Autisme isn’t Like You Think: Autisme dan Thomas Jefferson

image

Go to the edge of the cliff and jump off. Build your wings on the way down.
– Ray Bradbury

Pada awal bulan April, tepatnya 2 April 2016 merupakan Hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day). Peringatan tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian dunia terhadap individu autistik, bahwa mereka sama layaknya dengan individu lain, selain itu juga memberikan dukungan kepada orang tua yang diberikan amanah luar biasa dari Tuhan untuk merawat individu autistik.

Indonesia telah megenal Autisme sejak abad 19, fakta tersebut didukung dengan adanya pusat terapis bagi autisme, seminar-seminar dan gerakan sosial untuk individu autisme. Menurut data yang dirilis oleh Centre of Disease Control (CDS) di Amerika pada bulan Maret 2014, prevalensi (angka kejadian) autisme adalah 1 dari 68 anak atau secara lebih spesifik adalah 1 dari 42 anak laki-laki dan 1 dari 189 anak perempuan. Sedangkan di Indonesia sendiri, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun, tahun 2015 diperkirakan satu per 250 anak mengalami ganguan spektrum Autis dan terdapat kurang lebih 12.800 anak penyandang autisme dan 134.000 penyandang spektrum Autis di Indonesia.

Lalu, seberapa jauh masyarakat Indonesia mengetahui Autisme? Hal ini penting diketahui, khususnya bagi orang tua individu autistik untuk mengupayakan dukungan moral yang kuat serta menghadapi kecemasan terhadap anak mereka, penting pula bagi calon orang tua.

Individu autistik merupakan sebutan bagi mereka yang mempunyai karakteristik autisme. Kemudian, autisme didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthendkk, 1998). Autisme juga merupakan gangguan perkembangan syaraf yang kompleks ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi, perilaku terbatas dan berulang-ulang. Artinya, seseorang dengan kondisi tersebut gagal dalam memiliki minat dengan orang lain, sehingga tidak membantu orang lain untuk dapat mengikuti dunia mereka. Ciri tersebut sudah dapat diketahui sebelum anak berusia 3 tahun.

Autisme ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiatris Amerika yang bernama Leo Kanner. Ia menemukan sebelas anak yang memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain serta sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya. Sehingga, dapat dikatakan indivu autistik ini seperti hidup dengan dunianya sendiri. Perilaku-perilaku yang muncul pada individu autistik kemudian berdampak pada cara pandang orang lain di luar dirinya. Salah satunya adalah membuat orang berpandangan negatif dan kurang peduli terhadap kondisi mereka. Beberapa masalah tersebut seringkali mencemaskan orang tua individu itu sendiri.

Namun, bagi orang tua jangan khawatir, sudah banyak lembaga sosial berberntuk klinik maupun rumah terapis yang menyediakan pelayanan untuk menangani autisme. Adapun beberapa jenis penanganan yang dapat dilakukan, yaitu Intervenvi Perilaku Sosial, Analisis perilaku terapan atau ABA (Applied Behaviour Analysis), dan Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children (TEACCH). Tentu saja, orang tua tidak melulu harus khawatir, akan tetapi justru harus melawan kecemasannya untuk turut andil dalam penanganan-penanganan agar harmonis dan efektif. Oleh karena itu, orangtua yang mendeteksi bahwa anak mereka menunjukkan proses tumbuh kembang yang ‘berbeda’ dengan anak lainnya, usahakan untuk:

1. Tenang (Tidak perlu panik dan mencari pembenaran) dan menerima kenyataan.
2. Mencatat secara rinci kesulitan dan gangguan yang dialami anak
3. Mengkonsultasikan pada ahli tumbuh kembang anak seperti Dokter spesialis tumbuh kembang anak atau Psikolog
4. Bekerjasama dengan terapis membuat rencana program individual dan target yang ingin dicapai
5. Proaktif ikut belajar menjalankan dan melatih anak di lingkungan rumah sesuai metode yang disarankan
6. Bersikap optimis terhadap anak dan terapis
7. Menghargai kemajuan (walau kecil) yang dicapai oleh anak; dan
8. Mengikutsertakan anggota keluarga lain untuk lebih memahami kesulitan anak dan memberikan dukungan positif selama proses intervensi dan ikut memikirkan solusi jangka panjang

Dipandang dari sisi positifnya, individu autistik ini juga memiliki beberapa kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Anak autisme dengan kemampuan bahasa sebelum usia enam tahun, memiliki IQ di atas 50, dan memiliki keterampilan  yang diprediksi akan lebih baik; hidup mandiri. Inggris pada tahun 2004 melakukan studi dari 68 orang dewasa yang didiagnosis sebelum 1980 sebagai anak-anak autis dengan IQ di atas 50 menemukan bahwa 12% mencapai tingkat tinggi kemandirian sebagai orang dewasa, 10% mempunyai beberapa teman dan umumnya adapat bekerja, tetapi diperlukan beberapa dukungan, 19% memiliki kemandirian tetapi umumnya tinggal di rumah dan membutuhkan dukungan dan pengawasan dalam kehidupan sehari-hari, 46% diperlukan perawat spesialis dari penyedia fasilitas hunian yang mengkhususkan diri dalam ASD dengan dukungan tingkat tinggi dan 12% membutuhkan tingkat tinggi perawatan di rumah sakit. (Howlin, et all, 2004).  Dan masih banyak penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa individu autistik memiliki kemampuan lebih yang dapat dikembangkan.

Sebagai manusia, sudah seharusnya kita memahami perbedaan yang dimiliki satu orang dengan orang lainnya. 

Thomas Jefferson, dilahirkan di Shadwell, Virginia, 13 April 1743 merupakan salah satu tokoh bersejarah yang memiliki karakteristik autisme. Karakteristik autisme yang ada pada tokoh ini adalah menunjukkan bahwa Jefferson seorang yang pemalu, memiliki ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain, memiliki kesulitan berbicara di depan umum dan sensitif terhadap suara keras. Juga, mirip dengan Einstein, Jefferson memiliki kesulitan dengan keuangannya. Meskipun ia terus mencatat secara akurat  semua transaksi keuangannya, Ia meninggal dalam keadaan berhutang.  Selain  sangat eksentrik, Jefferson  juga memiliki  tingkah “abnormal” seperti memakai sandal untuk pertemuan penting dan selalu membawa  burung Mocking Bird yang  selalu nangkring di bahunya. Burung Mocking Bird  ini membuat  dia tenang selama berinteraksi sosial. Namun, walaupun Thomas Jefferson memiliki karakteristik autisme, bukan berarti dia menjadi individu yang tak berdaya dan tak dapat berkontribusi di masyarakat maupun dunia. Dengan latar belakang tersebut, dia mampu menjadi seorang  Pencetus Deklarasi Kemerdekaan  (1776), Presiden Amerika Serikat  yang ketiga dengan masa jabatan dari tahun 1801 hingga 1809 dan Bapak Pendiri Amerika Serikat. 

Jadi, pelajaran yang dapat diambil dari tokoh adalah autisme yang menempel pada Thomas Jefferson membuktikan bahwa Autisme tidak melulu merugikan orang sekitar, ia mampu bangkit dengan keunikan perilaku, pikiran dan kemampuanya untuk berkontribusi dalam perubahan besar dunia. Seringkali kita memandang Autisme hanya dari sisi perilakunya, sekarang mari kita coba untuk lebih memahami dan peduli dengan potensi yang dimiliki oleh individu autistik.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kesadaran_Autisme_Sedunia
http://event.indonesiakreatif.net/events/hari-peduli-autisme-sedunia-world-autism-awareness-day-2016-04-02/
http://www.kidaba.com/autis-autisme-kid-aba-jakarta-bekasi-indonesia/autisme/autis-autism-autisme/1000002/autis-autisme-sejarah
https://motivatorbili.wordpress.com/2015/10/28/tokoh-tokoh-dunia-penyandang-autisme/
https://cauchymurtopo.wordpress.com/2014/04/29/orang-orang-jenius-yang-menderita-autisme/
http://dikaraharja955.blogspot.co.id/2015/12/isi-presentasi-tentang-tokoh-tokoh.html
http://thanty92.blogspot.co.id/2011/01/makalah-kepemimpinan-thomas-jefferson.html
http://lisnachofia.blogspot.co.id/2012/02/thomas-jefferson.html

Autisme – Pengertian, Penyebab, Gejala, Ciri & Terapi

http://www.pengertianpakar.com/2015/04/pengertian-autisme-dan-pembahasannya.html

Penyebab Autis Menurut Para Ahli

https://binhasyim.wordpress.com/2010/03/10/prognosis-autisme/
http://www.alodokter.com/autisme/pengobatan/

https://www.google.com/search?q=Foto+Thomas+Jefferson&rls=moz:distributionID:moz:locale:moz:official&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiu7czp2unLAhUD26YKHVC9AIsQ_AUIBygB&biw=1143&bih=566#imgdii=PJV2zon5ildI9M%3A%3BPJV2zon5ildI9M%3A%3BUDr9KJdi9j7NTM%3A&imgrc=PJV2zon5ildI9M%3A

http://himpsi.or.id/43-semua-kategori/non-menu/pengumuman/56-hari-peduli-autisme-2015

Jumlah Penderita Autis di Indonesia

Advertisements

Download Jurnal Psikologi

Download jurnal-jurnal nasional dan internasional Psikologi lewat link berikut ini:

Bedah Tokoh: Elok Farida Husnawati

Elok FaridaSalah satu mahasiswa yang berprestasi di Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang adalah Elok Farida Husnawati. Dia pernah mewakili Fakultas Psikologi Unissula dalam ajang Pimnas (Pekan Ilmiah Nasional) 28, UHO, Kendari yang diadakan oleh Dikti, oktober 2015 lalu. Elok mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dalam bidang Penelitian Sosial Humaniora bersama dengan anggota kelompoknya. Judul penelitian yang dapat membawanya sampai Pimnas yaitu Efektifitas Penggunaan Afirmasi Diri Dalam Menurunkan Ancaman Stereotipe Pada Mahasiswa Sulawesi Tenggara. Berkat keterlibatannya dalam PKM ini, elok pernah menjadi pemakalah di national conference untuk mempublikasikan penelitian yang telah dia lakukan.

Continue reading

Resensi Buku: Membuat Skala Psikologi Berdasarkan Teori dan Pengukurannya

Resensi Buku Manusia dan PengukurannyaNama Drs. Saifuddin Azwar, MA. Mungkin sudah tidak asing lagi di telinga dan ingatan para mahasiswa psikologi. Ya, karena Saifuddin Azwar merupakan penulis buku Sikap Manusia yang sudah tembus belasan kali cetak dan sering dijadikan bahan pembelajaran bagi mahasiswa psikologi, khususnya dalam hal pengukuran sikap secara kuantitatif.  Sebagai seseorang yang sudah menempuh pendidikan dibidang statistika dan pengukuran penndidikan dari The University of Lowa, Lowa City, USA, ia memang sangat memahami seluk beluk mengenai teori dan pengukuran skala sikap serta beragam cara metode pengukurannya.

Buku sikap manusia (teori dan pengukurannya) memang menyajikan banyak sekali dasar teori dari pengukuran sikap, lalu metode-metode pengukuran sikap, sampai cara menentukkan skala yang dibuat reliabel dan valid dengan perhitungan statistika tentunya. Buku ini menjadi acuan yang tepat bagi para mahasiswa psikologi dan sejenisnya untuk mempelajari khususnya bagaimana cara membuat skala sikap yang baik dan reliabel sesuai kaidah-kaidah keilmiahan. Continue reading

Resensi Buku: Merek dan Psikologi Konsumen

Resensi Buku Merk dan Psikologi KonsumenKonsumen sekarang semakin tidak mudah diprediksi bahkan menjadi semakin kritis. Semakin menjurut dan tidak mudah merasa puas menjadi ciri-ciri konsumen di era global. Dunia yang semakin global menjadi tantangan bagi perusahaan karena persaingan semakin ketat dan konsumen menjadi semakin banyak pilihan. Interaksi konsumen dengan strategi pemasaran berbagai produk dan merekpun tak terhindarkan.

Konsumen yang dinamis dan interaksinya dengan aspek lain dalam proses-pengambilan keputusan, pembelian begitu unik dan menarik untuk dipelajari. Ragam konsumen secara psikologis tercermin dalam motivasi, sikap dan persepi mereka. Keragaman ini menciptakan variasi dalam pemrosesan informasi konsumen dan hasilnya setiap konsumen akan memiliki perbedaan proses pengambilan keputusan pembelian. Continue reading

Resensi Buku: Psikologi Harapan

Resensi Buku Psikologi HarapanPsikologi harapan berarti mempercayai orang dan menyadari bahwa dalam diri setia orang terdapat kekuatan untuk berubah. Buku ini disusun untuk membangkitkan keyakinan diri dalam hidup, agar bangkit dari keputusasaan dan meminimalisir rasa psimis dalam diri.

Dasar kehidupan seseorang adalah harapan. Bila ada harapan, maka ada hidup – dan tidak ada jalan lain. Bila tidak ada harapan untuk masa depan, maka tidak ada kekuatan untuk saat ini. Sekali lilin harapan mati, maka jalanan menjadi berbahaya.

Harapan adalah keputusan dimana hanya ada sedikit bukti yang mendukung keputusan itu. Kenyataan mungkin lebih berat menunjukkan arah sebaliknya, yang mungkin membuat seseorang memutuskan, “Aku berhenti. Aku menyerah. Aku tidak dapat pergi lebih jauh lagi.” Harapan juga merupakan lahirnya sebuah keputusan untuk berhenti berpikir bahwa orang lain dapat membuat hidup Anda benar. Continue reading

Resensi Buku: Psikologi Eksperimen

Resensi Buku Psikologi EksperimenPenulis menyususun buku ini diharapkan dapat membantu kebutuhan para pembaca khususnya peneliti eksperimen baik dari bidang ilmu psikologi maupun bidang ilmu lainnya untuk menambah pengetahuan akan metode penelitian eksperimental untuk dijadikan sebagai sebagai sumber referensi.

Buku “Psikologi Eksperimen” ini berhasil dicetak berkat dukungan dari berbagai pihak setelah melalui perjalanan cukup panjang. Buku ini dapat tercetak setelah terinspirasi oleh asisten dosen mata pelajaran psikologi eksperimen pada dekade tahun 1980-an yaitu:  Dra. NKE Triwijayati, MA dan Dra. Zara Ambadar. Tulisan ini direvisi dan disempurnakan berkat bimbingan dari asisten dosen dekade tahun 1990-an  yaitu Komala, S.Psi. Buku ini akhirnya berhasil terwujud dan dicetak berkat dorongan dan sambutan baik dari Drs. Masri Sareb putra dari PT. Indeks. Continue reading