Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab Membentuk Ketahanan Mental

Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab Membentuk Ketahanan Mental

 

Kondisi kehidupan yang semakin kompleks dan tidak memanusiakan manuisa berdampak pada kondisi mental. Kondisi mental ini diperparah banyaknya tontonan yang tidak menyuguhkan sebuah tuntunan yang baik. Misal, banyaknya tayangan yang menampilkan hedonis, kapitalistik,  pragmatis, individualistik, dan bahkan gaya hidup yang bebas menjadikan rapuhnya kondisi mental. Rapuhnya kondisi mental ini salah satunya berdampak pada penyalahgunaan terahadap obat-obatan terlarang. Hal ini sebagai alternatif jalan keluar dari segala macam ekspektasi yang diinginkan akan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang diharapkan.

Sesuai dengan apa yang dirilis oleh kantor berita Antara Jakarta yang bersumber dari Badan Narkotika Nasional (BNN) berdasarkan laporan UNODC (lembaga survey internasional) yang menempatkan Indonesia pada tahun 2015 lalu pada posisi peringkat pertama mengenai peredaran narkotika di wilayah ASEAN. Kemudian berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BBN dan Universitas Indonesia bahwa pengguna obat-obatan terlarang tercatat dimulai dari rentang usia 10 sampai 59 tahun (Sumber: http://www.antaranews.com).

Berdasarkan data dari BNN tersebut mengindikasikan bahwa kualitas mental masyarakat Indonesia memiliki ketahanan mental yang  rapuh. Indikator yang dapat dijadikan dasar adalah adanya mental-mental yang berorientasi pada hasil akhir yang baik (best output) akan tetapi tidak mengedepankan pada proses yang baik yang dapat dilakukan (best process). Sehingga menjadikan banyaknya masyarakat Indonesia yang mudah mengambil jalan-jalan pintas yang dianggap sesuai agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan.

Mental pragmatis, hedonis, dan praksis ini merupakan indikator yang nyata. Di mana ketika mereka telah sampai pada tujuan yang diinginkan dengan segala macam bentuk popularitas dan fenomena puncak kejayaan, menjadikan banyak yang tidak tahan dengan godaan karena tidak memiliki pondasi dasar yang kokoh. Kemudian menyebabkan  banyak yang terjerat pada pusaran narkoba. Hal ini terbukti, berdasarkan realitas di masyarakat dapat menyaksikan di televisi akhir-akhir ini banyak orang-orang berurusan dengan hukum akibat penyalahgunaan obat-obatan terlarag.

Orang-orang tersebut antara lain adalah selebritis, pimpinan partai politik, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), penegak hukum, bahkan seorang hakim yang memiliki kewenangan untuk mengadilipun akhirnya diadili. Tidak sampai di situ juga, mahasiswa dan pelajar yang belum berpenghasilanpun ikut terjerat barang haram narkoba. Fakta ini mengindikasikan bahwa narkoba tidaklah pandang bulu dalam menjerat para penggunanya yaitu masyarakat Indonesia yang memiliki ketahanan mental yang lemah (Purwowiyoto: Tabloid Profesi Kardiovaskuler, 2014).

Di sisi lain pendidikan yang didapat seeorang sampai pada jenjang yang tinggi pun belum tentu menjadi jaminan dan manifestasi akan kondisi ketahanan mental yang kokoh. Sebab, jika dalam konteks ini pendidikan yang ada hanya sebatas membicarakan tahu apa (kognitif). Maka, tanpa adanya implementasi dan dibiasakan sampai dengan kapanpun tak akan mampu mewujudkan bangunan ketahanan mental yang kokoh.

Boomingnya character building pada tahun 2013 dari implementasi kurikulum 2013 yang berbasis karakterpun tak berdampak secara signifikan terhadap membangun karakter yang dimiliki setiap orang. Akan tetapi, semakin hari kualitas dari karakter masyarakat Indonesia makin mencemaskan. Kasus-kasus yang melibatkan siswa misalnya, banyaknya siswa yang tidak memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik serta dinilai tidak memiliki kesalehan, baik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat menunjukan adanya sebuah hal yang salah dengan sistem pendidikan nasional Indonesia yang menekankan karakter tersebut (Wijaya: Tribun Jateng, 2015).

Hampir setiap hari kita bisa menyaksikan berbagai perilaku penyimpangan dalam realitas sosial. Seperti menurunya moral dan tata krama sosial dalam praktik kehidupan sekolah maupun masyarakat, yang pada dasarnya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal masyarakat setempat. Bahkan justru sering terlibat dalam berbagai tindakan kekerasan massal dan perilaku yang menyimpang lainnya termasuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Potret Mental Masyarakat Indonesia

Dalam bukunya yang berjudul, Pribadi karya Prof. Hamka memberikan gambaran tentang sosok manusia yang pandai tetapi tidak memiliki pribadi yang unggul: “Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi “mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya. Tidak memiliki pribadi yang kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiaannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup (Hamka: Bulan Bintang, 1982).

Pendapat yang hampir sama dijabarkan oleh budayawan Mochtar Lubis mengenai kondisi mental masyarakat Indonesia yang memberikan deskripsi mengenai karakter bangsa Indonesia yang sangat negatif pada masanya. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 6 April 1977, Mochtar Lubis mendeskripsikan ciri-ciri umum manusia Indonesia sebagai berikut: munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya. Bahkan ada bagian paling menarik dari pemaparan yang digambarkan oleh beliau pada ciri kelima manusia Indonesia yaitu  mempunyai watak yang lemah dan karakter yang kurang kuat (Lubis: Yayasan Obor Indonesia, 2001).

Sehingga jelaslah, gambaran mental masyarakat Indonesia tak jauh beda kondisi dulu dengan kondisi sekarang. Memang, bisa jadi pendapat para tokoh tersebut hanya dapat dijadikan sebagai sebatas opini saja. Sebab, kita tidak mengetahui kondisi yang senyatanya pada waktu itu. Sedangkan, jika kalimat itu diterapkan pada masa sekarang banyak bukti yang dapat dijadikan dasar. Contoh yang konkrit misalnya, banyak pejabat, tokoh intelektual, publik figur, sampai dengan pelajar yang tak berpenghasilanpun terjerat pada yang dinamakan barang haram narkoba.

Itulah potret mental manusia Indonesia yang kurang kuat dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Begitu mudah, apalagi jika dipaksa dan demi untuk survive bersedia mengubah keyakinannya. Ketika kondisi mental masyarakat Indonesia seperti itu, hal negatif pasti akan sangat mudah untuk menginjeksi.

Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab

Berdasarkan rekomendasi World Health Organization (WHO) seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat apabila memenuhi 4 unsur. Unsur tersebut yang pertama adalah sehat secara jasmani (fisik), sehat secara emosional (rohaniyah), sehat secara spiritual, dan sehat secara sosial. Empat unsur hal dasar ini merupakan syarat utama seseorang dikatakan memiliki kondisi mental yang sehat atau tidak. Namun hal dasar ini tidaklah cukup ketika dijadikan dasar untuk membentuk bangunan ketahanan mental yang kokoh. Karena komponen ini hanya bersifat pondasi dasar sehingga dibutuhkan komponen-kompeonen lain agar mampu membentuk struktur bangunan mental yang kuat.

Salah satunya agar mampu membentuk struktur bangunan ketahanan mental yang kuat yaitu dengan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tidak lain adalah proses aktualisasi potensi diri manusia untuk menjadi lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh  salah satu pakar pendidikan Indonesia, Munif Chatib tujuan akhir pendidikan yaitu mampu memanusiakan manusia. Pernyataan ini mendapatkan persetujuan dari definisi pendidikan itu sendiri yang berasal dari kata “didik” yang mendapat awal “pe” dan akhiran “an” yang mengandung arti perbuatan mendidik (Chatib: Kaifa, 2012).

Yang menjadi menarik adalah seperti apakah pendidikan yang berkualitas tersebut. Pendidikan yang berkualitas tak lain bukanlah yang melangit dengan menggunakan bahasa-bahasa ilmiah yang sulit dipahami. Akan tetapi yang bersifat organik sehingga mampu diserap oleh diri sendiri dan lingkungan yang ada disekitar. Dengan demikian, pendidikan yang mampu membangunkan sisi kemanusiaan (karakter) dan memiliki adab yang mampu membentuk kokohnya mental masyarakat Indonesia (Latif: Mizan, 2014).

Dalam hal ini, blue print pendidikan Indonesia secara idealitas telah tercantum dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia ke-IV. Di mana tujuan pendidikan Indonesia yaitu mampu mencerdasakan kehidupan bangsa. Kemudian dispesifikasikan kembali ke dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 3 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Sehingga jelas, blue print tersebut ditujukan untuk mampu menciptakan manusia Indonesia yang paripurna. Akan tetapi, secara realita pendidikan yang ada hanyalah mendewakan salah satu komponen dasar yang dimiliki manusia Indonesia yaitu segi kognitif. Hal ini berdampak kepada hasil output yang hanya sebatas “tahu apa”. Setelah itu, yang terjadi pendidikan hanyalah menyuguhkan manusia-manusia yang tak ubahnya seperti mesin ataupun robot (Chatib: Kaifa, 2012).

Munculnya gagasan mengenai program pendidikan karakter di Indonesia bisa dimaklumi. Sebab selama ini, dirasakan proses pendidikan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter apalagi beradab. Bahkan, banyak yang menyebut bahwa pendidikan Indonesia telah gagal termasuk pendidikan karakter itu sendiri. Karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang piawai dalam soal ujian, berotak cerdas, tetapi memiliki ketahanan mental dan moral yang lemah.

Banyak pakar bidang moral dan agama yang sehari-hari mengajar kebaikan, tetapi perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Bahkan sejak kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, kebersihan dan jahatnya kecurangan. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan di atas kertas dan dihafal sebagai bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar dalam kertas ujian (Husaini: Cakrawala Publishing, 2012).

Jadi tidaklah salah ketika pendidikan karakter yang ada akan tetapi pengajar dan yang diajar tidak mepunyai karakter dan bahkan memiliki adab. Seperti halnya diberikan pengetahuan mengenai seluk beluk mengenai narkoba dan bahayanya melalui pendidikan anti narkoba akan tetapi tetap saja menggunakan. Sebab dalam konteks ini pendidikan karakter dan adab hanya sebatas ditujukan sebagai transfer of knowladge. Sehingga, pendidikan karakter akan menjadi percuma ketika tidak diinternalisasikan nilai-nilai yang ada. Karena hal ini hanya akan menghasilkan sebatas pengetahuan berupa karakter saja bukan menjadi kepribadian yang memiliki adab yang melekat dalam setiap tingkah laku.

Mental yang Kokoh

Ada sebuah kalimat yang tidaklah asing ditelinga. Kalimat tersebut yaitu mensana in corporisano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Slogan itu sangatlah tepat ketika dinisbatkan kepada orang-orang yang tidak mengkonsumsi narkoba. Hal ini terbukti, orang yang mengkonsumsi narkoba secara fisiologis akan terganggung fungsi-fungsi tubuh yang ada. Dampak dari itu semua akan mengganggu kondisi kesehatan mental yang ada.

Jika merujuk kalimat itu secara utuh tidaklah relevan ketika dinisbatkan untuk mampu mewujudkan ketahanan mental yang kokoh sehingga dapat mencegah penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Akan tetapi, ketika redaksi tersebut susunan kalimatnya dirubah maka bisa jadi untuk mampu menghalau penyalahgunaan penggunaan obat-obatan terlarang. Sehingga redaksinya menjadi “di dalam jiwa yang kuat terdapat tubuh yang sehat”. Karena jiwa yang kuat mampu membentuk ketahanan mental yang kokoh.

Dasar lainpun memperkuat agar mampu membentuk ketahan mental yang kokoh. Hal ini terdapat dalam kutipan lagu kebangsaan kita yang telah dirumuskan oleh orang-orang hebat jauh sebelum Indonesia merdeka. Salah satu tokoh tersebut yaitu Ki Hajar Dewantara yang menginisiasi dan kemudian mengilhami W.R. Soepratman menuliskan lirik berupa “….bangunlah jiwanya bangunlah raganya….” pada lagu Indonesia Raya. Dengan demikian jelas, membangun jiwa adalah prioritas agar mampu membangun mental-mental yang kuat (Purwowiyoto: Tabloid Profesi Kardiovaskuler, 2014).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chatib, Munif. 2012. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa.

Hamka. 1982. Pribadi. Jakarta: Bulan Bintang.

Husaini, Adian. 2012. Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. Jakarta: Cakrawala Publishing.

Lubis, Mochtar. 2001. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Latif, Yudi. 2014. Mata Air Keteladanan: Pancasila Dalam Perbuatan. Bandung: Mizan.

Purwowiyoto, Budhi S. “Bangunlah Jiwaya (Deskripsi, Komparasi, Refleksi)”. Dalam Tabloid Profesi Kardiovaskuler. Edisi XIX. Jakarta.

Wijaya, Bhatara Dharma. 2016. “Potret Mentalitas Pendidikan”. Dalam Tribun Jateng, 7 April 2016. Semarang.

http://www.antaranews.com/berita/474528/bnn-transaksi-narkoba-indonesia-tertinggi-se-asean (Diakses, 15 Juni 2016).

Advertisements

Masihkah buku menjadi jendela kita? : “Buku adalah jendela dunia”

infografis artikel bukuMasihkah buku menjadi jendela kita? : “Buku adalah jendela dunia”

 

“yang paling berbahaya dari rendahnya minat baca adalah tingginya minat berkomentar”

Zed RS

Pada pertengahan bulan Mei, tepatnya 17 Mei 2016 merupakan Hari Buku Nasional. Penentuan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional sendiri merupakan ide Mentri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar 2002. Ide awal pencetusan Hari Buku Nasional ini datang dari golongan masyarakat pecinta buku, yang bertujuan memacu minat atau kegemaran membaca di Indonesia, sekaligus menaikkan angka penjualan buku. Hari buku Nasional ini diharapkan dapat meningkatkan dan melestarikan budaya membaca buku, karena dengan terciptanya budaya membaca yang baik dan teratur maka ilmu pengetahuan akan semakin bertambah. Budaya membaca bisa didefinisikan sebagai kegiatan positif yang dilakukan untuk melatih otak agar mampu menyerap segala informasi yang diterima seseorang dalam kondisi dan waktu tertentu.

Apabila melihat potret realitas Indonesia saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa buku telah tertingggal jauh oleh kecanggihan teknologi yang membuat generasi zaman sekarang seakan tutup mata untuk melirik buku. Survei menunjukan bahwa Indonesia menduduki tempat terendah dalam minat baca di kawasan Asia Timur (OECD, 2009) dan hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat serius dalam membaca, rata-rata orang Indonesia membaca buku pertahun yaitu kurang dari (<) 1 judul buku, sedangkan Jepang bisa sampai 10-15 buku dalam sehari dan Amerika bisa sampai 20-30 judul buku dalam sehari (UNESCO, 2012). Lantas apa peran kita sebagai generasi muda untuk fenomena yang begitu tragis tentang minat orang Indonesia dalam membaca buku ini? Untuk itu sebenarnya dengan adanya peringatan Hari Buku Nasional ini setidaknya kita mampu menumbuhkan kecintaan terhadap membaca buku, karena pada hakikatnya membaca buku adalah kebutuhan setiap individu. Problematika mendasar masalah minat baca pada masyarakat indonesia adalah pada tingkat intensitas aktivitas membacanya yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan asia. Faktor budaya dapat dikatakan sebagai penyebab dari permasalahan tersebut dimana budaya lisan dan visual di Indonesia lebih dominan dan menunjukkan angka mayoritas terhadap budaya baca. Permasalahan tersebut juga dipengaruhi oleh seberapa jauh proses pengenalan perilaku dan minat baca sedini mungkin. Untuk hal tersebut peran orang tua dan lingkungan anak lebih diutamakan sebagai pembentukan semangat membaca dalam diri anak. Pada umumnya anak yang gemar membaca mendapat pengaruh dari orang tua maupun lingkungannnya yang kemudian pengaruh itu berkembang menjadi stimulus pada si anak untuk menumbuhkan minat dan perilaku gemar membaca.

Lalu, seberapa jauh masyarakat Indonesia sadar akan fenomena buku di zaman sekarang ini? Ini perlu menjadi cambukan besar bagi kita generasi muda agar setidaknya merubah minat baca buku menjadi lebih tinggi. Kemudian penting gak sih baca buku? Menurut Maghfiratul Istiqamah salah satu Founder Ulet Buku daerah Semarang dengan membaca buku mata akan menjadi jauh lebih sehat, kemudian di buku tidak akan ada notifikasi “smartphone” yang mengganggu, kita juga mampu merasakan serunya berada di toko buku, selain manfaat secara keilmuan buku memang sangat kaya buku juga mampu membuat ruangan jauh lebih bagus dan keren. Manfaat dari membaca buku diatas hanya sebagian kecil dari banyaknya manfaat membaca buku, hanya saja masyarakat khususnya Indonesia terlalu terlena dengan kecanggihan teknologi di zaman sekarang. Zed RS berkata “yang paling berbahaya dari rendahnya minat baca adalah tingginya minat berkomentar” fenomena ini cukup nampak nyata, semakin rendahnya minat baca seseoarang dia akan semakin mudah berkomentar, kenapa demikian? Karena ketika bacaan yang kita dapat itu kurang kita akan mudah mengkritik atau memberi komentar kepada hal-hal yang sebenarnya belum kita ketahui seluk beluknya. Jadi apakah buku masih menjadi jendela kita?

Dengan fenomena diatas tumbuhlah gagasan bahwa membaca dapat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang yang disebut dengan Biblioterapi (jack & Ronan, 2008) sehingga apa yang dibaca oleh seseorang akan berpengaruh pada cara pandang, sikap dan reaksi terhadap sesuatu hal. Oleh karena itu bacaan menjadi penting untuk diperhatikan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Istilah biblioterapi mula-mula muncul pada awal abad 20, Crothes tahun 1916 mengenalkan istilah ini. Biblioterapi merupakan terapi memberikan buku atau cerita bertema tertentu terkait dengan permasalahan pribadi dan sosial untuk membantu individu atau kelompok agar memperoleh insight mengenai masalah pribadinya dan belajar cara-cara yang lebih sehat dalam menghadapi kesulitan (Heath dkk, 2005;  Cook dkk, 2006). Biblioterapi dibedakan menjadi dua yaitu 1) biblioterapi kognitif 2) biblioterapi afektif.

Biblioterapi kognitif ini meyakini bahwa proses belajar merupakan mekanisme utama dari sebuah perubahan dan buku-buku non fiksi dipilih untuk mengajarkan seseorang sebagai bentuk intervensi. Asumsi dasarnya behavioral-kognitif, yakni semua perilaku adalah hasil belajar, dan karenanya segala sesuatu dapat dipelajari dibawah bimbingan yang tepat. Sedangkan biblioterapi afektif berakar pada teori psikodinamik yang berpandangan: penggunaan bacaan untuk membuka pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan pengalaman seseorang. Asumsi dasarnya: seseorang menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti represi untuk melindungi diri  dari sesuatu yang menyakitkan. Ketika menggunakan mekanisme pertahanan diri, individu menjadi tidak terhubung dengan emosinya, tidak sadar perasaan yang sesungguhnya, sehingga tidak dapat menyelesaikan permasalahan secara konstruktif. Cerita akan membantu dengan memberi kesempatan individu untuk mendapatkan insight.

 

FOKUS BIBLIOTERAPI:

Biblioterapi remedial: ditujukan pada penggunaan klinis untuk membimbing pembaca yang mengalami masalah emosi dan perilaku. Gladding (2000): biblioterapi dapat digunakan sebagai bentuk konseling remediasi yaitu konseling yang bertujuan untuk mengoreksi, misalnya membantu individu yang memiliki harga diri rendah dan kecemasan tinggi. Biblioterapi perkembangan: membimbing pembaca untuk mengalami interaksi dinamis antar kepribadian pembaca dan bacaan. Biblioterapi perkembangan menurut Cook, dkk (2006) dirancang sebagai pendekatan proaktif yang ditujukan untuk memunculkan perilaku atau memudahkan seseorang dalam memperoleh solusi-solusi dalam situasi spesifik.

Berikut ini kelebihan penggunaan biblioterapi (Jack & Ronan, 2008)

  1. Meningkatkan pemahaman mengenai reaksi psikologis dan fisiologis dirinya terhadap frustrasi dan konflik,
  2. Meningkatkan pemahaman antara terapis dan klien yang dapat meningkatkan penyembuhan psikologis
  3. Mendorong verbalisasi masalah-masalah yang secara umum sulit disampaikan
  4. Menstimulasi berpikir secara konstruktif dalam sesi-sesi terapi dan menganalisa sikap-sikap dan pola-pola perilaku selanjutnya,
  5. Memperkuat kemunculan perilaku dengan aturan-aturan dan contoh yang terkendala pola-pola sosial dan budaya dan pola perilaku infantil yang terhambat
  6. Menstimulasi imajinasi.

 

Melalui hari buku Nasional ini, mari kita kembali melestarikan budaya membaca buku. Bersama-sama kita kembalikan budaya membaca di lingkungan sekitar kita.

Yuk, kita kembali membaca dan nikmati buku!

 

 

 

 

 

 

Sumber:

http://cibubur.globalmandiri.sch.id/component/content/article/310-sejarah-hari-buku-nasional.html

http://www.riaupos.co/1929-opini-hari-buku-dan-masalah-minat-baca-.html#.V0W2vDV97Dd

Jack, S. J., & Ronan, K. R. (2008). Bibliotherapy: Practice and research. School Psychology International, vol 29 (2), 161-182.

http://kangkoez9.blogspot.co.id/2009/05/kajian-terhadap-fenomena-minat-baca.html

Harper, E. (1989). Bibliotherapy intervention exposure and level of emotional awareness among students with emotional and behavioral disorder. Thesis (unpublished). Kent state university.

Cook, K. E., Earless-Vollrath, T., & Ganz, J. B. (2006). Bibliotherapy. Intervention in School and Clinic, 42 (2), 91-100.

Gladding, S. T. (2000). Counseling: A Comprehensive Profession. Fourth edition. New Jersey: Prentices-Hall, Inc.

http://babongpedia.blogspot.co.id/2015/05/selamat-hari-buku-nasional.html

https://polka.id/peringatan-hari-buku-nasional-dan-pentingnya-membaca/

http://www.riaupos.co/1929-opini-hari-buku-dan-masalah-minat-baca-.html#.V0W8ozV97Df

THE POWER OF LIFE “R.A KARTINI” FOR INDONESIAN WOMEN’S

20160421110058

Besok kembali kita menjumpai sebuah peringatan akan sosok perempuan pribumi yang membumi, ya, beliau adalah RA Kartini. Yang namanya diperingati setiap tanggal 21 April. Hal ini berdasarkan Sinkron Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964, maka setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati hari Kartini. Namun yang jadi pertanyaan adalah, “Apakah ‘Panggung-Panggung Kartini’ saat ini, yang dipenuhi dengan karpet merah atau sekedar lenggak-lenggok manis dapat memunculkan sosok Kartini?”, kelihatannya belum!.

Mari kita awali untuk sedikit berkenalan dengan sosok perempuan Inspiratif Indonesia yang juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – wafat di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun). Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara[9]. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah

Kartini muncul di jaman feodalisme yang masih begitu kental dan imperialisme modern yang mulai muncul. Kartini membawa konsep kemajuan dan kebebasan dalam ranah pemikiran dan perkembangan Indonesia melalui titik tekannya yang sangat memperhatikan pendidikan bagi bangsanya. Terutama bagi kaum perempuan yang memang kondisi pada saat Kartini masih hidup begitu memprihatinkan. Bahkan cerita tentang RA. Kartini sampai diangkat ke sebuah film, yang disitu digambarkan tentang kondisi masyarakat pada jaman Kartini.

Dalam Film R.A.Kartini digambarkan bagaimana sosok perempuan Jawa yang mengalami  ketidakadilan  gender,  baik  dalam  keluarga,  pendidikan. Dari awal film ini diperlihatkan  bagaimana Kartini lahir dalam keluarga yang mempraktekkan poligami, dilarang  melanjutkan sekolah,  hidup  dalam  tekanan tradisi pingit, dinikahkan  dengan orang yang belum ia  kenal  sebelumnya  dan masih   banyak   lagi   persoalan   ketidaksetaraan yang terdapat dalam film ini.

Bentuk-bentuk   ketidaksetaraan   yang   dialami   perempuan   dalam   film   R.A. Kartini adalah

  1. Dalam  aspek  pendidikan  bahwa    kaum  wanita  tidak  mendapat  kebebasan untuk  menuntuti  ilmu  kejenjang  yang  lebih  tinggi,  pendidikan  tersebut hanya  untuk  kaum  pria  saja.  Islam  telah  mengajarkan  bahwa  menuntun ilmu  itu  wajib  bagi  semua  umat  muslim,  karena  Allah  SWT  mewajibkan bagi umatnya untuk menuntut ilmu.
  2. Dalam  aspek  sosial  bentuk  deskriminatif    kaum  perempuan  sebagaimana yang  dialami  keluarga  R.A.  Kartini  dalam  kehidupan  sehari-hari dalam berkomunikasi  diharuskan  boso  saat    R.M.A.  Sosoroningrat  (ayah  Kartini) berbicara  dengan  Ngasirah  (ibu  kandung  Kartini)  dengan  bahasa  ngoko sedangkan  Ngasirah dengan bahasa Krama ketika berbicara dengan R.M.A. Sosoroningrat.
  3. Dalam film R.A. Kartini terdapat aspek budaya pingit dan poligami di masa kehidupan  R.A.  Kartini.  Budaya  pingit  yang  dialami  oleh  R.A.  Kartini sendiri   yaitu   di   mana   sejak   beranjak   dewasa   mulai   diasingkan   dalam ruangan  sendiri  dan  sunyi.  Selain  itu,  budaya  poligami  yang  sudah  menjadi hal yang biasa dalam kehidupan R.A. Kartini, yang nantinya juga dilakukan oleh   suaminya.   Kehidupan   keluarga   R.A.   Kartini   terlihat   menyakitkan karena adanya poligami yang dilakukan oleh R.M.A. Sosoroningrat.

Setelah kita melihat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam perjalanannya menjadikan wanita indonesia kali ini memiliki kedudukan yang sama seperti  kaum laki-laki, apakah kita pernah bertanya bagaimana R.A Kartini memiliki kekuatan atau keinginan menjadikan gender tidak di hubungkan dalam pembeda kehidupan sehari-hari. Menurut harlock (1999; 118) Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Itulah yang membuat Kartini tergerak hatinya karena beliau telah merasakan berada di posisi wanita pada zaman itu yang penuh dengan kekangan dan pemabatasan gerak serta hak asasi sebagai wanita. Perjuangan pertama yang Kartini lakukan adalah membangun sarana pendidikan pertamanya pada tahun 1912 selain itu Kartini aktif melakukan korespondensi selama lima tahun sejak 1899 dengan kenalannya dari Belanda, seperti Stella Zeehandelaar, Prof. dan Ny F.K. Anton, dan Ny. Abendanon. Tulisan-tulisannya banyak berisi tentang kehidupan keluarga, adat, keterbelakangan wanita, serta yang paling utama adalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan.

 Begitu banyak yang beliau lakukan bagi wanita indonesia dengan menggunakan hati dan nurani serta kerja keras beliau. Kepedulian akan sekelilingnya sangatlah besar didalam diri seorang R.A Kartini, Sears (1991: 61) Bahwa individu bukanlah semata-mata mahluk tungggal yang mampu hidup sendiri, melainkan sebagai mahluk sosial yang sangat bergantung pada individu lain, individu tidak dapat menikmati hidup yang wajar dan bahagia tanpa lingkungan sosial, mungkin konsep tersebut telah tertanam dalam diri R.A Kartini sehingga memiliki sisi kepribadian yang lekat dengan cerminan yang ada dilingkungannya seperti membantu,menghibur,persahabatan,pengorbanan,kemurahan hati dan saling membagi. Mungkin apabila kita memposisikan R.A Kartini pada zaman sekarang tidaklah sulit untuk melihat bahwa banyak sekali wanita indonesia menjadikan simbol 21 april sebagai hak asasi wanita untuk sama-sama menjadi individu yang berguna tanpa melihat perbedaan gender. Tapi apakah konsep yang R.A Kartini bawa bisa menjadi sebagai kekuatan bagi indonesia saat ini? Itulah yang menjadi good quetion for women’s. Mengawali adalah sebuah kemudahan yang dapat dilakukan untuk mencapai sesuatu pertama yang dihasilkan tapi untuk mempertahankannya adalah suatu hal yang sulit. Dalam penerapannya R.A Kartini memperjuangkan hak asasi wanita adalah hal yang sulit karena beliau harus melawan segala tantangan yang ada pada zamannya.

 Walau usianya masih belia, dilihat dari sisi psikologinya beliau memiliki kemantangan emosi yang sangat luar biasa karena hasil tekananan yang ia alami dalam hidupnya, Kartono (1995: 165) kematangan emosional sebagai  suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional, oleh karena itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pada emosional seperti pada masa kanak-kanak. Seseorang yang telah mencapai kematangan emosional dapa mengendalikan emosinya. Emosi yang terkendali menyebabkan orang mampu berpikir secara lebih baik, melihat persoalan secara objektif.  Itulah yang membuat diri seorang R.A Kartini menjadi seorang wanita serta tokoh pejuang wanita yang sangat kuat dan berani menegakkan apa ynag seharusnya menjadi proporsi kehidupan dan membuatnya seimbang. Mungkin apa jadinya apabila seorang R.A Kartini tidak memiliki kematangan emosional yang baik ? apakah hak wanita indonesia menjadi kekuatan yang sama dengan kaum laki-laki. Seperti yang ada didalam sebuah Novel divergent bahwa konsep pendekatan sosiologi dan teori feminisme menjadi sebuah kunci perjuangan dalam kisah seorang wanita yang berjuang dalam mendapatkan hak serta peran penting dalam kehidupan. Selain menjadikan kesetaraan dan bentuk kekuatan juga menggambarkan bahwa wanita adalah bagian terpenting juga dalam perputaran roda kehidupan[3] Seharusnya wanita indonesia saat ini memahami secara benar makna hari kartini pada 21 april bukan hanya sekedar mengetahui tapi mulai menggerakan kekuatan kartini pada saat ini jangan hanya memandang kalau wanita hanya saja mengandalkan sifat feminim tapi juga bisa memperdayakan dirinya dalam segala kesempatan Leidenfrost (1992: 115) mengatakan bahwa pemberdayaan diri berarti kekuatan untuk melakukan sesuatu dapat berasal dari pengetahuan, pengalaman, keterampilan yang dimiliki. Walau pada konteks saat ini banyak perempuan melakukan pekerjaan menyerupai beban yang ditanggung oleh kaum pria seharusnya kita bisa mengambil sisi yang positifnya karena dengan hal itu bisa memberikan bahwa tanggung jawab yang wanita pegang dapat mempengaruhi kesetaraan struktur yang lebih besar (sosial,ekonomi,politik) dalam kehidupan yang mengancam manusia dan lingkungan.

Jadi dapat disimpulkan seharusnya wanita indonesia memiliki jiwa yang penuh powerfull and action for life dengan melihat konsep kekuatan dan kisah dari pejuang wanita indonesia kita yaitu Raden Ajeng Kartini yang penuh akan keinginan dan motivasi bagi para kaum wanita selama dia berjuang mendapatkan posisi bahwa wanita memiliki posisi sejajar dan memiliki kesamaan dengan kaum pria. Tapi pada satu sisi wanita memiliki kemampuan dalam jiwa sosial dan kepekaan terhadap kehidupan seperti dapat mengambil pekerjaan yang seharusnya tidak sesuai dengan kodratnya dalam menggantikan posisi laki-laki seperti (tukang beca dll) untuk menghidupi keluarga, Melihat kondisi lingkungan dan perlakuan yang tidak benar atau sesuai nurani, akan timbul gejolak emosi pada diri seseorang. Menurut teori kognitif dari Richard Lazarus dan koleganya (Morgan, 1986), bahwa emosi yang kita rasakan berasal dari penilaian, atau evaluasi tentang informasi yang datang dari situasi lingkungan. Ingatan masa lalu berhadapan dengan situasi yang sarna, kecenderungan untuk menanggapi dengan cara tertentu, dan mempertimbangkan konsekuensi tindakan yang mungkin hasil dari keadaan emosi masuk ke dalam penilaian .

Banggalah menjadi wanita Indonesia dengan jiwa dan raga yang tertanam dari seorang wanita yang sangat luar biasa yaitu R.A Kartini. Semoga dengan adanya artikel ini bisa membuat perempuan indonesia menjadi next of  R.A Kartini bumi pertiwi

Autisme isn’t Like You Think: Autisme dan Thomas Jefferson

image

Go to the edge of the cliff and jump off. Build your wings on the way down.
– Ray Bradbury

Pada awal bulan April, tepatnya 2 April 2016 merupakan Hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day). Peringatan tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian dunia terhadap individu autistik, bahwa mereka sama layaknya dengan individu lain, selain itu juga memberikan dukungan kepada orang tua yang diberikan amanah luar biasa dari Tuhan untuk merawat individu autistik.

Indonesia telah megenal Autisme sejak abad 19, fakta tersebut didukung dengan adanya pusat terapis bagi autisme, seminar-seminar dan gerakan sosial untuk individu autisme. Menurut data yang dirilis oleh Centre of Disease Control (CDS) di Amerika pada bulan Maret 2014, prevalensi (angka kejadian) autisme adalah 1 dari 68 anak atau secara lebih spesifik adalah 1 dari 42 anak laki-laki dan 1 dari 189 anak perempuan. Sedangkan di Indonesia sendiri, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun, tahun 2015 diperkirakan satu per 250 anak mengalami ganguan spektrum Autis dan terdapat kurang lebih 12.800 anak penyandang autisme dan 134.000 penyandang spektrum Autis di Indonesia.

Lalu, seberapa jauh masyarakat Indonesia mengetahui Autisme? Hal ini penting diketahui, khususnya bagi orang tua individu autistik untuk mengupayakan dukungan moral yang kuat serta menghadapi kecemasan terhadap anak mereka, penting pula bagi calon orang tua.

Individu autistik merupakan sebutan bagi mereka yang mempunyai karakteristik autisme. Kemudian, autisme didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthendkk, 1998). Autisme juga merupakan gangguan perkembangan syaraf yang kompleks ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi, perilaku terbatas dan berulang-ulang. Artinya, seseorang dengan kondisi tersebut gagal dalam memiliki minat dengan orang lain, sehingga tidak membantu orang lain untuk dapat mengikuti dunia mereka. Ciri tersebut sudah dapat diketahui sebelum anak berusia 3 tahun.

Autisme ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiatris Amerika yang bernama Leo Kanner. Ia menemukan sebelas anak yang memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain serta sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya. Sehingga, dapat dikatakan indivu autistik ini seperti hidup dengan dunianya sendiri. Perilaku-perilaku yang muncul pada individu autistik kemudian berdampak pada cara pandang orang lain di luar dirinya. Salah satunya adalah membuat orang berpandangan negatif dan kurang peduli terhadap kondisi mereka. Beberapa masalah tersebut seringkali mencemaskan orang tua individu itu sendiri.

Namun, bagi orang tua jangan khawatir, sudah banyak lembaga sosial berberntuk klinik maupun rumah terapis yang menyediakan pelayanan untuk menangani autisme. Adapun beberapa jenis penanganan yang dapat dilakukan, yaitu Intervenvi Perilaku Sosial, Analisis perilaku terapan atau ABA (Applied Behaviour Analysis), dan Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children (TEACCH). Tentu saja, orang tua tidak melulu harus khawatir, akan tetapi justru harus melawan kecemasannya untuk turut andil dalam penanganan-penanganan agar harmonis dan efektif. Oleh karena itu, orangtua yang mendeteksi bahwa anak mereka menunjukkan proses tumbuh kembang yang ‘berbeda’ dengan anak lainnya, usahakan untuk:

1. Tenang (Tidak perlu panik dan mencari pembenaran) dan menerima kenyataan.
2. Mencatat secara rinci kesulitan dan gangguan yang dialami anak
3. Mengkonsultasikan pada ahli tumbuh kembang anak seperti Dokter spesialis tumbuh kembang anak atau Psikolog
4. Bekerjasama dengan terapis membuat rencana program individual dan target yang ingin dicapai
5. Proaktif ikut belajar menjalankan dan melatih anak di lingkungan rumah sesuai metode yang disarankan
6. Bersikap optimis terhadap anak dan terapis
7. Menghargai kemajuan (walau kecil) yang dicapai oleh anak; dan
8. Mengikutsertakan anggota keluarga lain untuk lebih memahami kesulitan anak dan memberikan dukungan positif selama proses intervensi dan ikut memikirkan solusi jangka panjang

Dipandang dari sisi positifnya, individu autistik ini juga memiliki beberapa kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Anak autisme dengan kemampuan bahasa sebelum usia enam tahun, memiliki IQ di atas 50, dan memiliki keterampilan  yang diprediksi akan lebih baik; hidup mandiri. Inggris pada tahun 2004 melakukan studi dari 68 orang dewasa yang didiagnosis sebelum 1980 sebagai anak-anak autis dengan IQ di atas 50 menemukan bahwa 12% mencapai tingkat tinggi kemandirian sebagai orang dewasa, 10% mempunyai beberapa teman dan umumnya adapat bekerja, tetapi diperlukan beberapa dukungan, 19% memiliki kemandirian tetapi umumnya tinggal di rumah dan membutuhkan dukungan dan pengawasan dalam kehidupan sehari-hari, 46% diperlukan perawat spesialis dari penyedia fasilitas hunian yang mengkhususkan diri dalam ASD dengan dukungan tingkat tinggi dan 12% membutuhkan tingkat tinggi perawatan di rumah sakit. (Howlin, et all, 2004).  Dan masih banyak penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa individu autistik memiliki kemampuan lebih yang dapat dikembangkan.

Sebagai manusia, sudah seharusnya kita memahami perbedaan yang dimiliki satu orang dengan orang lainnya. 

Thomas Jefferson, dilahirkan di Shadwell, Virginia, 13 April 1743 merupakan salah satu tokoh bersejarah yang memiliki karakteristik autisme. Karakteristik autisme yang ada pada tokoh ini adalah menunjukkan bahwa Jefferson seorang yang pemalu, memiliki ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain, memiliki kesulitan berbicara di depan umum dan sensitif terhadap suara keras. Juga, mirip dengan Einstein, Jefferson memiliki kesulitan dengan keuangannya. Meskipun ia terus mencatat secara akurat  semua transaksi keuangannya, Ia meninggal dalam keadaan berhutang.  Selain  sangat eksentrik, Jefferson  juga memiliki  tingkah “abnormal” seperti memakai sandal untuk pertemuan penting dan selalu membawa  burung Mocking Bird yang  selalu nangkring di bahunya. Burung Mocking Bird  ini membuat  dia tenang selama berinteraksi sosial. Namun, walaupun Thomas Jefferson memiliki karakteristik autisme, bukan berarti dia menjadi individu yang tak berdaya dan tak dapat berkontribusi di masyarakat maupun dunia. Dengan latar belakang tersebut, dia mampu menjadi seorang  Pencetus Deklarasi Kemerdekaan  (1776), Presiden Amerika Serikat  yang ketiga dengan masa jabatan dari tahun 1801 hingga 1809 dan Bapak Pendiri Amerika Serikat. 

Jadi, pelajaran yang dapat diambil dari tokoh adalah autisme yang menempel pada Thomas Jefferson membuktikan bahwa Autisme tidak melulu merugikan orang sekitar, ia mampu bangkit dengan keunikan perilaku, pikiran dan kemampuanya untuk berkontribusi dalam perubahan besar dunia. Seringkali kita memandang Autisme hanya dari sisi perilakunya, sekarang mari kita coba untuk lebih memahami dan peduli dengan potensi yang dimiliki oleh individu autistik.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kesadaran_Autisme_Sedunia
http://event.indonesiakreatif.net/events/hari-peduli-autisme-sedunia-world-autism-awareness-day-2016-04-02/
http://www.kidaba.com/autis-autisme-kid-aba-jakarta-bekasi-indonesia/autisme/autis-autism-autisme/1000002/autis-autisme-sejarah
https://motivatorbili.wordpress.com/2015/10/28/tokoh-tokoh-dunia-penyandang-autisme/
https://cauchymurtopo.wordpress.com/2014/04/29/orang-orang-jenius-yang-menderita-autisme/
http://dikaraharja955.blogspot.co.id/2015/12/isi-presentasi-tentang-tokoh-tokoh.html
http://thanty92.blogspot.co.id/2011/01/makalah-kepemimpinan-thomas-jefferson.html
http://lisnachofia.blogspot.co.id/2012/02/thomas-jefferson.html

Autisme – Pengertian, Penyebab, Gejala, Ciri & Terapi

http://www.pengertianpakar.com/2015/04/pengertian-autisme-dan-pembahasannya.html

Penyebab Autis Menurut Para Ahli

https://binhasyim.wordpress.com/2010/03/10/prognosis-autisme/
http://www.alodokter.com/autisme/pengobatan/

https://www.google.com/search?q=Foto+Thomas+Jefferson&rls=moz:distributionID:moz:locale:moz:official&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiu7czp2unLAhUD26YKHVC9AIsQ_AUIBygB&biw=1143&bih=566#imgdii=PJV2zon5ildI9M%3A%3BPJV2zon5ildI9M%3A%3BUDr9KJdi9j7NTM%3A&imgrc=PJV2zon5ildI9M%3A

http://himpsi.or.id/43-semua-kategori/non-menu/pengumuman/56-hari-peduli-autisme-2015

Jumlah Penderita Autis di Indonesia

Analisis Sosial : Analisis Dan Pergerakan Mahasiswa Psikologi di Jawa Tengah

Awal dari tulisan ini bermula dengan ungkapan yang sering terdengar di kalangan mahasiswa, yaitu mahasiswa sebagai agen-agen perubahan. Sebagai agen perubahan, mahasiswa dituntut untuk melakukan perubahan dengan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dan miliki selama menuntut ilmu di lingkungan universitas. Mahasiswa juga dituntut untuk lebih peka melihat kondisi sosial masyarakat yang ada dan melakukan perubahan didalamnya. Hal ini harus dilakukan oleh semua mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya sebagai agen perubahan, khususnya mahasiswa psikologi yang akan dibahas pada tulisan ini.

Sebagai mahasiswa psikologi kita mengenal apa itu simpati dan empati, selain mengenal kita juga dituntut untuk bisa menerapkan keduanya didalam praktik keilmuwan kita. Mahasiswa psikologi apapun bidang yang ingin digelutinya baik itu sosial, perkembangan, pendidikan, industri dan organisasi, maupun kesehatan/klinis pasti akan berhubungan dengan manusia. manusia sebagai objek dari psikologi akan menghasilkan tujuan akhir dari keilmuwan psikologi itu sendiri yaitu Pengabdian kepada Masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip dari well being of human being.

Continue reading

Pengaruh Besar Pola Asuh Orang Tua Terhadap Konsep Diri Pada Anak

Oleh: Pentarina Intan Laksmitawati

Berdasarkan tata bahasanya, pola asuh terdiri atas kata pola dan asuh. Dalam kamus umum bahasa Indonesia menyebutkan bahwa kata pola berarti model, sistem, cara kerja, bentuk, sedangkan kata asuh mengandung arti menjaga, merawat, mendidik anak agar dapat berdiri sendiri (Kartini Kartono, 1989: 166).

Pola asuh orang tua merupakan pola perilaku orang tua yang diterapkan kepada anak, yang bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Menurut Karlinawati (2010:163) mengasuh anak yaitu sebuah proses yang menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan suatu interaksi antara orang tua dengan anak yang berkelanjutan, dalam proses tersebut memberi suatu perubahan baik kepada orang tua maupun kepada anak. Peran orang tua mempengaruhi anak dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak . Sebagai contoh, orang tua membimbing anak-anaknya untuk mengenalkan sesuatu agar anak-anaknya mengerti, mengetahui dan memahami yang akhirnya dapat menerapkan suatu tingkah laku.

Continue reading

MENGENAL DISSOSIATIF LEBIH DEKAT

dissociation-picRabu, 27 Mei 2015 Himapsi UNS melalui Literature Club mengadakan diskusi dengan tema “Dissociatif Identity Disorder”. Diskusi diadakan di ruang serba guna psikologi UNS dengan menghadirkan dosen psikologi yaitu Arif Tri Setyanto., S.Psi., M.Psi.psi. walaupun mengambil tema yang populer dikenal dengan nama kepribadian ganda ini, pembahasan didalamnya lebih jauh membahas mengenai Dissociative.

Diskusi dimulai pada pukul 15.00 sampai 17.00 WIB. Diskusi dimulai dengan membahas definisi dari gangguan disosiatif, “adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal (dibawah kendali sadar) meliputi: ingatan masa lalu, peristiwa pribadi bermakna, kesadaran identitas, kepribadian yang terlupakan (sementara maupun memiliki kepribadian baru) dan kontrol terhadap gerak tubuh.

Pada masyarakat prevalensi terjadinya gangguan dissosiatif 1:10.000 kasus dalam populeasi. Gangguan dissosiatif ini juga lebih sering terjadi pada wanita dibanding pada pria. Biasanya gangguan ini terjadi karena distress dan trauma  (karena keceelakaan, pelecehan seksual, pelecehan fisik, kekerasan, perundungan, dll). lalu gangguan ini bisa terjadi pada rentang umur manapun, mulai dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, tetapi paling sering terjadi pada anak-anak yang memiliki masa lalu kurang baik. gejala umum pada gangguan disosiatif meliputi hilangnya ingatan (amnesia), gangguan mental, derealisasi, identitas yang buram (hilang), depersonalisasi. Didalam PPDGJ III – DSM IV, gangguan dissosiatif mempunyai kode F44.0-F44.9.

Dissosiatif juga mempunyai beragam jenisnya seperti Dissosiatif Fugue, Depersonalization disorder, dan Dissosiatif Identitiy Disorder.

Dissosiatif Fugue

  • Gangguan dimana individu melupakan informasi personal yang penting dan membentuk identitas baru, juga pindah ke tempat baru
  • Individu tidak hanya mengalami amnesia secara total, namun juga tiba-tiba pindah dari rumah dan pekerjaan, serta membentuk identitas baru
  • Biasanya terjadi setelah seseorang meengalami beberapa stres yang berat (konflik dengan pasangan, kehilangan pekerjaan, penderitaan karena bencana alam)
  • Peristiwa trauma yang dialami membuat individu memunculkan identitas baru yang membuat ia lebih nyaman dengan identitasnya yang sekarang.
  • Identitas baru sering berkaitan dengan nama, rumah, pekerjaan, karakteristik personality yang baru. Di kehidupan baru, individu bisa sukses walaupun tidak mampu untuk mengingat masa lalu.
  • Recovery biasanya lengkap dan individu biasanya tidak ingat apa yang terjadi selama fugue.
  • Contoh : gangguan dissosiatif fugue pernah di filmkan dengan judul Stonehearst Asylum (2014)

Depersonalization disorder

  • Gangguan dimana adanya perubahan dalam persepsi atau pengalaman individu mengenai dirinya
  • Individu merasa “tidak riil” dan merasa asing terhadap diri dan sekelilingnya, dan cukup mengganggu fungsi dirinya.
  • Derelisasi : objek, orang , lingkungan menjadi seperti tidak sesungguhnya, semu, tanpa warna, tidak hidup
  • Merasa bahwa perasaan atau pengalamannya terlepas dari dirinya, jauh, bukan dirinya
  • Memori tidak berubah, tetapi individu kehilangan “sense of self”,
  • Gangguan ini menyebabkan stres dan menimbulkan hambatan dalam berbagai fungsi kehidupan.
  • Penyebabnya adalah stres berat, peristiwa traumatik, konflik masa lalu. Seperti kecelakaan atau situasi yang berbahaya.
  • Coping stress pada diri individu, lingkungan, adversity Question, resiliensi, mempunyai pengaruh penting dalam terjadinya depersonalization disorder ini.

Dissosiatif Identity Disorder (DID)

  • Adanya dua atau lebih kepribadian yang terpisah dan berbeda pada seseorang. Setiap kepribadian memiliki pola perilaku, hubungan, dan memori masing-masing. Dan individu dengan DID menyadari kalau ia berganti-ganti kepribadian.
  • Individu memiliki setidaknya 2 kepribadian yang berbeda (adanya perbedaan dalam keeberadaan, feeling, perilaku) bahkan ada yang bertolak belakang. Kepribadian yang muncul bisa sangat bermacam-macam, mulai dari anak-anak, orang tua, remaja, pemarah, dan lain sebagainya.
  • DID merupakan gangguan neurotik bukan psikotik.
  • Mereka yang memiliki gangguan ini sebeenarnya hanya memiliki satu keepribadian, namun penderita akan merasa kalau ia memiliki bnanyak identitas yang memiliki cara berpikir, tempramen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.
  • Usia dari kepribadian (alter ego) DID menetap walaupun umur biologisnya terus bertambah.
  • DID juga biasanya mengalami halusinasi, namun halusinasi yang terjadi disadari oleh individu dengan DID. Berbeda dengan skizofrenia yang halusinasinya tidak disadari dan objeknya tidak nyata.
  • Penderita DID sangat sulit menemukan real self
  • Penyebab dari DID paling banyak disebabkan oleh trauma pada masa kecil. DID juga merupakan bentuk gangguan disosiatif yang lebih berat daripada yang lainnya.
  • DID Lebih banyak dialami oleh Wanita dibandingkan pria
  • Dalam penyembuhan DID pasti melibatkan farmakoterapi disamping terapi psikologi. Karena individu dengan DID sangat rawan dengan stres, jika tidak dibantu dengan farmakoterapi sangat sulit untuk menyembuhkannya. Namun farmakoterapi tidak dapat seketika menyembuhkan DID.
  • Contoh dari DID ini adalah Sybil (1976) dengan 16 kepribadian dan Billy Milligan dengan 24 kepribadian.

 

Penanganan Gangguan Disosiatif

Penanganan gangguan disosiatif ada banyak jenisnya. Dalam menangani gangguan dissosiatif ini biasa dikaitkaen dengan pengalaman traumatik masa lalu. Oleh karena itu dalam penanganannya dapat menggunakan Terapi Psikoanalisa untuk membuka tabir kehidupan masa lalunya yang menyebabkan trauma atau stresnya. Selain itu terapi Behavioral kognitif juga digunakan untuk menyembuhkan gangguan ini. Farmakoterapi juga sangat dibutuhkan terutama untuk meringankan tingkat depresi dan kecemasannya. Dan langkah terapi yang dapat digunakan ialah Hypnoterapi.

Diolah berdasarkan diskusi literasi klub dan ditambah dengan beberapa sumber tambahan.

Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuwan ILMPI WILAYAH 3.