuhi 4 unsur. Unsur tersebut yang pertama adalah sehat secara jasmani (fisik), sehat secara emosional (rohaniyah), sehat secara spiritual, dan sehat secara sosial. Empat unsur hal dasar ini merupakan syarat utama seseorang dikatakan memiliki kondisi mental yang sehat atau tidak. Namun hal dasar ini tidaklah cukup ketika dijadikan dasar untuk membentuk bangunan ketahanan mental yang kokoh. Karena komponen ini hanya bersifat pondasi dasar sehingga dibutuhkan komponen-kompeonen lain agar mampu membentuk struktur bangunan mental yang kuat.

Salah satunya agar mampu membentuk struktur bangunan ketahanan mental yang kuat yaitu dengan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tidak lain adalah proses aktualisasi potensi diri manusia untuk menjadi lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh  salah satu pakar pendidikan Indonesia, Munif Chatib tujuan akhir pendidikan yaitu mampu memanusiakan manusia. Pernyataan ini mendapatkan persetujuan dari definisi pendidikan itu sendiri yang berasal dari kata “didik” yang mendapat awal “pe” dan akhiran “an” yang mengandung arti perbuatan mendidik (Chatib: Kaifa, 2012).

Yang menjadi menarik adalah seperti apakah pendidikan yang berkualitas tersebut. Pendidikan yang berkualitas tak lain bukanlah yang melangit dengan menggunakan bahasa-bahasa ilmiah yang sulit dipahami. Akan tetapi yang bersifat organik sehingga mampu diserap oleh diri sendiri dan lingkungan yang ada disekitar. Dengan demikian, pendidikan yang mampu membangunkan sisi kemanusiaan (karakter) dan memiliki adab yang mampu membentuk kokohnya mental masyarakat Indonesia (Latif: Mizan, 2014).

Dalam hal ini, blue print pendidikan Indonesia secara idealitas telah tercantum dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia ke-IV. Di mana tujuan pendidikan Indonesia yaitu mampu mencerdasakan kehidupan bangsa. Kemudian dispesifikasikan kembali ke dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 3 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Sehingga jelas, blue print tersebut ditujukan untuk mampu menciptakan manusia Indonesia yang paripurna. Akan tetapi, secara realita pendidikan yang ada hanyalah mendewakan salah satu komponen dasar yang dimiliki manusia Indonesia yaitu segi kognitif. Hal ini berdampak kepada hasil output yang hanya sebatas “tahu apa”. Setelah itu, yang terjadi pendidikan hanyalah menyuguhkan manusia-manusia yang tak ubahnya seperti mesin ataupun robot (Chatib: Kaifa, 2012).

Munculnya gagasan mengenai program pendidikan karakter di Indonesia bisa dimaklumi. Sebab selama ini, dirasakan proses pendidikan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter apalagi beradab. Bahkan, banyak yang menyebut bahwa pendidikan Indonesia telah gagal termasuk pendidikan karakter itu sendiri. Karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang piawai dalam soal ujian, berotak cerdas, tetapi memiliki ketahanan mental dan moral yang lemah.

Banyak pakar bidang moral dan agama yang sehari-hari mengajar kebaikan, tetapi perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Bahkan sejak kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, kebersihan dan jahatnya kecurangan. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan di atas kertas dan dihafal sebagai bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar dalam kertas ujian (Husaini: Cakrawala Publishing, 2012).

Jadi tidaklah salah ketika pendidikan karakter yang ada akan tetapi pengajar dan yang diajar tidak mepunyai karakter dan bahkan memiliki adab. Seperti halnya diberikan pengetahuan mengenai seluk beluk mengenai narkoba dan bahayanya melalui pendidikan anti narkoba akan tetapi tetap saja menggunakan. Sebab dalam konteks ini pendidikan karakter dan adab hanya sebatas ditujukan sebagai transfer of knowladge. Sehingga, pendidikan karakter akan menjadi percuma ketika tidak diinternalisasikan nilai-nilai yang ada. Karena hal ini hanya akan menghasilkan sebatas pengetahuan berupa karakter saja bukan menjadi kepribadian yang memiliki adab yang melekat dalam setiap tingkah laku.

Mental yang Kokoh

Ada sebuah kalimat yang tidaklah asing ditelinga. Kalimat tersebut yaitu mensana in corporisano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Slogan itu sangatlah tepat ketika dinisbatkan kepada orang-orang yang tidak mengkonsumsi narkoba. Hal ini terbukti, orang yang mengkonsumsi narkoba secara fisiologis akan terganggung fungsi-fungsi tubuh yang ada. Dampak dari itu semua akan mengganggu kondisi kesehatan mental yang ada.

Jika merujuk kalimat itu secara utuh tidaklah relevan ketika dinisbatkan untuk mampu mewujudkan ketahanan mental yang kokoh sehingga dapat mencegah penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Akan tetapi, ketika redaksi tersebut susunan kalimatnya dirubah maka bisa jadi untuk mampu menghalau penyalahgunaan penggunaan obat-obatan terlarang. Sehingga redaksinya menjadi “di dalam jiwa yang kuat terdapat tubuh yang sehat”. Karena jiwa yang kuat mampu membentuk ketahanan mental yang kokoh.

Dasar lainpun memperkuat agar mampu membentuk ketahan mental yang kokoh. Hal ini terdapat dalam kutipan lagu kebangsaan kita yang telah dirumuskan oleh orang-orang hebat jauh sebelum Indonesia merdeka. Salah satu tokoh tersebut yaitu Ki Hajar Dewantara yang menginisiasi dan kemudian mengilhami W.R. Soepratman menuliskan lirik berupa “….bangunlah jiwanya bangunlah raganya….” pada lagu Indonesia Raya. Dengan demikian jelas, membangun jiwa adalah prioritas agar mampu membangun mental-mental yang kuat (Purwowiyoto: Tabloid Profesi Kardiovaskuler, 2014).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chatib, Munif. 2012. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa.

Hamka. 1982. Pribadi. Jakarta: Bulan Bintang.

Husaini, Adian. 2012. Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. Jakarta: Cakrawala Publishing.

Lubis, Mochtar. 2001. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Latif, Yudi. 2014. Mata Air Keteladanan: Pancasila Dalam Perbuatan. Bandung: Mizan.

Purwowiyoto, Budhi S. “Bangunlah Jiwaya (Deskripsi, Komparasi, Refleksi)”. Dalam Tabloid Profesi Kardiovaskuler. Edisi XIX. Jakarta.

Wijaya, Bhatara Dharma. 2016. “Potret Mentalitas Pendidikan”. Dalam Tribun Jateng, 7 April 2016. Semarang.

http://www.antaranews.com/berita/474528/bnn-transaksi-narkoba-indonesia-tertinggi-se-asean (Diakses, 15 Juni 2016).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s