TEORI OPERANT CONDITIONING (B.F SKINNER, 1974)

 

Dalam bukunya yang berjudul about behaviorism seorang tokoh psikologi behaviorisme, B.F. Skinner, mengemukakan bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri (Bruno, 1987).

Dalam teorinya operant conditioning (pembiasaan perilaku respon) disebutkan bahwa respon terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan terjadi akibat adanya reinforcement (penguatan). Reinforcer ini menimbulkan dan  meningkatkan respon-respon tertentu, akan tetapi tidak terjadi dengan sengaja. Jadi reinforcer ini merupakan proses alamiah yang memang tidak disusun sebelumnya.

Teorinya ini didasarkan pada penelitianya terhadap seekor tikus yang diletakkan didalam skinner box. Skinner box ini terdiri atas tombol yang bilamana ditekan akan mengeluarkan makanan. Dalam penelitiannya, mula-mula tikus akan mengeluarkan emitted behavior  yang tidak mempedulikan stimulus-stimulus tertentu. Namun, secara tidak sengaja si tikus menginjak pengungkit yang akan mengeluarkan makanan. Dalam percobaannya yang dilakukan secara terus-menerus inilah didapatkan hasil bahwa tikus akan semakin cepat menginjak pengungkit untuk mendapatkan makanan dibanding waktu pertama kalinya.

Makanan disinilah yang merupakan bentuk reinforcement, sedangkan menginjak pengungkit merupakan tingkah laku operant yang akan terus meningkat seiring terjadinya reinforcement tersebut. Namun, jika tidak terdapat reinforcement, maka tingkah laku akan menurun bahkan menghilang. Untuk menjelaskan proses keduanya maka bisa dilihat dari law of effect.

Terdapat 2 law of effect yang mempengaruhi teori operant conditioning, yakni: law of operant conditioning dan law of operant extinction. Law of operant conditioning terjadi jika munculnya tingkah laku operant diikuti dengan reinforcment, ketika itu terjadi terus menerus maka akan terjadi penguatan terhadap tingkah laku itu.

Law of operant extinction dapat terjadi jika tingkah laku yang telah diperkuat sebelumnya tidak lagi diiringi oleh stimulus penguat (reinforcment) sehingga tingkah laku tersebut akan menurun intensitasnya bahkan menghilang.

Sedangkan dalam pemberian reinforcment itu sendiri terdiri dari 2 bentuk, yaitu positive reinforcment dan negative reinforcment. Positive reinforcement terjadi ketika perilaku diikuti penambahan stimulus yang menghasilkan penguatan perilaku dengan memberikan kenyamanan pada sipelaku. Contohnya adalah seperti yang terjadi pada penelitian B.F Skinner kepada tikus yang berada dalam skinner box

Lalu reinforcement negative terjadi ketika perilaku diikuti oleh pengurangan stimulus yang menghasilkan penguatan perilaku dengan mengurangi ketidaknyamanan. Contohnya adalah anak yang mempunyai beban rumah tangga seperti menyapu, mengepel dan mencuci, akan tetapi ia malas sekali belajar. Lalu suatu saat ia rajin belajar, ketika itu ibu dari si anak mengurangi beban si anak untuk menyapu, mengepel dan mencuci, sehingga akan terjadi penguatan untuk selalu rajin belajar.

Reinforcement positive vs reward dan reinforcement negative vs punishment

Telah disinggung sebelumnya mengenai reinforcement positive dan negative. Lalu apa beda keduanya dengan punishment dan reward?

Secara simple dijelaskan bahwa punishment merupakan stimulus yang diberikan ketika perilaku terjadi untuk mengurangi perilaku tersebut. Contohnya adalah ketika siswa terlambat datang sekolah, lalu ia dijemur ataupun disuruh berlari mengelilingi lapangan.

Sedangkan reward adalah pemberian hadiah ketika terjadi perilaku yang diharapkan dengan tujuan terjadi penguatan perilaku. Pemberian stimulus ini akan mendatangkan efek rewarding. Contohnya jika anak membersihkan rumah maka ia akan diberikan sejumlah uang.

Namun antara rewarding dan punishment pada dasarnya tidak akan memberikan dampak yang signifikan bagi si pelaku. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi effektif atau tidaknya sebuah puunishment maupun rewarding.

  1. Immediacy (kesegeraan)

 

Sebuah pemberian punishment maupun reward dapat effektif jika pemberian itu dilakukan dengan segera. Artinya tidak terjadi penundaan ketika perilaku tersebut muncul.

 

  1. Contigency (konsistenan)

 

Jika pemberian punishment maupun reward tidak dilakukan secara terus menerus atau tidak konsisten maka yang terjadi adalah tidak terjadi internalisasi nilai-nilai dari pemberian punishment dan reward tersebut.

 

  1. Establishing operations (kejadian yang merubah nilai)

 

Ketika nilai-nilai telah masuk melalui pemberian punishment maupun reward, kadangkala terjadi sebuah kejadian dimana nilai-nilai tersebut dapat berubah. Contoh jika ia belajar bahwa tidak boleh berkata kasar, namun ketika ia berada diluar lingkungannya ia melihat banyak orang yang berkata kasar, maka akan terjadi perubahan nilai-nilai yang telah ditanamkan sebelumnya melalui proses punishment dan rewarding ini.

 

  1. Individual differences (perbedaan individual)

 

Pemberian punishment dan rewardin juga harus melihat perbedaan individu seperti usia, budaya, agama, status sosial, dll. Ketika seorang anak menunjukan perilaku baik maka ia diberikan reward sebuah permen. Namun  jika hal ini dilakukan kepada orang dewasa maka belum tentu langkah (pemberian reward) ini effektif terhadap siorang dewasa ini.

 

Kekurangan dan kelemahan dari teori Operant conditioning

Teori-teori operant conditioning maupun operant classical seringkali dipertanyakan secara prinsip penggunaannya. Banyak ilmuwan melihat bahwa teori-teori belajar semacam ini secara prinsip bersifat behavioristik yaitu hnay melihan dari timbulnya perilaku jasmaniah yang dapat diukur. Sedangkan pada kenyataannya perilaku  jasmaniah ini hanya merupakan sebagian dari gejala-gejalanya,bukan mempresentasikan keseluruhan perilaku dari seseorang.

Selain itu teori ini juga dianggap bersifat otomatis-mekanis sehingga perilaku yang terjadi terkesan seperti kinerja mesin dan robot yang memang dapat diatur sebelumnya. Akan tetapi teori-teori belajar dari B.F Skinner, Ivan Pavlov, maupun Thorndike telah banyak dipercaya oleh para ahli dalam hal pendidikan seperti yang terjadi di Indonesia saat ini.

Diantara kelemahan-kelemahan dari teori B.F skinner adalah

  1. Proses belajar itu dapat diamati secara langsung, padahal proses belajar merupakan proses mental yang tidak dapat dilihat dan diamati dari luarnya saja. Perilaku luarnya hanya menggambarkan sedikit dari proses mental tersebut yang terjadi didalamnya. Ibarat sebuah gunung es.
  2. Proses belajar bersifat otomatis-mekanis. Kesan-kesan terhadap proses belajar ibarat sebuah mesin dan robot. Hal ini jelas menghilangkan sifat kemanusiaan manusia. Seperti yang telah diketahui sebelumnya manusia selalu mempunyai self-direction, self control, ideal self, dan lain-lain. Sehingga tidak mungkin menjelaskan perilaku manusia hanya seperti robot/
  3. Proses belajar manusia dalam teori ini cenderung disamakan dengan perilaku hewan. Pada dasarnya banyak sekali perbedaan karakter yang mencolok antara hewan dengan manusia.

 

 

Daftar Pustaka

 

http://rudicahyo.com/psikologi-artikel/teori-belajar-operant-conditioning-skinner/

syah, Muhibbin.2002. psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Atkinson, Rita.L. 2010. Pengantar Psikologi. Tanggerang: Interaksara

 

PSIKOLOGI INDIVIDUAL ALFRED ADLER

 

BIOGRAFI SINGKAT

Alfred Adler dilahirkan di Wina pada tanggal 9 Pebruari 1870, Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina pada tahun 1895. Mula-mula mengambil spesialisasi daalam opthamologi, dan kemudian dalam lapangan psikiatri. Mula-mula bekerja sama dengan Freud dan menjadi anggota serta akhirnya menjadi presiden “Masyarakat Psikoanalisis Wina”. Namun dia segera mengembangkan pendapatnya sendiri yang menyimpang dari pendapat Freud, yang akhirnya menyebabkan dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden serta dari keanggotaannya dalam “Masyarakat Psikoanalisis Wina” tersebut pada tahun 1911 dan mendirikan aliran baru yang diberi nama “Individual Psychologie”.

Sejak tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat. Di sana dia melanjutkan prakteknya sebagai ahli penyakit syaraf dan juga menjadi guru besar dalam psikologi medis di Long Island College of Medicine. Dia meninggal di Scotlandia pada tahun 1937, ketika sedang dalam perjalanan keliling untuk memberikan ceramah-ceramah.

Psikoanalisis pengaruh Adler lekas meluas, walaupun tidak seluas pengaruh Psikoanalisis, terutama karena Adler dan pengikut-pengikutnya mempraktekan teorinya dalam lapangan Pendidikan. Juga di Amerika Serikat pengaruh Individual Psychologie itu cukup luas. Pendapat-pendapat Adler tetap terpelihara dan bertambah luas berkat adanya “The American Society of Individual Psychology” yang mempunyai majalah tersendiri, yaitu: The American Journal of Individual Psychology.

PENDAHULUAN

Teori Adler dapat dipahami lewat pengertian-pengertian pokok yang dipergunakannya untuk membahas kepribadian.. dari awal memulai formulasi teorinya tentang perilaku manusia sampai kematiannya, ia memperlihatkan sebuah rangkaian evolusi dari idenya yang sangat menarik dalam beberapa kasus yang masuk akal. Ia tidak pernah bertolak belakang dengan pekerjaan sebelumnya, ia memperlihatkan sebuah metamorphosis, dari sebuah ide pemikirannya yang baru sampai menjadi sebuah ide yang sangat kompleks dan inklusif tentang fenomena kompleksitas perilaku manusia. Inilah yang sangat menguatkan posisi teorinya.

Evolusi dalam pemikiran Adler adalah sebuah perubahan yang mengikuti struktur teori yang dibuatnya sehingga merupakan refleksi tentang perilaku manusia. Diawali dengan sebuah penggabungan yang meningkat pada manusia yang menghasilkan sebuah agresi sebagai mahluk, merupakan sebuah konsep luas yang menghentikan pemikirannya dari sex sebagai hal utama yang menggerakan manusia, ia bergerak untuk mengingatkan bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki karakteristik yang kompleks dalam mencari kekuatan utama. Akhirnya Adler datang pada sebuah konklusi tentang motivasi yang sesungguhnya dalam diri menusia adalah untuk mencari dan menjadi superior.

Adler berpendapat bahwa manusia adalah mahluk sosial yang bertanggung jawab. Ia percaya manusia sejak lahir dikarunia dengan kesadaran bersosial dan hanya keterpaksaan (kompensasi) yang membuatnya bertanggung jawab kepada manusia lain untuk dapat mencapai sebuah kesejahteraan yang baik bagi dirinya dan orang lain. Pada akhirnya Adler meyakinkan bahwa manusia adalah mahluk yang menyimpan interest sosial yang sangat dalam.

Telah dikemukakan bahwa di Amerika pengaruh Adler meluas berkat adanya “The American Society of Individual Psychology”. Di Eropa sendiri murid-murid serta pengikutnya cukup banyak; salah satu di antara mereka adalah Fritz Kunkel. Kunkel berpegang teguh kepada dasar pikiran Adler. Pendapatnya yang bersifat memperkaya Individual Psychologie juga dapat diikuti melalui pengertian-pengertian pokok yang digunakannya.

PANDANGAN ALFRED ADLER TENTANG PERILAKU MANUSIA

Ada tujuh prinsip yang terkandung dari teori Psikologi Individual Adler, yaitu:

1. Prinsip Rasa Rendah Diri (Inferiority Principle)

Adler meyakini bahwa manusia dilahirkan disertai dengan perasaan rendah diri. Seketika individu menyadari eksistensinya, ia merasa rendah diri akan perannya dalam lingkungan. Individu melihat bahwa banyak mahluk lain yang memiliki kemampuan meraih sesuatu yang tidak dapat dilakukannya. Perasaan rendah diri ini mencul ketika individu ingin menyaingi kekuatan dan kemampuan orang lain. Misalnya, anak merasa diri kurang jika dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itu ia terdorong untuk mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi. Jika telah mencapai taraf perkembangan tertentu, maka timbul lagi rasa kurang untuk mencapai taraf berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga individu dengan rasa rendah dirinya ini tampak dinamis mencapai kesempurnaan dirinya.

Teori Adler mengenai perasaan rendah diri ini berawal dari pengamatannya atas penderitaan pasien-pasiennya yang seringkali mengeluh sakit pada daerah tertentu pada tubuhnya, mengenai psikosomatis, Adler mengatakan bahwa rasa sakit yang diderita individu sebenarnya adalah usaha untuk memecahkan masalah-masalah nonfisik. Keadaan tersebut, menurut Adler disebabkan adanya kekurang sempurnaan pada daerah-daerah tubuh tersebut, yang dikatakannya sebagai organ penyebab rendah diri (organ inferiority). Jadi manusia lahir memang tidak sempurna, atau secara potensial memiliki kelemahan dalam organ tubuhnya. Adanya stress menyebabkan organ lemah ini terganggu. Karenanya, setiap orang selalu berusaha mengkompensasikan kelemahannya dengan segala daya. Dalam hal ini usaha kompensasi ini ditentukan oleh gaya hidup dan usaha mencapai kesempurnaan (superior).

Berkenaan dengan perasaan rendah diri dalam kondisi organik, Adler menciptakan istilah masculine protest, yakni istilah yang dimaksud untuk menerangkan perasaan rendah diri atau inferior ini dihubungkan dengan kelemahan (weakness) dan kewanita-wanitaan (femininity). Istilah ini merupakan suatu dinamika kepribadian manusia yang utama, karena hal ini merupakan usaha individu dalam mencapai kondisi yang kuat dalam mengkompensasikan perasaan rendah dirinya.

2. Prinsip Superior (Superiority Principle)

Memandang prinsip superior terpisah dari prinsip inferior sesungguhnya keliru. Justru kedua prinsip ini terjalin erat dan bersifat komplementer. Namun karena sebagai prinsip, kedua istilah ini berbeda, maka pembahasannya pun dibedakan, kendati dalam operasionalnya tak dapat dipisahkan. Sebagai reaksi atas penekanan aspek seksualitas sebagai motivator utama perilaku menurut Freud, Adler beranggapan bahwa manusia adalah mahluk agresif dan harus selalu agresif bila ingin survive. Namun kemudian dorongan agresif ini berkembang menjadi dorongan untuk mencari kekuatan baik secara fisik maupun simbolik agar dapat survive. Demikian banyak pasien Adler yang dipandang kurang memiliki kualitas agresif dan dinyatakan sebagai manusia tak berdaya. Karenanya, yang diinginkan manusia adalah kekuatan (power). Dari sini konsepnya berkembang lagi, bahwa manusia mengharapkan untuk bisa mencapai kesempurnaan (superior). Dorongan superior ini sangat bersifat universal dan tak mengenal batas waktu. Bagi Adler tak ada pemisahan antara drive dan need seperti yang diungkapkan oleh Murray. Bagi Adler hanya ada satu dorongan, yakni dorongan untuk superior sebagai usaha untuk meninggalkan perasaan rendah diri. Namun perlu dicatat bahwa superior disini bukanlah kekuatan melebihi orang lain, melainkan usaha untuk mencapai keadaan superior dalam diri dan tidak selalu harus berkompetisi dengan orang lain. Superioritas yang dimaksud adalah superior atas diri sendiri. Jadi daya penggerak yang utama dalam hidup manusia adalah dinamika yang mengungkapkan sebab individu berperilaku, yakni dorongan untuk mencapai superior atau kesempurnaan.

3. Prinsip Gaya Hidup (Style of Life Principle)

Usaha individu untuk mencapai superioritas atau kesempurnaan yang diharapkan, memerlukan cara tertentu. Adler menyebutkan hal ini sebagai gaya hidup (Style of Life). Gaya hidup yang diikuti individu adalah kombinasi dari dua hal, yakni dorongan dari dalam diri (the inner self driven) yang mengatur arah perilaku, dan dorongan dari lingkungan yang mungkin dapat menambah, atau menghambat arah dorongan dari dalam tadi.

Dari dua dorongan itu, yang terpenting adalah dorongan dalam diri (inner self) itu. Bahwa karena peranan dalam diri ini, suatu peristiwa yang sama dapat ditafsirkan berbeda oleh dua orang manusia yang mengalaminya. Dengan adanya dorongan dalam diri ini, manusia dapat menafsirkan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, bahkan memiliki kapasitas untuk menghindari atau menyerangnya. Bagi Adler, manusia mempunyai kekuatan yang cukup, sekalipun tidak sepenuhnya bebas, untuk mengatur kehidupannya sendiri secara wajar. Jadi dalam hal ini Adler tidak menerima pandangan yang menyatakan bahwa manusia adalah produk dari lingkungan sepenuhnya. Menurut Adler, justru jauh lebih banyak hal-hal yang muncul dan berkembang dalam diri manusia yang mempengaruhi gaya hidupnya.

Gaya hidup manusia tidak ada yang identik sama, sekalipun pada orang kembar. Sekurang-kurangnya ada dua kekuatan yang dituntut untuk menunjukkan gaya hidup seseorang yang unik, yakni kekuatan dari dalam diri yang dibawa sejak lahir dan kekuatan yang datang dari lingkungan yang dimasuki individu tersebut. dengan adanya perbedaan lingkungan dan pembawaan, maka tidak ada manusia yang berperilaku dalam cara yang sama.

Gaya hidup seseorang sering menentukan kualitas tafsiran yang bersifat tunggal atas semua pengalaman yang dijumpai manusia. Misalnya, individu yang gaya hidupnya berkisar pada perasaan diabaikan (feeling of neglect) dan perasaan tak disenangi (being unloved) menafsirkan semua pengalamannya dari cara pandang tersebut. misalnya ia merasa bahwa semua orang yang ingin mengadakan kontak komunikasi dipandangnya sebagai usaha untuk menggantikan perasaan tak disayangi tersebut.

Gaya hidup seseorang telah terbentuk pada usia tiga sampai lima tahun. Gaya hidup yang sudah terbentuk tak dapat diubah lagi, meskipun cara pengekspresiannya dapat berubah. Jadi gaya hidup itu tetap atau konstan dalam diri manusia. Apa yang berubah hanya cara untuk mencapai tujuan dan kriteria tafsiran yang digunakan untuk memuaskan gaya hidup. Misalnya, bagi anak yang merasa memiliki gaya hidup tidak disayangi, adalah lebih baik praktis untuk membentuk tujuan semu bahwa kasih sayang baginya tidak begitu penting dibandingkan dengan usaha meyakinkan bahwa tidak dicintai pada masa lalu tidak penting baginya, dan bahwa meyakinkan kemungkinan untuk dicintai pada masa yang akan datang diharapkan dapat memperbaiki peristiwa masa lampau. Perubahan gaya hidup meskipun mungkin dapat dilakukan, akan tetapi kemungkinannya sangat sukar, karena beberapa pertimbangan emosi, energi, dan pertumbuhan gaya hidup itu sendiri yang mungkin keliru. Karenannya jauh lebih mudah melanjutkan gaya hidup yang telah ada dari pada mengubahnya.

Mengenai bagaimana gaya hidup itu berkembang, dan kekuatan yang mempengaruhinya, menurut Adler dapat dipelajari dengan meyakini bahwa perasaan rendah diri itu bersifat universal pada semua manusia, dan berikutnya karena adanya usaha untuk mencapai superioritas. Akan tetapi ada karakteristik umum yang berasal dari sumber lain di luar dirinya yang turut menentukan keunikan kepribadian individu, yakni kehadiran kondisi sosial, psikologis, dan fisik yang unik pada setiap manusia. Dikatakan, bahwa setiap manusia mencoba menangani pengaruh-pengaruh itu. Faktor yang khusus yang dapat menyebabkan gaya hidup yang salah adalah pengalaman masa kecil, banyaknya saudara, dan urutan dalam keluarga.

Adler juga menemukan tiga faktor lainnya yang dapat menyebabkan gaya hidup keliru dalam masyarakat dan menyebabkan kehidupan manusia tidak bahagia. Ketiga kanak-kanak yang dimanja atau dikerasi, dan masa kanak-kanak yang diacuhkan oleh orang tuanya.

Pada anak cacat tubuh, perasaan rendah diri akan lebih besar dari pada anak yang sehat fisiknya. Biasanya reaksi yang muncul ada yang menyerah pada keadaan dikalahkan oleh lingkungan, akan tetapi ada juga yang berusaha mengkonpensasikannya pada bidang yang jauh dari bakat normal pada orang biasa, misalnya berhasil dalam kegiatan olahraga, kesenian, atau industri.

Pada anak cacat mental, menyebabkan masalah yang lebih parah lagi, hal ini disebabkan oleh: (a) kompensasinya jauh lebih sukar, (b) keragaman kesempatan yang dapat digunakan untuk kompensasi lebih sedikit, (c) tuntutan masyarakat modern lebih menekankan kemampuan intektual ketimbang kerja otot, (d) masyarakat sendiri kadang kurang mau memahami usaha kompensasi orang-orang yang terbelakang mental. Jadi secara umum kondisi sosial dapat membentuk gaya hidup yang keliru sekalipun kondisi fisik dan psikologisnya masih normal.

4. Prinsip Diri Kreatif (Creative Self Principle)

Diri yang kreatif adalah faktor yang sangat penting dalam kepribadian individu, sebab hal ini dipandang sebagai penggerak utama, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Dengan prinsip ini Adler ingin menjelaskan bahwa manusia adalah seniman bagi dirinya. Ia lebih dari sekedar produk lingkungan atau mahluk yang memiliki pembawaan khusus. Ia adalah yang menafsirkan kehidupannya. Individu menciptakan struktur pembawaan, menafsirkan kesan yang diterima dari lingkungan kehidupannya, mencari pengalaman yang baru untuk memenuhi keinginan untuk superior, dan meramu semua itu sehingga tercipta diri yang berbeda dari orang lain, yang mempunyai gaya hidup sendiri. namun diri kreatif ini adalah tahapan di luar gaya hidup. Gaya hidup adalah bersifat mekanis dan kreatif, sedangkan diri kreatif lebih dari itu. Ia asli, membuat sesuatu yang baru yang berbeda dari sebelumnya, yakni kepribadian yang baru. Individu mencipta dirinya.

5. Prinsip Diri yang Sadar (Conscious Self Principle)

Kesadaran menurut Adler, adalah inti kepribadian individu. Meskipun tidak secara eksplisit Adler mengatakan bahwa ia yakin akan kesadaran, namun secara eksplisit terkandung dalam setiap karyanya. Adler merasa bahwa manusia menyadari segala hal yang dilakukannya setiap hari, dan ia dapat menilainya sendiri. Meskipun kadang-kadang individu tak dapat hadir pada peristiwa tertentu yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu, tidak berarti Adler mengabaikan kekuatan-kekuatan yang tersembunyi yang ditekannya.

Manusia dengan tipe otak yang dimilikinya dapat menampilkan banyak proses mental dalam satu waktu. Hal-hal yang tidak tertangkap oleh kesadarannya pada suatu saat tertentu tak akan diperhatikan dan diingat oleh individu. Ingatan adalah fungsi jiwa, yang seperti proses lainnya, tidak bekerja secara efisien. Keadaan tidak efisien ini adalah akibat kondisi yang tidak sempurna pada organ tubuh, khususnya otak.

Adler tidak menerima konsep ambang sadar dan alam tak sadar (preconsious dan uncounsious) Freud. Hal ini dianggap sebagai mistik. Ia merasa bahwa manusia sangat sadar benar dengan apa yang dilakukannya, apa yang dicapainya, dan ia dapat merencanakan dan mengarahkan perilaku ke arah tujuan yang dipilihnya secara sadar.

6. Prinsip Tujuan Semu (Fictional Goals Principle)

Meskipun Adler mangakui bahwa masa lalu adalah penting, namun ia mengganggap bahwa yang terpenting adalah masa depan. Yang terpenting bukan apa yang telah individu lakukan, melainkan apa yang akan individu lakukan dengan diri kreatifnya itu pada saat tertentu. Dikatakannya, tujuan akhir manusia akan dapat menerangkan perilaku manusia itu sendiri. Misalkan, seorang mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi bukanlah didukung oleh prestasinya ketika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah, melainkan tujuannya mencapai gelar tersebut. usaha mengikuti setiap tingkat pendidikan adalah bentuk tujuan semunya, sebab kedua hal tidak menunjukkan sesuatu yang nyata, melainkan hanya perangkat semu yang menyajikan tujuan yang lebih besar dari tujuan-tujuan yang lebih jauh pada masa datang.

Dengan kata lain, tujuan yang dirumuskan individu adalah semua karena dibuat amat ideal untuk diperjuangkan sehingga mungkin saja tidak dapat direalisasikan. Tujuan fiksional atau semu ini tak dapat dipisahkan dari gaya hidup dan diri kreatif.

Manusia bergerak ke arah superioritas melalui gaya hidup dan diri kreatifnya yang berawal dari perasaan rendah diri dan selalu ditarik oleh tujuan semu tadi.

Tujuan semu yang dimaksud oleh Adler ialah pelaksanaan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia. Melalui diri kreatifnya manusia dapat membuat tujuan semu dari kemampuan yang nyata ada dan pengalaman pribadinya. Kepribadian manusia sepenuhnya sadar akan tujuan semu dan selanjutnya menafsirkan apa yang terjadi sehari-hari dalam hidupnya dalam kaitannya dengan tujuan semu tersebut.

7. Prinsip Minat Sosial (Social Interest Principle)

Setelah melampaui proses evolusi tentang dorongan utama perilaku individu, Adler menyatakan pula bahwa manusia memiliki minat sosial. Bahwa manusia dilahirkan dikaruniai minat sosial yang bersifat universal. Kebutuhan ini terwujud dalam komunikasi dengan orang lain, yang pada masa bayi mulai berkembang melalui komunikasi anak dengan orang tua.

Proses sosialisasi membutuhkan waktu banyak dan usaha yang berkelanjutan. Dimulai pada lingkungan keluarga, kemudian pada usia 4-5 tahun dilanjutkan pada lingkungan pendidikan dasar dimana anak mulai mengidentifikasi kelompok sosialnya. Individu diarahkan untuk memelihara dan memperkuat perasaan minat sosialnya ini dan meningkatkan kepedulian pada orang lain. Melalui empati, individu dapat belajar apa yang dirasakan orang lain sebagai kelemahannya dan mencoba memberi bantuan kepadanya. Individu juga belajar untuk melatih munculnya perasaan superior sehingga jika saatnya tiba, ia dapat mengendalikannya. Proses-proses ini akan dapat memperkaya perasaan superior dan memperkuat minat sosial yang mulai dikembangkannya.

Dikarenakan manusia tidak sepenuhnya dapat mencapai superioritas, individu tetap memiliki perasaan ketidakmampuan. Namun individupun yakin bahwa masyarakat yang kuat dan sempurna akan dapat membantunya mencapai pemenuhan perasaan superior. Gaya hidup dan diri kreatif melebur dalam prinsip minat sosial yang pada akhirnya terwujud tingkah laku yang ditampilkan secara keseluruhan.

PERILAKU MANUSIA MENURUT PSIKOLOGI INDIVIDUAL ADLER

Menjelaskan perilaku manusia menurut teori Adler dapatlah berpegang pada pernyataan Adler sendiri, bahwa tujuan akhir perilaku individualah yang dapat dijadikan gambaran untuk menerangkan perilaku tersebut. jadi aktivitas seperti perkawinan, pelanggaran hukum, bunuh diri, humor, keadaan supranatural, merokok, bermain dan reakreasi, serta psikoseneurosis, adalah aktivitas yang bertujuan menurut apa yang dirumuskan oleh individu, yang dipengaruhi oleh perasaan rendah diri atau superior yang khas, gaya hidup dan diri yang kreatif yang khas pula. Jadi sukar untuk menafsirkan satu aktivitas yang mempunyai makna aktivitas itu sangat khas untuk tiap orang dan hanya dapat dirumuskan oleh dirinya sendiri, atau setidak-tidaknya oleh tindakan yang ditampilkannya.

MEMPREDIKSI PERILAKU MANUSIA MENURUT PSIKOLOGI INDIVIDUAL ADLER

Prediksi bukanlah sisi kekuatan teori Adler, sebab ada dua alasan yang dapat dilukiskan dari inti sistemnya, yakni bahwa teori Adler ini bersifat unik, dan tekanan pada manusia adalah pada eksistensinya, dan bukan penghargaan yang tinggi dan bersifat pribadi.

Meskipun demikian dapat juga diidentifikasi melalui pandangan tentang gaya hidup manusia bahwa setiap individu akan meneruskan kecenderungannya untuk tetap unik dalam lingkungan yang ditempatinya.

1. Prediksi Pribadi

Prediksi secara pribadi yang mungkin dilakukan adalah menerima gagasan Adler mengenai pola perilaku yang muncul dan menjadi gaya hidup, khususnya mengenai posisi seseorang dalam keluarganya, sebagai anak sulung, bungsu atau anak tengah dan tunggal. Melalui telaahannya Adler dapat mengantisipasi pola perilaku tertentu dari anak yang memiliki status tertentu dalam keluarga. Seperti anak bungsu, cenderung agak lunak, acuh, mampu menyesuaikan diri, dan kurang usaha untuk superioritas.

2. Prediksi Labolatorium atau Ilmiah

Teori Adler yang dimasukkan ke dalam wilayah penelitian hanya sedikit, yakni terbatas pada konsep kedudukan urutan anak dalam keluarga dan gaya hidupnya yang terbentuk karena statusnya itu. Meskipun dikatakan Adler bahwa anak pertama cenderung bersifat pada setiap keluarga, namun yang penting diamati adalah bahwa status anak dalam keluarga tertentu mempunyai dampak yang kuat atas kepribadiannya, dan itu tergantung pula pada lingkungan keluarga yang membinanya, yang bersifat sangat pribadi.

Teori Psikoanalisis Humanistis

Gambaran Umum Teori Psikoanalisis Humanistis

Tesis dasar Erich Fromm menyatakan bahwa manusia pada masa modern ini telah terpisah dari kesatuan prasejarah mereka dengan alam dan juga dengan satu sama lain, namun mereka memiliki kekuatan akal, antisipasi dan imajinasi.

Fromm mengembangkan teori kepribadian yang menekankan pengaruh faktor sosiobiologis, sejarah, ekonomi dan struktur kelas.

Psikoanalisis humanitis berasumsi bahwa terpisahnya manusia dengan dunia alam menghasilkan perasaan kesendirian dan isolasi, kondisi yang disebut sebagai kecemasan dasar (basic anxiety)

Biografi Erich Fromm

Fromm lahir pada tanggal 23 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman.Ia merupakan anak tunggal dari orang tua Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya adalah Naphtali Fromm dan Ibunya bernama Rosa Krause Fromm. Masa kecil Fromm jauh dari kehidupan ideal, ia ingat bahwa ia memiliki orang tua neurotic. Dan bahwa ia juga mungkin seorang anak neurotik yang agak di luar batas.Saat Fromm berusia 14 tahun, pada saat pecahnya perang dunia 1. Dan semasa remaja, Fromm sangat tergerak oleh tulisan Freud dan Karl Marx.Setelah perang, Fromm menjadi seorang sosialis. Walaupun pada saat itu ia tidak mau bergabung dengan partai sosialis.

Dari tahun 1925 sampai 1930, ia mempelajari psikoanalisis, pertama di Munich lalu di Frankfurt kemudian di Berlin Psychoanalitic Institute.Pada tahun 1926, tahun yang sama dimana ia keluar dari agama ortodoks, Fromm menikahi Frieda Reichman (analisnya) yang berusia 10 tahun lebih tua darinya. Namun mereka bercerai pada tahun 1930.Pada tahun 1930, Fromm dan beberapa orang lainnya ,mendirikan South German Institute for Psychoanalitic di Frankfurt. Pada tahun 1941, Fromm bergabung dengan Asosiasi untuk Perkembangan Psikoanalisis.

Pada tahun 1944 Fromm menikahi Henry Gurland, seorang wanita yang dua tahun lebih muda darinya dan memiliki minta pada agama dan pikiran mistis, kemudian mendorong hasrat Fromm akan Budhisme zen lebih jauh. Namun istrinya meninggal pada tahun 1952.Di meksiko, ia bertemu dengan Annis Freeman yang ia nikahi pada tahun 1953.Erich Fromm meninggal pada tanggal 18 Maret 1980 setelah ulang tahun yang ke 80 di Swiss.

Asumsi Dasar Fromm

Asumsi dasar Fromm adalah bahwa kepribadian individu dapat dimengerti hanya dengan memahami sejarah manusia. “Diskusi mengenai keadaan manusia harus mendahulukan fakta bahwa kepribadian dan psikologi harus didasari oleh konsep antropologis-filosofis akan keberadaan manusia” (Fromm,1947,hlm.45)

Fromm (1947) percaya bahwa manusia, tidak seperti binatang lainnya, telah “tercerai berai” dari kesatuan prasejarahnya dengan alam. Mereka tidak memiliki insting kuat untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah, melainkan mereka telah memperoleh kemampuan bernalar—keadaan yang disebut Fromm sebagai dilema manusia.

Kemampuan bernalar manusia adalah anugerah dan juga kutukan. Di satu sisi, kemampuan ini membiarkan manusia bertahan, namun  di sisi lain, hal ini memaksa manusia berusaha untuk menyelesaikan dikotomi dasar yang tidak ada jalan keluarnya.

Fromm menyebut hal tersebut sebagai “dikotomi eksistensial”  karena hal ini berakar dari keberadaan atau eksistensi manusia. Ada 3 jenis dikotomi:

–          Dikotomi pertama dan paling fundamental adalah antara hidup dan mati

–          Dikotomi eksistansial kedua adalah bahwa manusia mampu membentuk konsep tujuan dari realisasi diri utuh, namun kita juga menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk mencapai tujuan itu

–          Dikotomi eksistensial ketiga adalah bahwa manusia pada akhirnya hanya sendiri, namun kita tetap tidak bisa menerima pengucilan atau isolasi.

Kebutuhan Manusia

Manusia, secara  biologis termasuk dalam kingdom animalia yang berarti manusia memiliki dorongan terhadap kebutuhan-kebutuhan fisiologis seperti rasa lapar, seks, dan keamanan. Namun, manusia tidak akan bisa menyelesaikan dilemanya sebagai manusia dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hewani ini. Hanya kebutuhan manusia khusus yang bisa mendorong manusia menuju ikatan kembali dengan dunia alam. Kebutuhan manusia yang khusus ini disebut sebagai kebutuhan eksistensial. Kebutuhan eksistensial ini muncul saat evolusi budaya manusia yang tumbuh dari usaha mereka untuk menemukan jawaban atas keberadaan mereka dan untuk menghindari ketidakwarasan. Individu yang sehat secara mental (waras) lebih mampu menemukan cara untuk bersatu kembali dengan dunia dengan memenuhi kebutuhan manusiawi mereka akan keterhubungan, keberakaran, kepekaan akan identitas, dan kerangka orientasi.

  1. Keterhubungan

Keterhubungan adalah dorongan untuk bersatu dengan satu orang atau lebih. Fromm menyatakan tiga cara dasar bagi manusia untuk terhubung dengan dunia, yaitu kepasrahan, kekuasaan, dan cinta. Pada dasarnya cara kepasrahan dan kekuasaan saling berhubungan. Orang yang tergolong pada tipe orang yang pasrah akan merasakan jati diri dalam hubungannya dengan kekuasaan yang dimiliki oleh siapapun tempat manusia tersebut memasrahkan dirinya (Fromm, 1981, hlm. 2). Begitupun dengan tipe orang penguasa. Mereka akan menyambut orang-orang pasrah yang menjadi pasangannya. Hubungan yang terjalin antara kepasrahan dan kekuasaan ini menghasilkan hubungan simbiosis yang memuaskan untuk keduanya. Walaupun simbiosis tersebut menyenangkan, hal tersebut dapat menghalangi pertumbuhan menuju integritas dan kesehatan psikologis. Keduanya hidup dari satu sama lain, memuaskan kebutuhan mereka akan kedekatan, namun kekurangan kekuatan dari dalam diri sendiri dan ketergantungan diri yang membutuhkan kebebasan dan kemandirian (Fromm, 1981, hlm. 2)

Menurut Fromm, cinta adlah satu-satunya jalan untuk seseorang bersatu dengan dunia dan dalam waktu yang sama mencapai individualitas dan integritas. Fromm mendefinisikan cinta sebagai kesatuan dengan seseorang atau sesuatu di luar diri dengan kondisi memegang teguh keterpisahan dan integritas diri sendiri. Cinta membiarkan seseorang untuk memuaskan kebutuhan mereka akan keterhubungan tanpa mengorbankan integritas dan kemandirian. Dalam cinta dua orang dapat menjadi satu, namun tetap terpisah. Dalam buku The Art of Loving, Fromm menyebutkan ada empat elemen dasar yang dapat ditemukan dalam cinta yang tulus yaitu rasa peduli, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan.

  1. Keunggulan

Keunggulan (transcendence) didefinisikan sebagai dorongan untuk melampaui keberadaan yang pasif dan kebetulan menuju alam penuh makna dan kebebasan. Keunggulan dapat dicari melalui pendekatan positif dan negatif. Pendekatan positif dilakukan dengan cara menciptakan. Manusia sadar akan kemampuannya menciptakan kehidupan (reproduksi) dan juga manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan kreasi dalam seni, agama, gagasan, hukum, produksi materi, dan cinta. Karena manusia memiliki daya cipta.

Melalui pendekatan negatif, manusia dapat melakukan penghancuran. Manusia dapat mengungguli hidup dengan menghancurkannya dan oleh karena itu melampaui korban-korban yang kita musnahkan. Fromm menyatakan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang menggunakan agresi keji, yaitu membunuh untuk alasan selain mempertahankan diri. Meskipun agresi keji dominan dan kuat pada beberapa individu namun hal ini tidak umum dimiliki semua manusia.

  1. Keberakaran

Keberakaran maksudnya adalah kebutuhan untuk berakar atau merasa berpulang kembali di dunia dengan kata lain manusia butuh pegangan dalam hidupnya, apakah itu orang lain atau dirinya sendiri tergantung pada bagaimana dirinya berkembang selama hidupnya. Keberakaran dapat dicari melalui cara produktif dan nonproduktif. Dengan cara produktif yaitu manusia, semakin dewasa, akan secara aktif dan kreatif berhubungan dengan dunia dan menjadi utuh atau terintegrasi setelah mereka berhenti bergantung pada orangtuanya, terutama ibunya. Dengan cara nonproduktif yaitu fiksasi. Fiksasi adalah keengganan yang kuat untuk bergerak melampaui keamanan dan perlindungan yang diberikan oleh seorang ibu. Orang-orang tipe ini memiliki keinginan kuat untuk dirawat, diasuh, dan dilindungi oleh figur ibu. Mereka adalah orang-orang yang bergantung secara eksternal dan takut serta merasa tidak aman ketika tidak lagi mendapat perlindungan sang ibu (Fromm, 1955, hlm. 40).

  1. Kepekaan akan identitas

Kepekaan akan identitas maksudnya adalah kemampuan untuk menyadari diri sendiri sebagai wujud terpisah. Ada dua cara untuk mencapai kepekaan akan identitas. Pertama, penyesuaian dengan kelompok. Maksudnya adalah identitas seseorang bergantung pada keterikatan mereka dengan orang-orang lain atau institusi, seperti bangsa, agama, pekerjaan, dan kelompok sosial. Kedua, dengan cara individualitas yaitu seseorang yang memiliki sedikit kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya dan sedikit kebutuhan untuk menyerahkan rasa dan kesadaran mereka sebagai individu. Mereka tidak perlu menyerahkan kebebasan dan individualitas mereka demi masuk dan diterima dalam masyarakat karena mereka memiliki kepekaan akan identitas yang otentik.

  1. Kerangka orientasi

Kerangka orientasi adalah kerangka arah yang digunakan manusia untuk mencari jalannya di dunia sehingga manusia bisa menemukan dan mencapai tujuannya. Kerangka orientasi membuat manusia bisa mengatur berbagai macam rangsang yang mengganggu mereka. Kerangka orientasi ini merupakan filosofi yang dijadikan cara yang konsisten dalam memandang sesuatu. Banyak orang yang terlalu menganggap benar pandangan filosofi mereka sampai-sampai mereka mau untuk melakukan apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankan kerangka orientasi mereka. Hal tersebut biasanya mengarah pada tujuan yang irasional. Oleh karena itu, untuk menjaga kewarasan pada manusia, manusia membutuhkan tujuan yang rasional yang memungkinkan manusia untuk mengungguli keberadaannya yang terasing dan mengubah arti hidup mereka ke arah yang lebih baik.

Gangguan Kepribadian

Fromm (1981) menyatakan bahwa orang-orang yang terganggu secara psikologis tidak mmapu mencintai dan gagal mencapai kesatuan dengan yang lainnya. Fromm membahas tiga masalah gangguan kepribadian yang berat yaitu:

  1. Nekrofilia

Nekrofilia berarti cinta akan kematian dan biasanya mengacu pada kelainan seksual dimana seseorang menginginkan kontak seksual dengan mayat. Tapi disini fromm mengartikan nekrofilia secara umum yaitu menunjukkan ketertarikan kepada kematian.

Seorang nekrofilia biasanya  bertingkah laku destruktif. Kepribadian nekrofilia membenci kemanusiaan, rasis, penghasut preman dan preman. Mereka suka membicarakan pertumpahan darah, penyiksaan, kehancuran, teror.

  1.  Narsisme berat

Manusia yang sehat menunjukkan bentuk narsisme yang baik yaitu ketertarikan akan tubuh sendiri. Narsisme berat menghalangi persepsi akan kenyataan sehingga segala sesuatu yang dimiliki orang dengan narsisme berat akan dinilai tinggi sementara milik orang lain dinilai tidak berharga. Orang dengan narsisme hanya terpaku dengan diri sendiri.

Keterpakuan pada diri sendiri  terkadang  menyebabkan hipokondriasis atau perhatian pada obsesif akan kesehatan seseorang. Fromm (1964) juga membahas hipokondriasis moral atau keterpakuan dengan rasa bersalah akan pelanggaran yang sebelumnya terjadi.

  1. Simbiosis inses

Simbiosis inses (incestous symbiosis)  merupakan  ketergantungan ekstrem pada sosok ibu maupun pengganti ibu. Manusia dengan simbiosi inses tidak dapat dipisahkan dengan ibunya (inangnya). Kepribadian mereka bercampur dengan orang lain (inang) yang menyebabkan jati dirinya hilang.  Orang dengan simbiosis inses akan merasa cemas dan takut apabila hubungan itu terancam. Mereka yakin bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa sosok ibu.

Sebagian individu patologis memiliki ketiga gangguan kepribadian ini.  individu-individu seperti ini membentuk  sindrom pembusukan (syndrom of decay).

 

Psikoterapi

Fromm terlatih sebagai analis freudian yang ortodoks, namun ia menjadi bosan dengan teknik analis yang standar. Kemudian ia mengembangkan sistem terapinya sendiri yang ia sebut dengan psikoanalisis humanistis.  Sistem terapi Fromm ini lebih memikirkan aspek interpersoanal dari pengalaman terapeutik. Ia percaya bahwa tujuan dari terapi adalah untuk pasien mengenali dirinya sendiri. Oleh karena itu, terapi harus membangun hubungan pribadi antar terapis dan pasien, sehingga sangat dibutuhkan komunikasi yang yang tepat.

Sebagai bagian dari usahanya untuk mencapai komunikasi aktif yang saling berbagi, Fromm meminta pasien untuk mengungkapakan mimpi-mimpi mereka. Fromm percaya bahwa mimpi memiliki arti di balik individu yang bermimpi. Ia menuturkn bahwa, terapis seharusnya tidak terlalu ilmiah dalam memaham pasien. Hanya dengan sukap keterhubungan maka seseorang dapat seutuhnya dimengerti.

 

Metode Investigasi Fromm

Fromm mengumpulkan data mengenai kepribadian manusia melalui banyak sumber termasuk psikoterapi, antropologi budaya, dan sejarah kejiwaan. Adapun kajian analisisnya antara lain: Sejarah singkat kajian antopologi budaya kehidupan sebuah desa di meksiko dan analisis psikobiografis terhadap Adolf Hitler.

  1. Karakter sosial sebuah desa di Meksiko

Mulai dari akhir tahun 1950 sampai pertengahan tahun 1960-an, Fromm dan sekeklompok psikologis, psikoanalisis, antropologis, dokter, dan ahli satistika mempelajari karakter sosial di Chiconcuac. Tim ini mewawancarai setiap orang dewasa dan sebagian anak-anak di desa pertanian terpencil dengan 162 kepala keluarga dan 800 penduduk. Sebagian besar penduduk adalah petani yang hidup dari sepetak tanah kecil yang subur.

Setelah hidup dengan diantara penduduk desa dan diterima oleh mereka, tim penelitian menggunakan berbagai macam teknik yang dirancang untuk menemukan orietasi karakter Fromm dalam masyarakat sepert itu.  Fromm percaya bahwa karakter memasarkan adalah hasil dari perniagaan modern dan cenderung ada dalam masyarakat di mana perdagangan bukan lagi sesuatu yang pribadi dan manusia menganggap diri mereka sebagai komoditas.

Walaupun demikian, peneliti menemukan bukti lain mengenai beberapa tipe karakter lain, yang paling umum adalah tipe reseptif nonproduktif. Orang-orang dengan orientasi ini cenderung untuk mengidolakan orang lain dan mengabdikan banyak energi untuk berusaha menyenangkan orang yang mereka anggap superior.

Tipe kepribadian kedua yang ditemukan adalah karakter menimbun produktif. Orang-orang dengan tipe ini  tergolong pekerja keras, produktif, mandiri. Mereka biasanya bercocok tanam di lahan mereka sendiri dan bergantung pada hasil panen dan biji yang disimpan aabila terjadi gagal panen. Menimbun bukan mengonsumsi, esensial bagi hidup mereka.

Tipe ketiga adalah tipe eksploitatif nonproduktif. Orang-orang dengan tipe ini cenderung terlibat perkelahian dengan pisau atau pistol, sedangkan wanitanya cenderung menyebar gosip. Secara umum Fromm dan Cobby (1970) melaporkan kemiripan yang luar biasa antara orientasi karakter sebuah desa di Meksiko dengan orientasi teoritis yang dinyatakan Fromm beberapa tahun sebelumnya.

  1. Studi psikohistoris mengenai hitler

Fromm meneliti dokumen sejarah untuk mendapat gambaran dari profil orang terkenal melalui sebuah teknik yang disebut psikohistoris atau psikobiografi. Fromm menganggap Hitler sebagai contoh dari manusia dengan sindrom pembusukan yang paling jelas di dunia. Hitler memiliki kombinasi nekrofilia, narsisme berat, dan simbiosis inses.  Berbeda dengan psikoanalisis lain yang hanya melihat masa kecil awal sebagai petunjuk bagi kepribadian saat dewasa, Fromm percaya bahwa dari tiap tahap perkembangan yang penting tidak ada sesuatu dalam kehidupan awal Hitler yang mendorongnya ke arah sindrom pembusukan.

Sebagai anak, Hitler dimanjakan oleh ibunya. Perlakuan ibunya itu, tersebut membesarkan rasa narsistis akan pentingnya diri sendiri.  Selama  remaja, ia mengalami konflik dengan ayahnya, yang menginginkan ia untuk lebih bertanggung jawab dan memiliki pekerjaan yang diandalkan sebagai pegawa negeri. Hitler di sisi lain, memiliki keinginan yang tidk realistisuntuk menjadi artis. Narsismenya menyalakan hasrat berapi-api akan kehebatan sebagai artis atau arsitek, namun kenyataan membawanya pada kegagalan demi kegagalan dalam bidang ini.

Kesadaran Hitler akan kegagalannya sebagai seniman semakin jelas dengan pecahnya perang dunia I. Ambisinya yang kuat, kini dapat disalurkan dengan menjadi pahlawan perang yang berjuang untuk tanah airnya. Akan tetapi, seusai perang ia mengalami kegagalan, bangsa tercintanya mengalami kekalahan dalam perang. Kegagalan inilah yang menyebabkan sifat destruktif Hitler  mencapai puncaknya dan menjadi tidak terbinasakan. Sifat Hitler yang termanifestasi adalah narsisme berat. Ia hanya tertarik pada dirinya sendiri, rencana-rencananya, dan ideologinya.

Menurut analisis Fromm, Hitler juga memiliki simbiosis inses yang tidak terlihat dari pengabdiannya pada ibunya, melainkan pada “ras” Jerman. Konsisten dengan sifat ini, ia juga seorang sadomasokis, terasing, dan kurang memiliki rasa cinta yang tulus atau rasa iba. Fromm juga menyatakan bahwa orang-orang tidak melihat Hitler sebagai seorang yang tidak manusiawi. Fromm menyimpulkan psikohistoris Hitler dengan kata-kata berikut: “Analisis mana pun yang berubah gambaran Hitler dengan menutupinya dengan kemanusiaan, hanya akan meningkatkan kecenderungan orang-orang terbutakan dari calon-calon Hitler yang baru, kecuali mereka memiliki tanduk.

 

Penelitian Terkait

1. Kerenggangan Kultur dan Kesejahteraan

Semakin seseorang menyatakan bahwa nilai-nilai mereka berbeda dengan masyarakat secara umum, semakin ia cenderung merasakan kerenggangan (Bernard, Gebauer, & Malo, 2006). Pernyatann ini mendukung teori fromm yang menyatakan bahwa, ‘Semakin seseorang merasa jauh dengan orang – orang dilingkungannya, semakin ia cenderung merasa terasingkan.’ Masyarakat modern dimana kita hidup disediakan banyak sekali kenyamanan dan keuntungan. Akan tetapi, kenyamanan tidak datang begitu saja. Kebebasan pribadi dan individualitas memang penting, namun ketika muncul paksaan paksaan yang mendorong manusia merasa renggang dari masyarakat, hal ini berbahaya bagi kesejahteraan mereka.

2. Beban Kebebasan dan Bujukan Politik

Gagasan dari Fromm yang cukup berpengaruh ialah soal politik. Dimana untuk menghindari beban kebebasan dalam keyakinan politik, khusunya dalam authoriarism dan konformitas. Authoriarism yakni bersatu pada sistem keyakinan yang lebih kuat dari pada individu tersebut. Konformitas mencakup perubahan sikap ndividu sesuai apa yang diinginkan orang lain.

Yang menarik dalam psikologi kepribadian mengenai keyakinan terhadap politik tersebut adalah bagaimana manusia mengembangkan bujukan politik tersebut dan apakah keribadian dapat memperkirakan jenis parpol yang akan dipilih.

Teori Perkembangan Erick Erickson

Biografi Erick Erickson 

TTL : Frankfurt, 15 Juni 1902

Wafat : Harwich, 12 Mei 1994

Ayahnya adalah seorang laki-laki berkebangsaan Denmark (tidak dikenal namanya) dan tidak mau mengaku Erikson sebagai anaknya sewaktu masih dalam kandungan dan langsung meninggalkan ibunya. Ibunya bernama Karla Abrahamsen yang berkebangsaanYahudi. Saat Erikson berusia tiga tahun ibunya menikah lagi dengan seorang dokter bernama Theodore Homburger, kemudian mereka pindah ke daerah Karlsruhe di Jerman Selatan. Nama Erik Erikson dipakai pada tahun 1939 sebagai ganti Erik Homburger. Erikson menyebut dirinya sebagai ayah bagi dirinya sendiri, nama Homburger direduksi sebagai nama tengah bukan nama akhir.

Sebelum melihat lebih jauh mengenai teori dari Erik Erikson, maka kita tidak bisa melewati sketsa biografi Erik Erikson yang juga berperan/mendukung terbentuknya teori psikoanalisis. Pencarian identitas tampaknya merupakan fokus perhatian terbesar Erikson dalam kehidupan dan teorinya.

Pertama kalinya Erikson belajar sebagai “child analyst” melalui sebuah tawaran/ajakan dari Anna Freud (putri dari Sigmund Freud) di Vienna Psycholoanalytic Institute selama kurun waktu kurang lebih tahun 1927-1933. Bisa dikatakan Erikson menjadi seorang psikoanalisis karena Anna Freud. Kemudian pada tanggal 1 April 1930 Erikson menikah dengan Joan Serson, seorang sosiologi Amerika yang sedang penelitian di Eropa. Pada tahun 1933 Erikson pindah ke Denmark dan di sana ia mendirikan pusat pelatihan psikoanalisa (psychoanalytic training center). Pada tahun 1939 Erikson pindah ke Amerika Serikat dan menjadi warga Negara tersebut, selain itu secara resmi pun dia telah mengganti namanya menjadi Erik Erikson. Tidak ada yang tahu apa alasannya memilih nama tersebut.

 

 

KONSEP TEORI

3 alasan kenapa teori erikson dikatakan sangat selektif:

  • sangat representatif, dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia
  • menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan
  • menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan

 

Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian, namunlebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan.Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial.Erikson mengemukakan persepsinya bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic. Epigenetic berasal dari dua suku kata yaitu epi yang artinya “upon” atau sesuatu yang sedang berlangsung, dan genetic yang berarti “emergence” atau kemunculan

Erikson mengungkapkan

Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.

Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.

Dalam bukunya yang berjudul “Childhood and Society” tahun 1963, Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”. Erikson berdalil bahwa setiap tahap menghasilkan epigenetic.

 

Tahapan Perkembangan  Erikson membagi tahapan perkembangan psikososial menjadi delapan tahapan

Tahap Perkiraan Usia Krisis Psikososial
I Lahir – 18 bulan Percaya vs Tidak Percaya
II 18 bulan – 3 tahun Kemandirian vs Keraguan
III 3 tahun – 6 tahun Inisiatif vs Rasa Bersalah
IV 6 tahun – 12 tahun Ketekunan vs Rasa Rendah Diri
V 12 tahun – 18 tahun Identitas vs Kekacauan Identitas
VI Dewasa Awal ( 18 – 40 tahun) Keintiman vs Isolasi
VII Dewasa Pertengahan (40 – 65 th) Generativitas vs Stagnasi
VIII Dewasa Akhir (>65 tahun) Integritas vs Keputusasaan

 

 

Masa Bayi

Tahapan psikososial pertama adalah masa bayi, periode yang kurang lebih setahun pertama kehidupan dan paralel dengan fase oral dalam perkembangan menurut Freud. Tidak seperti perkembangan yang  menurut Freud yang memperhatikan hanya terbatas pada mulut, menurut Erikson masa bayi adalah masa pembentukan, dimana bayi ‘menerima’ bukan hanya melalui mulut, namun juga melalui organ indra lain. Masa bayi ditandai oleh gaya psikososial sensori – oral, krisis psikososial rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya dasar, dan kekuatan dasar harapan.

Gaya Sensori – Oral

Pandangan luas Erikson terhadap bayi diungkapkan dalam istilah sensori – oral, frasa yang mencakup gaya psikoseksual utama dalam penyesuaian diri. Tahapan sensori – oral ditandai oleh dua gaya pembentukan, yaitu memperoleh dan menerima apa yang diberikan. Bayi dapat memperoleh walaupun tanpa keberadaan orang lain. Akan tetapi, gaya pembentukan kedua menyiratkan konteks sosial. Pelatihan awal dalam hubungan interpersonal membantu mereka belajar untuk menjadi pemberi nantinya. Untuk membuat orang lain memberi, mereka harus belajar untuk mempercayai atau tidak mempercayai orang lain. Hal inilah yang membangun krisis psikososial dasar di masa kanak – kanak, yang dinamai rasa percaya dasar versus rasa tidak percaya dasar.

Rasa Percaya Dasar versus Rasa Tidak Percaya Dasar

Apabila pola menerima segala sesuatu cocok dengan kulturnya menerima segala sesuatu, maka bayi belajar rasa percaya dasar. Sebaliknya, mereka belajar rasa tidak percaya dasar bila mereka tidak menemui kecocokan antara kebutuhan sensori – oral mereka dengan lingkungan mereka. Rasa percaya dasar biasanya sintonik, sementara rasa tidak percaya dasar umumnya distonik. Walaupun demikian, bayi harus mengembangkan kedua sikap tersebut. Rasa percaya terlalu besar membuat mereka mudah ditipu dan rapuh terhadap keanehan dunia, sedangkan sedikit kepercayaan mengakibatkan mudah frustasi, amarah, sifat permusuhan, sikap sinis, atau depresi.

Erikson percaya bahwa rasio rasa percaya dan rasa tidak percaya merupakan hal kritis bagi kemampuan manusia untuk beradaptasi. Ia berkata pada Richard Evans bahwa ‘keika kita berhadapan dengan sebuah situasi, kita harus bisa membedakan seberapa besar kita harus mempercayai dan seberapa besar kita tidak boleh mempercayai, dan saya menggunakan kata tidak percaya disini dalam arti kesiapan akan bahaya dan antisipasi akan rasa tidak nyaman.

Harapan: Kekuatan Dasar Masa Bayi

Harapan muncul dari konflik antara rasa percaya dan rasa tidak percaya dasar. Tanpa hubungan antitesis antara rasa percaya dan rasa tidak percaya, manusia tidak bisa mengembangkan harapan. Apabila bayi tidak mengembangkan harapan yang cukup pada masa ini, maka mereka akan menampilkan antitesis atau lawan dari harapan, yaitu penarikan diri, patologi inti di masa bayi. Dengan hanya sedikit harapan, mereka akan menarik diri dari dunia luar dan memulai perjalanan menuju gangguan psikologis yang serius.

 

Masa Kanak – kanak Awal

Tahapan psikososial kedua adalah kanak – kanak awal, periode yang paralel dengan tahap anal Freud dan meliputi kurang lebih tahun kedua dan tahun ketiga dalam kehidupan. Freud yang menganggap bahwa anus sebagai zona yang paling memberikan kepuasan seksual (erogenous) selama periode ini dan selama fase anal – sadistis awal, anak – anak mendapat kesenangan dengan menghancurkan atau menghilngkan objek dan nantinya mereka mendapat kesenangan dengan buang air besar. Tetapi Erikson mengambil pandangan yang lebih luas, Erikson beranggapan bahwa anak – anak mendapat kesenangan bukan hanya karena menguasai otot sirkular yang dapat berkontraksi (sphincter), namun juga menguasai fungsi tubuh lainnya, seperti buang air kecil, jalan, memegang, dan seterusnya. Selain itu, anak – anak mengembangkan rasa kendali akan lingkungan interpersonal mereka, juga pengukuran dari kendali. Akan tetapi, masa kanak – kanak awal juga merupakan masa ragu dan malu karena mereka belajar bahwa banyak usaha mereka akan otonomi tidak berakhir dengan sukses.

Gaya Otot – Uretral – Anal

Selama tahun kedua kehidupan, penyesuaian psikoseksual utama anak adalah gaya otot – uretral – anal. Pada masa ini anak belajar untuk mengendalikan tubuh mereka, khususnya berkaitan dengan kebersihan dan pergerakan. Misalnya waktu untuk pelatihan menggunakan toilet (toilet training), belajar jalan, berlari, memeluk orang tua, berpegangan pada mainan, atau objek lain. Dengan aktivitas – aktivitas ini, anak – anak menunjukkan kecenderungan menjadi keras kepala, melakukan sesuatu dengan kehendak mereka sendiri.

Kanak – kanak awal adalah masa kontradiksi, masa pemberontakan yang bersikeras dan kepatuhan yang lembut, masa pengungkapan diri yang impulsif dan penyimpangan yang kompulsif, masa kerja sama yang penuh cinta dan penolakan yang penuh kebencian. Desakan yang bersikeras dan dorongan yang berlawanan ini memicu krisis psikososial utama masa kanak – kanak awal, yaitu otonomi versus rasa malu dan ragu.

Otonomi versus Rasa Malu dan Ragu

Bila masa kanak – kanak adalah masa untuk pengungkapan diri dan otonomi, maka masa ini juga merupakan masa untuk rasa malu dan ragu. Sebagaimana anak – anak dengan keras kepala mengungkapkan gaya otot – uretral – anal mereka, mereka cenderung menemui kultur yang berusaha untuk menghambat pengungkapan diri mereka. Konflik antara rasa malu dan ragu ini menjadi krisis psikososial utama di masa kanak – kanak awal. Idealnya, anak – anak seharusnya mengembangkan rasio yang pantas antara otonomi dengan rasa malu dan ragu, dan rasio tersebut harus lebih sedikit condong pada otonomi. Anak – anak yang terlalu sedikit mengembangkan otonomi akan mendapatkan kesulitan di tahapan – tahapan yang akan datang dan kekurangan dasar akan tahapan – tahapan selanjutnya.

Menurut diagram epigenetik Erikson, otonomi merupakan kualitas sintonik dan tumbuh dari rasa percaya dasar, dan bila rasa percaya dasar telah dicapai pada masa bayi, maka anak – anak belajar untuk memiliki keyakinan terhadap diri mereka sendiri, dan dunia tetap utuh selama mereka mengalami krisis sosial yang ringan. Sebaliknya, bila anak – anak tidak mengembangkan rasa percaya dasar selama masa bayi, maka usaha mereka untuk mengendalikan organ anal, uretral, dan ototnya selama masa kanak – kanak awal akan diakhiri dengan rasa malu dan ragu yang kemudian membangun krisis psikososial yang serius. Rasa malu adalah perasaan sadar diri bahwa ia dipandangi dan dipertontonkan, misalnya orang tua mungkin mempermalukan anak mereka yang mengotori celana dan mengacaukan makanan mereka sehingga rasa malu muncul dari anak tersebut. Sedangkan rasa ragu adalah perasaan tidak pasti, perasaan bahwa sesuatu tetap disembunyikan dan tidak bisa terlihat, misalnya anak mungkin menanamkan rasa ragu akan kemampuan mereka untuk memenuhi standar orang tuanya. Rasa malu dan ragu adalah kualitas distonik, dan keduanya tumbuh dari rasa tidak percaya dasar yang dicapai ketika masa bayi.

Keinginan: Kekuatan Dasar Kanak – kanak Awal

Kekuatan dasar akan keinginan dan kemauan berkembang dari resolusi krisis otonomi versus rasa malu dan ragu. Langkah ini adalah awal dari kehendak bebas dan kekuatan keinginan, namun hanya awal. Kekuatan keinginan yang matang dan ukuran signifikan kehendak bebas tertahan hingga tahapan perkembangan selanjutnya, namun mereka berasal dari keinginan awal yang timbul pada masa kanak – kanak awal. Konflik dasar selama kanak – kanak awal adalah antara perjuangan anak akan otonomi dan usaha orang tua untuk mengendalikan anak dengan menggunakan rasa malu dan ragu.

Anak – anak hanya akan berkembang bila lingkungan mereka membiarkan mereka memiliki pengungkapan diri dalam kendali otot sphincter dan otot – otot lainnya. Ketika pengalaman mereka mengakibatkan rasa malu dan ragu yang terlalu besar, anak – anak tidak mampu mengembangkan kekuatan dasar yang penting ini. Ketidakmampuan ini akan diungkapkan sebagai dorongan, patologi inti masa kanak – kanak awal. Terlalu kecilnya keinginan dan terlalu besarnya dorongan akan terbawa sampai usia bermain sebagai kurangnya tujuan dan hingga usia sekolah sebagai kurangnya rasa percaya diri.

 

Usia Sekolah

Menurut erikson, konsep usia sekolah merupakan perkembangan anak mulai dari usia 6 tahun hingga sekitar 12 atau 13 tahun dan cocok dengan tahun-tahun masa laten dalam teori Freud. Pada tahap ini, dunia sosial anak tidak hanya identik dengan pendidikan informal keluarga melainkan meluas pada kelompok teman, guru, bermain, dan masyarakat. Pada anak usia sekolah ditemukan adanya rasa keingintahuan kuat dan terikat dengan usaha dasar akan kompetensi. Biasanya anak berkembang dalam hal menulis, berburu dan memancing serta mengembangkan segala hal yang berkaitan dengan ketrampilan. Pada tahap anak usia sekolah, terdiri beberapa periode seperti:

Latensi

Usia sekolah merupakan periode latensi psikoseksual. Sepemahaman dengan freud, erikson menyatakan bahwa latensi penting. Karena kemungkinan anak mengalihkan energi mereka untuk mempelajari teknologi kultur dan strategi akan interaksi sosial mereka. Anak mulai membentuk gambaran diri mereka sebagai orang yang berkompeten dan tidak kompeten. Gambaran inilah yang berasal dari ego identitas.

Industri versus Rasa Rendah Diri

Pada tahap ini telah ditemukan krisis psikososial yaitu industri versus rasa rendah diri. Dimana, industri merupakan kualitas sintonik yang berarti kesungguhan dan kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu. Jika pekerjaan yang mereka lakukan tidak cukup baik untuk mencapai sasaran maka anak akan mengalami rasa rendah diri. Rendah diri merupakan kualitas distonik dalam usia sekolah. Erikson optimis, bahwa manusia mampu mengatasi krisis dengan sukses ditahapan apapun walaupun tidak seluruhnya sukses ditahap sebelumnya. Rasa rendah diri tidak harus di hindari, karena Alfred Adler menyatakan bahwa rasa rendah diri dapat bekerja sebagai pendorong untuk melakukan yang terbaik.

Kompetensi: Kekuatan Dasar Usia Sekolah

Anak usia sekolah mengembangkan kekuatan dasar kompentensi dengan rasa percaya diri untuk menggunakan kemampuan fisik dan kognitif dalam menyelesaikan masalahnya.

Jika pertentangan antara industri dan rendah diri tidak condoh pada salahsatunya maka anak akan cenderung menyerah dan mundur ke tahap sebelumnya. Kemunduran ini disebut inersia, antitetis dari kompetensi, dan patologi inti usia sekolah.

 

Remaja 

Remaja merupakan periode pubertas, dimana berlangsung hingga dewasa muda. Pada tahan ini, anak mengalami perkembangan yang paling krusial karena anak harus mendapat identitas ego yang tetap. Krisis antara identitas dan kebingungan identitas yang terjadi menimbulkan kesetiaan, kekuatan dasar masa remaja.

Erikson, melihat masa remaja sebagai latensi sosial. Remaja diperbolehkan untuk mengalami berbagai cara dan mencoba peran-peran serta keyakinan baru sambil mencari ego identitas. Jadi, remaja adalah fase adaptif dari perkembangan kepribadian atau periode coba-coba.

Pubertas

Merupakan kematangan genital yang memainkan peranan cukup kecil dalam tahap remaja. Tapi, pubertas adalah hal penting secara psikologis karena memicu pengharapan akan peran yang secara esensial dan dapat dipenuhi hanya dengan perjuangan untuk mencapai ego identitas.

Identitas versus Kebingungan Identitas

Dalam perkembangan pubertas, remaja peran baru untuk membantu menemukan identitas seksual, ideologis, dan pekerjaan mereka. Pencarian identitas dikuatkan dalam krisis yang mereka coba mengatasi dengan konflik psikososial identitas versus kebingungan identitas.

Erikson menyatakan bahwa identitas timbul dari dua sumber :

Penegasan atau penyangkalan remaja akan identifikasi masa kanak-kanak

Konteks sosial serta sejarah mereka yang mendukung konformitas pada standar tertentu.

Identitas sendiri dapat dilihat secara positif dan negatif.

Sedangkan kebingungan identitas adalah gejala dari masalah yang mencakup gambaran diri yang terpisah, ketidakmampuan untuk mencapai keintiman, rasa terdesak oleh waktu, kurangnya konsentrasi pad tugas yang harus dilakukan, dan penolakan keluarga atau kmunitas. Jika kita mengembangkan rasio yang baik akan identitas dan kebingungan identitas maka kita akan memiliki :

Keyakinan dalam arti prinsip ideologis.

Kemampuan untuk memutuskan secara bebas bagaimana seharusnya bertingkhlaku.

Rasa percaya dari kelompok teman dan orang dewasa yang memberikan saran mengenai sasaran serta aspirasi.

Rasa percaya diri terhadap plihan pekerjaan.

Kesetiaan : Kekuatan Dasar Remaja

Kesetiaan merupakan kekuatan dasar yang timbul saat usia remaja. Dimana, rasa percaya memang dipelajari saat bayi oleh karena itu menjadi dasar kekukatan usia remaja. Sehingga remaja tidak membutuhkan bimbingan orangtua namun butuh adanya rasa percaya diri dalam ideologi agama, politik, dan sosial.

Pasangan patologis kesetiaan adalah penyangkalan peran, hal ini yang menghalangi remaja untuk mempersatukan beragam gambaran diri dan nilai menjadi identitas yang berfungsi. Penyangkalan peran berwujud kurangnya kepercayaan diri. Kurangnya kepercayaan merupakan kurangnya keyakinan pada diri sendiri yang diungkapkan dengan rasa malu dan ragu untuk mengekspresikan diri sendiri. Penyimpangan yang juga bisa sebut sebagai kurangnya kepercayaan diri merupakan tindakan memberontak melawan penguasa. Penyimpangan dapat berupa remaja yang keras kepala. Menurut Erikson, sejumlah penyangkalan bukan hanya dibutuhkan untuk mengembangkan identitas pribadi remaja tapi juga memberikan gagasan baru dan vitalitas baru ke dalam struktur sosial.

 

Dewasa muda

Masa perkembangan sekitar usia 19 sampai 30 tahun, tidak dibatasi waktu tapi dimulai dengan adanya keintiman di awal tahapan dan generativtas diakhir. Dewasa muda harus mengembangkan genitalitas yang matang, mengalami konflik antara keintiman dan ketersaingan, serta memperoleh kekuatan dasar cinta.

Genitalitas

Genitalitas sejati dapat berkembang hanya selama dewasa muda pada saat dibedakan antara rasa percaya, kepuasan seksual yang stabil dengan seseorang yang dicintai.

Keintiman versus Ketersaingan

Keintiman adalah kemampuan untuk meleburkan identitas seseorang dengan orang lain tanpa ketakutan untuk kehilangan identias tersebut. Hal ini dapat dicapai apabila seseorang sudah membentuk ego yang stabil. Perasaan tergila-gila yang biasa kta temui pada remaja muda bukanlah keintiman yang sebenarnya karena dengan putus asa mencari keintiman melalui hubungan seksual yang tidak bermakna. Sebaliknya, keintiman yang matang, kemampuan atau kemauan untuk berbagi rasa percaya timbal balik.

Lawan dari keintiman adalah ketersaingan, ketidakmampuan untuk mengambil kesempatan dengan identitas seseorang dengan berbagi keintiman saja. Ketersaingan dibutuhkan sebelum seseorang memperoleh cinta yang matang. Bahaya yang terjadi jika kebersamaan yang berlebihan akan mengakibatkan hilangnya ego identitas seseorang, yang lebih parah jika ketersaingan yang berlebihan, keintiman yang terlalu kecil, dan kekurangan kekuatan dasar cinta.

Cinta : Kekuatan Dasar Dewasa Muda

Cinta menjadi kekuatan dasar dewasa muda yang muncul dari krisis keintiman versus ketersaingan. Erikson sendiri mendefinisikan cinta sebagai pengabdian matang yang mengatasi segala perbedaan antara pria dan wanita. Cinta yang matang adalah komitmen, hasrat seksual, kerjasama, persaingan, dan pertemanan.

Lawan dari cinta, eksklusivitas yang menjadi inti patologi pada dewasa muda. Patologi yang mampu menghambat kemampuan seseorang dalam bekerja sama, bersaing atau berkompromi yang mendasari cinta dan keintiman.

 

Dewasa

Tahap ke tujuh dalam teori erikson adalah masa dewasa. Dimana, manusia mulai mengambil bagian dalam masyarakat dan menerima tanggung jawab dari apapun yang diberikan masyarakat. Mengahabiskan waktu dari usia 31 tahun sampai 60 tahun dan ditandai dengan gaya psikoseksual prokreativitas, krisis psikososial generativitas versus stagnasi, dan kekuatan dasar rasa peduli.

Prokreativitas

Prokreativita tidak sekedar mengacu pada kontak genital dengan pasangan intim namun juga mencakup tanggung jawab untuk mengasuh keturunan yang merupakan hasil kontak seksual. Prokreasi baiknya timbul pada keintiman yang matang dan cinta stabil karena dewasa yang matang menuntut lebih dari prokreasi keturunan. Hal ini juga mencakup merawat anak-anak sendiri dan anak orang lain.

Generativitas versus Stagnasi

Erikson mendifinisikan generativitas sebagai generasi akan keberadaab produk baru dan gagasan baru. Generativitas tumbuh dari kualitas sintonik lainya seperti keintiman dan identitas. Adanya kesatuan ego mengakibatkan perluasan berangsur-angsur akan minat. Untuk dewasa yang sudah matang, dorongan memberi petunjuk kultur bukan semata kebutuhan egois namun merupakan dorongan evolusioner untuk berkontribusi pada generasi yang sukses dan untuk memastikan kesinambungan masyarakat manusia juga.

Rasa Peduli : Kekuatan Dasar Dewasa

Rasa peduli menurut Erikson adalah komitmen meluas untuk merawat seseorang, produk, dan gagasan seseorang yang harus dipedulikan. Inilah menjadi kekuatan dasar dewasa. Rasa peduli bukanlah tugas atau kewajiban namun dorongan alamiah yang muncul dari konflik antara generativitas dan stagnasi atau keterpukauan diri.

Lawan dari rasa peduli adalah penolakan. Dimana, adanya ketidakinginan untuk merawat orang atau kelompok tertentu (Erikson,1982). Penolakan berupa keterpusatan diri, provinsialisme, atau pseudospesiasi yaitu keyakinan bahwa kelompok manusia lain lebih rendah dari kelompokya sendiri.

Usia Lanjut        

Tahap perkembangan terakhir dari teori erikson adalah usia lanjut. Periode usia lanjut mulai 60 tahun sampai akhir kehidupan. Bukan berarti usia lanjut tidak bisa lagi menghasilkan generative. Secara prokreasi, untuk menghasilkan keturunan memang tidak bisa namun tetap bisa produktif dan kreatif dalam berbagai cara. Mereka dapat menjadi nenek dan kakek bagi cucunya dan merawat cucunya. Gaya psikoseksual usia lanjut adalah sensualitas tergeneralisasi, krisi psikososial intregitas versus keputusan, dan kekuatan dasar kebijaksanaan.

Usia lanjut bukan berarti seseorang sudah tidak lagi mengasilkan (generative).Prokreasi atau dalam arti sempit menghasilkan anak,namun orang dalam usia lanjut tetap bisa produktif dan kreatif dalam banyak cara lain.Misalkan mereka dapat merawat cucu cucu atau anggota keluarga yang lebih muda.Usia lanjut menjadi usia kesenangan,keriangan,dan bertanya tanya,namun juga masa akan kepikunan,depresi,dan keputusasaan.Gaya psikoseksual usia lanjut ada 3 yaitu :

  • Sensualitas tergeneralisasi

Seseorang dapat berkesimpulan bahwa sensualitas tergeneralisasi memiliki arti mendapat kesenangan dalam ragam sensasi fisik yang berbeda-pengelihatan,suara,bau,berpelukan,dan mungkin rangsangan genital.Akan tetapi,sikap sensualitas tergeneralitas bergantung pada kemampuan seseorang untuk mempertahankan integritas dalam wajah keputusasaan

  • Integritas versus keputusasaan

Integritas berarti perasaan akan keutuhan dan koherensi,kemampuan untuk mempertahankan rasa “kesayaan” serta tidak kehilangan kekuatan fisik dan intelektual.Integritas ego kadang sulit diperthankan ketika seseorang kehilangan aspek familiar dalam keberadaan mereka.Keputusasaan secara harfiah berarti tanpa haarapan.Kualitas distonik terakhir dalam siklus kehidupan terletak di sudut beriawanan dengan harapan.Seketika harapan itu hilang maka keputusasaan mengikuti dan hidup tak lagi bermakna

  • Kebijaksanaan : Kekuatan Dasar Usia Lanjut

Manusia dengan kepedulian terpisah bukan berarti kurang memiliki kepedulian,melainkan mereka menunjukan minat aktif,namun tidak berhasrat.Dengan kebijaksanaan yang matang,mereka mempertahankan integritas mereka walaupun kemampuan fisik dan mentalnya menurun.Di usia lanjut manusia memikirkan persoalan pokok,termasuk ketidakberadaan.

Rangkuman Siklus Hidup

Tahapan Gaya Psikoseksual Gaya Psikososial Kekuatan Dasar Patologi Inti Hubungan Signifikasi
Masa bayi Pernapasan-oral:sensori,kinestetik Rasa percaya dasar vs rasa tidak percaya dasar Harapan Penarikan diri Seseorang yang keibuan
Kanak kanak awal Otot,uretral,

anal

Otonomi vs rasa malu,ragu kemauan Paksaan Orang tua
Usia bermain Lokomotor genital kekanak kanakan Inisiatif vs rasa bersalah Tujuan Keterhambatan Keluarga
Usia sekolah Latensi Industri vs kerendahan diri Kompetensi Inersi Lingkungan tempat tinggal,sekolah
Remaja Pubertas Identitas vs kebingunan identitas Kesetiaan Penyangkalan peran Kelompok teman
Dewasa Muda Generalitas Keintiman vs Keterasingan Cinta Eksklusvitas Pasangan seksual
Dewasa Prokreativitas Generativitas vs Stagnasi Kepedulian Penolakan Pekerjaan terpisah dan berbagai rumah tangga
Usia Lanjut Generalisasi gaya sensual Integritas vs keputusasaan Kebijaksansaan Penghinaan Semua umat manusia

 

Metode Investigasi

Erikson menyatakan bahwa kepribadian adalah produk sejarah,kultur,serta biologi dan metode investigasinya yang beragam mencerminkan keyakinan ini.Erikson menggunakan metode antropologis,sejarah,sosiologis,dan klinis untuk mempelajari anak anak,remaja,dewasa dan orang lanjut usia.

Studi Antropologis

Erikson meneliti penyebab apatis di kalangan anak anak Sioux di South Dakota.Erikson mendapati bahwa apatis adalah ungkapan ketergantungan ekstrem bangsa Sioux yang telah berkembang sebagai hasil rasa percaya mereka pada program pemerintah federal yang beragam.Erikson menunjukan bahwa pelatihan di kanak kanak awal konsisten dengan nilai kultur yang kuat dan sejarah serta masyarakat membantu terbentuknya kepribadian.

Psikohistoris

Psikohistoris merupakan bidang kontroversial yang memadukan konsep psikoanalisis dengan metode sejarah.Erikson mendefinisikan psikohistoris dengan metode yang memadukan psikoanalisis dengan sejarah.Erikson menggunakan psikohistoris untuk menunjukan keyakinan utamanya bahwa setiap orang adalah hasil dari masa sejarahnya dan masa sejarah dipengaruhi oleh pemimpin luar biasa yang mengalami konflik identitas pribadi.

 

Penelitian terkait

Satu kontribusi utama Erikson adalah memperluas perkembangan kepribadian hingga dewasa. Dengan mengembangkan pernyataan perkembangan Freud hingga usia lanjut, Erikson menentang gagasan bahwa perkembangan psikologis berhenti sampai pada masa kanak-kanak. Peninggalan Erikson yang paling berpengaruh adalah teori perkembangannya dan khususnya tahapan remaja sampai usia lanjut. Ia salah satu teoritikus pertama yang menekankan periode kritis pada masa remaja dan konflik-konflik seputar pencarian seseorang akan identitas. Remaja dan dewasa muda sering bertanya: Siapa saya? Kemana saya akan pergi? Dan apa yang ingin saya lakukan sepanjang sisa hidup saya? Bagaimana mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan ini memainkan peranan penting terhadap hubungan seperti apa yang akan mereka kembangkan, siapa yang akan mereka nikahi, dan jalur karier apa yang akan mereka ikuti.

Berlawanan dengan teoritikus psikodinamika lainnya, Erikson memicu cukup banyak penelitian empiris, terutama pada remaja, dewasa muda, dan dewasa di sini, kita akan membahas penelitian akhir-akhir ini mengenai perkembangan dewasa dan pertengahan, khususnya tahapan generativitas anak.

Generativitas dan Parenting

Erikson (1982) mendefinisikan generativitas sebagai “generasi akan manusia baru sebagaimana produk dan gagasan baru”. Generativitas (hal-hal menghasilkan) secara khas tidak hanya diungkapkan dengan membesarkan dan mengasuh pertumbuhan pada anak-anak muda, tetapi juga dengan mengajar, membimbing, menciptakan, dan aktivitas pembacaan cerita yang membawa pengetahuan baru dalam keberadaan dan menyampaikan pengetahuan lama kepada generasi berikuatnya. Dan McAdams dan koleganya (McAdams, 1999; McAdams & de St. Aubin, 1992, Bauer & McAdams, 2004b) telah menjadi figur utama dalam penelitian mengenai generativitas dengan mengembangkan Skala Generativitas Loyola (Loyola Genarativity Scale – LGS) untuk mengukurnya, LGS mencakup butir-butir, seperti “Saya memiliki ketrampilan penting yang saya coba ajarkan pada orang lain” dan “Saya tidak bekerja secara sukarela untuk sebuah acara amal”. Skala ini mengukur beberapa aspek dalam generativitas, termasuk kepedulian terhadap generasi berikutnya; menciptakan dan mempertahankan objek dan hal lainnya; serta narasi seseorang, yaitu cerita atau tema subjektif yang orang dewasa ciptakan untuk menyediakan sesuatu bagi generasi berikutnya.

Menggunakan skala LGS, para peneliti telah menyelidiki dampak generativitas orang tua pada perkembangan anak. Secara teori, orang tua yang memiliki rasa generativitas yang tinggi seharusnya memberikan usaha dan rasa peduli yang besar dalam membesarkan anak sehingga menghasilkan keturunan yang baik dan bahagia. Bill Peterson menguji gagasan ini dengan studi terhadap mahasiswa dan orang tua mereka (Peterson, 2006). Peterson memprediksikan bahwa anak-anak dengan orang tua generatif tidak hanya akan lebih bahagia, namun juga memiliki sudut pandang masa depan, yaitu suatu cara untuk menjelaskan bahwa anak-anak dengan orang tua generatif akan memandang jauh ke depan dan dengan itu memandang optimis hal-hal yang akan datang. Untuk menguji prediksi ini, orang tua diminta melengkapi LGS dan mahasiswa melengkapi pengukuran kesejahteraan yang mencakup butir-butir mengenai kebahagiaan secara keseluruhan, rasa kebebasan, dan keyakinan terhadap diri sendiri. Mahasiswa juga melengkapi pengukuran pandangan masa depan di mana mereka memberikan urutan peringkat mengenai seberapa besar mereka memikirkan tentang hari berikutnya, bulan berikutnya, tahun berikutnya, dan sepuluh tahun dari sekarang.

Hasilnya mendukung pernyataan umum bahwa memiliki generativitas tinggi sangat penting untuk menjadi orang tua yang efektif. Anak-anak dengan orang tua yang sangat generatif lebih memiliki keyakinan terhadap diri mereka sendiri, memiliki rasa kebebasan yang lebih besar, dan secara keseluruhan lebih bahagia dalam hidup. Selain itu, anak-anak dengan orang tua yang sangat generatif memiliki orientasi masa depan yang lebih kuat, yang berarti mereka meluangkan waktu memikirkan masa depan mereka, dan berdasarkan pengukuran kesejahteraan secara menyeluruh, merasa cukup baik mengenainya. Ketika penemuan ini ditelaah dengan kerangka Erikson, semuanya masuk akal. Kebalikan dari generativitas adalah keterpakuan diri dan stagnasi. Apabila orang tua terlalu terpaku dan memanjakan diri sendiri, maka mereka kurang meluangkan waktu untuk memedulikan kesejahteraan anak-anak mereka. Sebaliknya, apabila orang tua sangat generatif, maka mereka peduli akan perkembangan anak dan akan melakukan segalanya untuk menyediakan lingkungan yang merangsang dan mendukung di mana di dalamnya anak akan tumbuh.

Generativitas versus Stagnasi

Seperti semua tahapan, masa dewasa terdiri dari dua konflik interaktif, yaitu generativitas dan stagnasi. Erikson secara umum menganggap stagnasi dan generativitas sebagai ujung berlawanan dari kontinum yang sama. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki generativitas tinggi akan memiliki stagnasi yang rendah dan juga sebaliknya. Akan tetapi, akhir-akhir ini, para peneliti mulai mempertanyakan seberapa berlawanannya dua aspek perkembangan masa dewasa ini dan telah melakukan eksplorasi stagnasi serta generativitas sebagai konstruk yang mandiri (Van Hiel, Mervielde, & De Fruyt, 2006). Satu alasan untuk pertukaran dari model Erikson ini, yaitu adanya kemungkinan bahwa manusia menjadi generatif dan stagnan. Situasi seperti ini mungkin terjadi ketika seseorang ingin menjadi generatif dan mengerti pentingnya menjadi generatif, namun karena apapun alasanya, tidak bisa mengatasi keterlibatan dirinya sendiri. Ia mungkin menyadari bahwa generativitas adalah tahapan selanjutnya dalam perkembangan, namun tidak bisa mencapainya.

Satu cara untuk menentukan kemandirian dari dua konstruk ini adalah dengan mengukur keduanya secara terpisah dan mengukur beberapa hal yang dihasilkan. Apabila mereka merupakan tingkat berlawanan dalam kontinum yang sama, maka kerika generativitas memprediksikan hasil secara positif, seperti kesehatan mental, stagnasi seharusnya memprediksikan kesehatan mental yang positif. Akan tetapi, bila mereka tidak selalu sesuai, maka kedua konstruk tersebut mungkin merupakan konsep terpisah. Oleh karena stagnasi tidak pernah diukur terpisah dari generativitas sebelumnya, maka para peneliti harus menciptakan pengukuran benar-benar dari awal. Berdasarkan deskripsi stagnasi yang diberikan oleh ahli-ahli lain (contohnya Bradley & Marcia, 1998), Van Hiel dan koleganya (2006) menciptakan pengukuran penilaian diri yang terdiri dari butir-butir, seperti “Saya sering menjaga jarak antara saya dengan anak-anak saya” dan “sulit untuk mengatakan apa tujuan saya”. Untuk mengukur generativitas, para peniliti menggunakan LGS yang sebelumnya dijelaskan dan digunakan di sebagian besar penelitian mengenai generativitas. Untuk melihat bahwa dua konstruk ini sesuai dalam hasil-hasil yang penting, para peniliti menyeleksi pengukuran luas akan kesehatan mental yang mencakup penilaian gejala terkait dengan beragam gangguan kepribadian, seperti ketidakmampuan mengatur emosi dan persoalan keintiman.

Hasil dari studi ini mendukung pemikiran baru bahwa stagnasi dan generativitas harus dilihat sebagai dua hal yang mandiri. Contohnya, stagnasi dan generativitas tidak memprediksikan kesehatan mental dengan cara yang sama. Mereka berada pada keadaan stagnasi yang tinggi cenderung tidak bisa mengatur emosi mereka. Akan tetapi, pada saat yang sama, generativitas tidak berkaitan dengan pengaturan emosi. Jika hanya generativitas yang diukur (dan bukan stagnasi secara terpisah), maka para peniliti ini tidak akan menemukan penemuan penting bahwa stagnasi berkaitan dengan masalah regulasi emosi. Para peneliti juga mendapati individu-individu yang berada pada keadaan stagnasi dan generativitas yang tinggi, dan kepribadian seperti ini tidak sehat dalam kesejahteraan mental dan emosi. Dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki generativitas tinggi, tetapi stagnasi rendah, orang-orang yang tinggi pada kedua dimensi kurang mampu untuk mengatur emosi mereka dan mengalami lebih banyak kesulitan keintiman. Kedua kualitas ini dianggap sebagai komponen-komponen kepribadian yang tidak adaptif.

Secara konseptual, penelitian ini tidak terlalu jauh berbeda dengan penelitian Erikson (stagnasi dan generativitas tetap tercakup). Akan tetapi, hal ini menunjukkan bahwa untuk tujuan praktis penelitian dan untuk memahami kepribadian dewasa dengan lebih utuh, stagnasi dan generativitas bisa dan kadang beroperasi secara terpisah serta mandiri dalam perkembangan dewasa.

TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL

Biografi Karen Horney

Karen Horney lahir dengan nama Karen Danielsen Horney di Eilbek, sebuah kota kecil dekat Hamburg Jerman pada tanggal 15 September 1885. Karen Horney merupakan anak perempuan satu-satunya Berndt (Wackels) Danielsen seorang kapten kapal, dan Clothilda van Ronzelen Danielsen. Ibu Karen Horney berusia 18 tahun lebih muda dari ayahnya, dia merupakan istri kedua. Keluarga Danielsen adalah sebuah keluarga yang tidak bahagia, hal ini dipicu oleh perbuatan saudara tiri Karen yang membuat ayah tirinya membenci ibunya. Karen merasakan permusuhan yang sangat besar terhadap ayahnya yang keras dan taat beragama, dan Karen menganggap ayahnya sebagai seorang munafik yang taat. Akan tetapi, ia mengidolakan ibunya yang selalu mendukung dan menjaganya dari ayahnya yang keras. Walapun demikian, Karen bukanlah seorang anak yang bahagia. Karen membenci perlakuan pilih kasih yang diberikan kepada kakak laki-lakinya, dan selain itu, ia khawatir dengan kebancian dan pertengkaran antara kedua orangtuanya.

Ketika berusia 13 tahun, Horney memutuskan untuk menjadi seorang dokter, tetapi pada saat itu tidak ada satupun universitas di Jerman yang menerima perempuan. Namun pada saat berusia 16 tahun, Karen memasuki Gymnasium sebuah sekolah yang akan berlanjut ke universitas dan kemudian ke sekolah kedokteran. Karen menjadi seseorang yang mandiri selama sisa hidupnya. Namun menurut Paris(1994) kemandirian Horney hanyalah di luarnya saja. Di dalam hatinya Horney memendam sebuah keputusan kompulsif untuk bisa bersama dengan seseorang yang hebat.

Pada tahun 1906, ia memulai studinya di University of Freiburg dan ia kemudian menjadi wanita pertama di Jerman yang belajar mengenai obat-obatan. Di sana ia bertemu dengan Oskar Horney, seorang mahasiswa ilmu politik yang kemudian menikah dengan Horney pada tahun 1909. Horney dan suaminya menetap di Berlin. Suami Horney bekerja di sebuah perusahaan batubara dan Karen mengambil spesialisasi untuk psikiatri.

Horney terbiasa membaca tulisan-tulisan dari Freud, dan pada tahun 1910 ia mulai mengerjakan sebuah analisis bersama Karl Abraham yang merupakan kolega dekat Freud yang nantinya membuat analisis tentang Melanie Klein. Tahun 1917 Horney berhasil menyelesaikan tulisan pertamanya tentang psikoanalisis yang berjudul “The Technique of Psychoanalytic Therapy” yang mencerminkan pandangan freud yang konvensional dan menunjukkan sedikit indikasi adanya pemikiran pribadi Horney di kemudian hari.

Karen Horney memperoleh gelar MD pada tahun 1915 setelah 5 tahun melakukan psikoanalisis. Dalam perjalanannya mencari laki-laki yang tepat, Horney terlibat dalam beberapa hubungan asmara. Setelah Perang Dunia I Horney menikmati kehidupannya sebagai psikiatri yang sukses. Pada tahun 1923, suami Horney kehilangan pekerjaannya dan tiga tahun kemudian Karen dan Oskar berpisah.

Awal perpisahan dengan Oskar merupakan masa produktif untuk Horney. Horney mulai menyukai menulis dan tulisannya makin memerlihatkan perbedaan penting dengan teori Freudian. Horney percaya bahwa kultur, bukan anatomi, membuat perbedaan psikis antara laki-laki dan perempuan. Ketika Freud berpikiran negatif terhadap pemikiran Horney, ia menjadi lebih terbuka mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan Freudian.

Pada tahun 1932, Horney meninggalkan Jerman untuk bekerja sebagai associate director di Chicago Psychonalitic Institute yang baru berdiri. Alasan yang membuat Horney mengambil keputusan tersebut adalah adanya iklim politik anti-Yahudi di Jerman dan semakin berkembangnya ketidaksetujuan terhadap pemikirannya yang baru.

Horney kemudian pindah ke New York dua tahun kemudian dan menjadi anggota group zodiac yang beranggotakan Fromm, Fromm Reichmann, Sullivan dll. Horney juga merupakan anggota dari New Yor Psychoanalitic Institute namun dia jarang sependapat dengan anggot-anggota lama. Tahun 1939 Horney menerbitkan buku yang berjudul New Ways In Psychoanalisis yang di dalamnya Horney mengajak untuk meninggalkan teori insting dan  lebih menitikberatkan pada ego dan pengaruh sosial. Kemudian, pada tahun 1950 Horney menerbitkan buku lagi yang berjudul Neurosis and Human Growth. Buku ini menjabarkan teori-teori yang tidak lagi hanya sebuah reaksi terhadap pemikiran Freud melainkan teori yang merupakan ekspresi pemikiran pribadinya yang kreatif. Horney meninggal dunia akibat kanker pada 4 Desember 1952 pada usia 65 tahun.

Pengantar Teori Psikoanalisis Sosial

Tulisan awal Horney mempunyai ciri khas Freudian, namun seperti Adler dan Jung lama kelamaan Horney tidak sepaham dengan psikoanalisis ortodoks/konvensional dan membentuk sebuah teori revisi yang merefleksikan pengalaman-pengalaman pribadinya, baik pengalaman klinis maupun bukan.

Meskipun tulisan Horney hampir sebagian besar berkaitan dengan masalah kejiwaan dan kepribadian neurotik, namun juga dapat diterapkan dalam kepribadian normal dan sehat. Horney setju dengan Freud bahwa trauma pada masa kanak-kanak awal merupakan hal yang penting, tetapi letak perbedaannya dengan Freud adalah pada keyakinannya bahwa dorongan sosial lebih berperan penting dalam perkembangan kepribadian dibandingkan dengan dorongan biologis.

Perbedaan antara Horney dan Freud

Horney mengkritik teori Freud dalam beberapa aspe. Pertama, ia memperingatkan bahwa mengikuti sepenuhnya pandangan psikoanalisis ortodoks/konvensional akan mengarah pada pada tidak berkembangnya pemikiran teoritis dan praktek terapi (Horney, 1937). Kedua, Horney (1937, 1939) tidak sependapat dengan ide  Freud mengenai psikologi feminin. Ketiga, ia menegaskan bahwa pandanagan psikoanalisis seharusnya menitikberatkan pada pentingnya pengaruh kultur dalam membentuk kepribadian. Menurut Horney (1939) “manusia tidak hanya diatur oleh prinsip kesenangan saja, tetapi oleh dua prinsip, yaitu keamanan dan kepuasan.” Masalah kejiwaan bukan merupakan akibat dari insting melainkan akibat dari “usaha seseorang mencari jalan agar dapat melalui jalan yang penuh rintangan.” Keadaan tersebut diciptakan oleh lingkungan sekitar dan bukan oleh insting atau anatomi.

Walaupun Horney semakin menentang pandangan Freud, tetapi Hotrney tetap mengakui pengetahuan yang dimiliki Freud. Perdebatannya dengan Freud bukan terletak pada keakuratan observasi yang dilakukan Freud tetapi pada validitas interpretasinya. Dengan kata lain Horney mengatakan bahwa pandangan Freud menyebabkan cara pandang manusia yang pesimis berdasrkan insting bawaan dan kepribadian yang tidak berkembang. Sedangkan di pihak lain, cara pandang Horney mengenai konsep kemanusiaan adalah cara pandang yang optimis dan berpusat pada dorongan kultural yang mudah mengalami perubahan (Horney, 1950).

Pengaruh Kultur

“setiap orang adalah seorang pesaing yang nyata atau pesaing yang potensial bagi orang lain” (Hoerney, 1937, hlm. 284). Daya saing dan rasa permusuhan dasar yang timbul oleh kultur modern menyebabkan perasaan terpisah. Perasaan sendiri di dunia yang tidak ramah ini akan menyebabkan meningkatkanya kebutuhan akan kasih sayang (needs for effection), yang pada akhirnya membuat orang menilai cinta terlalu tinggi. Sebagai akibatnya, banyak orang melihat cinta dan kasih sayang sebagai jawaban atas semua permasalahan yang mereka hadapi. Memang cinta yang tulus dapat menjadi pengalaman yang baik dan bermanfaat bagi seseorang. Alih-alih mendapat manfaat dan kebutuhan akan cinta, orang-orang neurotik akan berusaha mendapatkan cinta dengan cara apapun.

Menurut Hoeney masayarakat Barat mempunyai perananan yang menimbulkan lingkaran setan ini, diantaranya dalam bebrapa hal. Pertama, orang-orang dalam masyarakat ini diperkenalkan dengan ajaran kultur tentang kekeluargaan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ajaran ini bertentangan dengan sikap lain yang juga terkenal di masyarakat., yaitu agresivitas dan dorongan untuk menang atau menjadi lebih baik dari orang lain. Kedua. Keinginan masyarakat untuk sukses dan berhasil mencapai sesuatu tidak pernah berakhir. Dengan demikian, biarpun orang telah memperoleh ambisi materiil, keinginan-keinginan  lain akan selalu bertambah. Ketiga, masyarakat Barat menyakinkan orang-orang bahwa mereka hidup bebas dan dapat memperoleh apapun yang mereka inginkan melalui kerja keras dan keteknan. Akan tetapi, kenyataannya, bagi sebagian orang kebebasannya dibatasi oleh faktor genetis, posisi sosial, dan daya saing orang lain.

Pentingnya pengalaman masa kanak-kanak

Horney (1939) membuat hipotesis bawa masa kanak-kanak yang berat berperan penting dalam menimbulkan kebutuhan-kebutuhan neurotik. Kebutuhan-kebutuhan ini menjadi kua tkaena hal ini merupakan satu-satunya cara bagi sang anak untuk merasakan perasaan aman. Walaupun demikian, satu pengalaman awal tidak bisa berperab membentuk kepribadian di kemudian hari. Hoerney, berpendapat bahwa “keselruuhan pengalaman-pengalaman masa kanak-kanaak membentuk struktur karakter tertentu, atau juga, memlulai perkembangannya.” Dengan kata lain, keseluruhan hubungan yang terjalin di masa-masa awal membentuk perkembangan kepribadian seseorang. “dengan demikian, sikap-sikap terhadap orang lain yang dilakukan di masa dewasa bukan merupakan pengulangan dari sikap-sikap yang dilakukan di masa dewasa bukan merupakan pengulangan dari sikap-sikap yang dilakukan di masa bayi, melainkan timbul dari struktur karakter yang dasarnya berkembang pada masa kanak-kanak”

Permusuhan dasar dan kecemasan

Apabila orang tua tidak dapat memnuhi kebutuhan-kebutuhan sang anak akan keamanan an kepuasan, maka sang anak akan mengembangkan perasaan permusuhan dasar (basic hostility) terhadap orang tuanya. Akan tetapi anak jarang menunjukkan secara terang-terangan rasa permusuhan ini sebagai kemarahan, melainkan mereka menekan rasa permusuhan mereka terhadap orang tuany adan tidak menyadari akan keberadaan rasa permusuhan tersebut. Rasa permusuhan yang ditekan kemudian mengarah kepada perasaan tiak aman yang kuat dan kecemasan yang samar-smar. Kondisi ini disebut sebgaai kecemasan dasar (basic anxiesty), yang Hoerney (1950) jelaskan sebagai “perasaan terisolasi dan tidak berdaya di dunia yang diangap tidak ramah”. Sebelumnya dia menggambarkan gambaran yang lebih jelas dengan menyebutkan kecemasan dasar sebagai “perasaan kecil, tidak berarti, tidak berdaya, ditinggalkan, terancam bahaya, di dunia yang siap untuk menyiksa, menipu, mnyerang, mempermalukan, mengkhianati, dan iri.” (hoerney, 1937, hlm. 92)

Walaupun ia kemudian mengubah tulisannya tentang cara-cara mempertahankan diri dari kecemasan dasar, hoerney (1937) pada awalnya mengindentifikasi empat cara umum yang dilakukan orang untuk menjaga diri mereka dari perasaan sendirian di dunia yang tidak ramah. Cara pertama adalah kasih sayang. Beberapa orang mungkin berusaha untuk membeli cinrta mereka dengan cara menuruti permintaan orang lain, barang-barang materiil, atau hasrat seksual.

Cara mempertahankan diri yang kedua adalah submissinveness. Orang-orang neuritik dapat patuh kepada orang lain, kepada institusi seperti perusahaan, atau kepada agama. Orang-orang neuritik yang patuh kepada orang lain sering kali melakukannya untuk bisa mendapatkan kasih sayang.

Cara mempertahankan diri yang selanjutnya adalah menjauh (withdrawal). Orang-orang neurotik seringkali melindungi diri mereka dari kecemasan dasar dengan cara mengembangkan kemandirian dari orang lain atau dengan memisahkan diri secara emosional dari orang lain. Dengan menjauh secara psikologis, orang-orang neurotik merasa tidak bisa disakiti oleh orang lain. Cara-cara ini menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa harus selalu menggunakan cara-cara tersebut dan oleh karenanya tidak dapat menggunakan strategistrategi interpersonal yang beragamm

Dorongan kompulsif

Horney menyakini bahwa orang-orang neurotik tidak menikmati penderitaan dan ketidakbahagiaan. Mereka tidak dapat mengubah tingkah laku mereka atas kemauan mereka sendiri. Akan tetapi, mereka harus secara terus-menerus dan berulang kali menjaga diri mereka dari kecemasan dasar. Strategi pertahanan diri ini membuat mereka terperangkap dalam lingkaran setan dimana kebutuhan-kebutuhan kompulsif untuk mengurangi kecemasan dasar mengarah pada tingkah aku yang memupuk harga diri rendah, rasa permusuhan kepada siapapin/apapun, pencarian kekuasaan yang tidak wajar, meningkatnya perassan lebih baik dari orang lain, dan ketakutan yang terasa terus menerus, yan gsemuanya itu akan mengakibatkan kecemasan dasar yang lebih besar.

Kebutuhan-kebutuhan neurotik

Horney menemukan sepuluh kebutuhan neurotik yang menggambarkan orang-orang neurotik dalam usahanya melawan kecemasan dasar. Kebutuhan-kebutuhan ini saling tumpang tindih satu sama lain dan satu orang dapat menerapkan lebih dari satu kebutuhan.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah sebagi berikut :

  1. Kebutuhan neurotik akan kasih sayang dan penerimaan diri

orang neurotik berusaha menyenangkan orang lain, memenuhi harapan orang lain, dan cenderung tidak menyukai adanya permusuhan.

  1. Kebutuhan neurotic akan rekan yang kuat

Kurangnya rasa percaya diri membuat orang neurotic berusaha mendekatkan diri kepada pasangan yang lebih kuat atau berpengaruh.

  1. Kebutuhan neurotik untuk membatasi hidupnya dalam lingkup yang sempit

Orang-orang neurotik bersaha untuk tidak menonjol, berada di tempat kedua, dan merasa puas dengan stimulus yang sangat sedikit.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekuasaan

kebutuhan ini biasa dibarengi dengan kebutuhan akan penghargaan sosial dan kepemilikan, menjelma menjadi kebutuhan unruk mengatur orang lain dan menghindari perasaan lemah atau tidak pintar.

  1. Kebutuhan neurotik untuk memanfaatkan orang lain

Orang-orang neurotik sering kali menilai orang lain berdasarkan bagaimna orang tersebut bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka, tetapi takut dimanfaatkan oleh orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik akan penghargaan sosial atau gengsi

Beberapa orang melawan kecemasan dasar dan berusah untuk menjdai yang pertama.

  1. Kebutuhan neurotik akan kekaguman pribadi

Orang-orang neurotik memiliki kebutuhan untuk dikagumi atas diri mereka daripada atas apa yang mereka miliki.

  1. Kebutuhan neurotik akan ambisi dan pencapaian pribadi

Orang-orang neurotik sering mempunyai dorongan untuk menjadi yang terbaik, mereka harus mengalahkan orang lain untuk membuktikan keunggulan mereka.

  1. Kebutuhan neurotik akan kemandirian dan kebebasan

Beberapa orang neurotik mempunyai kebutuhan yang kuat untuk menjauhi orang lain dengan  membuktikan bahwa mereka bisa bertahan hidup tanpa orang lain.

  1. Kebutuhan neurotik kesempurnaan dan ketidakmungkinan untuk salah

Orang neurotik berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi sempurna dan mereka takut membuat kesalahan dan mempunyai kelemahan pribadi sehingga mereka selalu berusaha untuk menyembunyikan kelemahan mereka dihadapan orang lain.

 

Kecenderungan Neurotik

Horney mulai melihat bahwa sepuluh kebutuhan diatas yang ia temukan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori umum. Pada tahun 1945, Horney mengidentifikasi 3 sikap dasar yang disebut kecenderungan neurotik (neurotic trends), yakni mendekati orang lain, melawan orang lain, dan menjauhi orang lain.

Kecenderungan ini juga bisa berlaku untuk individu-individu normal dan individu-individu neurotik. Individu normal sering kali sadar ketika menjalankan strateginya, sementara individu neurotik tidak sadar akan sikap yang mereka ambil. Individu normal memiliki kebebasan untuk memilih tindakan mana yang akan mereka pilih, sementara individu neurotik terpaksa untuk bertindak. Konflik yang dialami individu normal bersifat ringan, sementara individu neurotik memiliki konflik yang berat dan sulit dihadapi.

Seseorang dapat menggunakan masing-masing dari kecenderungan neurotik untuk mengatasi konflik dasar, tetapi sayangnya solusi ini pada dasarnya tidak produktif. Horney menggunakan istilah konflik dasar karena pada dasarnya anak-anak yang sangat muda terdorong ke tiga arah pertahanan diri tersebut. Pada anak yang sehat dorongan ini tidak selalu bertentangan, tetapi perasaan terpisah yang Horney jelaskan sebagai kecemasan dasar mendorong anak-anak untuk bertindak kompulsif dengan menjadikan satu dari ketiga kecenderungan neurotik dominan.

Mendekati Orang Lain

Sebuah kebutuhan neurotik untuk melindungi diri dari perasaan ketidakberdayaan. Untuk melindungi diri dari perasaan ini, orang yang penurut menggunakan salah satu atau kedua kebutuhan neuritik yang pertama, yakni berusaha mendapatkan kasih sayang dan penerimaan dari orang lain atau mereka mencari pasangan yang kuat. Horney menjelaskan kebutuhan ini sebagai “ketergantungan yang tidak wajar”.

Kecenderungan neurotik dengan cara mendekati orang lain melibatkan serangkaian strategi, yakni sebuah cara berpikir, merasakan, bertingkah laku. Horney juga menyebutnya sebagai filosofi hidup. Orang neurotik yang mengadopsi filosofi ini, mereka bersedia untuk mementingkan orang lain daripada dirinya.

Melawan Orang Lain

Jika orang penurut menganggap semua orang baik, maka orang agresif menganggap semua orang tidak ramah sehingga mereka mengadopsi strategi orang lain. Orang-orang neurotik yang agresif lebih memilih untuk melawan orang lain dengan cara tampil kuat dan kejam. Mereka termotivasi untuk memanfaatkan orang tersebut demi kepentingan mereka sendiri.

Lima dari sepuluh kebutuhan neurotik dirangkum menjadi kecenderungan neurotik melawan orang lain. Diantaranya adalah kebutuhan untuk kekuasaan, memanfaatkan orang lain, memperoleh penghargaan dan gengsi, dikagumi, dan mencapai sesuatu. Orang agresif lebih condong untuk bermain dengan tujuan menang daripada hanya untuk menikmati perlombaan. Orang penurut terdorong untuk mendapatkan kasih sayang dari semua orang, sementara orang agresif menganggap semua orang sebagai musuh potensial. Akan tetapi kedua tipe ini sama-sama membutuhkan orang lain.

Menjauhi Orang Lain

Beberapa orang memisahkan diri dari orang lain supaya dapat mengatasi konflik dasar terisolasi. Strategi ini merupakan ekspresi dari kebutuhan akan kesendirian, kebebasan, dan kemandirian. Akan tetapi, kebutuhan ini menjadi neurotik ketika orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan membuat jarak emosional antara diri mereka dan orang lain secara terus-menerus.

Banyak dari orang neurotik menganggap berhubungan dengan orang lain sebagai tekanan yang berat. Mereka menghargai kebebasan dan kemandirian serta sering terlihat menyendiri dan sulit didekati. Mereka menghindari komitmen sosial, tetapi ketakutan terbesar mereka adalah apabila mereka membutuhkan orang lain.

Orang-orang yang memisahkan diri dari orang lain mempunyai kebutuhan yang sangat kuat untuk menjadi kuat dan berpengaruh. Mereka takut akan kompetisi, takut hal itu dapat membuyarkan perasaan keunggulan mereka yang tidak nyata.

Kesimpulannya dari ketiga kecenderungan neurotik memiliki serangkaian karakteristik yang serupa dengan yang dimiliki individu normal dan masing-masing dari sepuluh kebutuhan neurotik dapat ditempatkan dengan mudah di dalam tiga kecenderungan neurotik.

KONFLIK INTRAPSIKIS

Seiring dengan perkembangan teorinya, Horney mulai memberikan perhatian pada lebih pada konflik-konflik dalam diri yang dialami, baik oleh individu-individu normal maupun oleh individu-individu neurotik.

Terdapat dua konflik intrapsikis paling paling penting, yaitu gambaran diri ideal dan kebencian diri. Secara singkat, gambaran diri ideal merupakan usaha untuk mengatasi konflik dengan membuat gambaran diri sendiri yang seperti dewa. Kebencian diri merupakan kecendrungan yang saling berhubungan, tetapi juga tidak masuk akal dan kuat untuk menganggap rendah dirinya yang sebenarnya.

Gambaran Diri Ideal

Horney percaya bahwa makhluk hidup, jika diberikan sebuah lingkungan dengan kedisiplinan dan kehangatan, akan mengembangkan perasaan aman dan percaya diri serta kecendrungan untuk memiliki pemahaman diri. Sayangnya, pengaruh-pengaruh negatif awal sering kali, menghambat kecendrungan alami seseorang untuk memperoleh pemahaman diri. Selain itu, juga terdapat perasaan terpisah dari diri mereka yang semakin berkembang. Oleh karena merasa terpisah dari diri mereka sendiri, maka seseorang merasa harus mendapatkan kepekaan akan identitas yang stabil. Dilema ini dapat diatasi hanya dengan menciptakan sebuah gambaran diri ideal.

Horney (1950) mengungkapkan tiga aspek dari gambaran ideal, yaitu.

  1. Pencarian Neurotik akan Kemuliaan

Pencarian neurotik akan kemuliaan mencangkup empat elemen.

  1. Pengidealan diri. Setelah orang mulai meyakini diri ideal mereka adalah sesuatu yang nyata, mereka mulai menjadikan diri ideal mereka bagian dari seluruh aspek kehidupan mereka.
  2. Kebutuhan akan kesempurnaan. Elemen ini mengacu pada dorongan untuk mengubah keseluruhan kepribadian menjadi seperti diri ideal. Orang-orang neurotik tidak puas hanya dengan melakukan sedikit perubahan; mereka hanya menerima kesempurnaan total.
  3. Ambisi neurotik. Elemen ini marupakan dorongan terus menerus untuk meraih keunggulan. Walaupun orang-orang neurotik mempunyai keinginan untuk bisa melakukan apapun dengan sangat baik, namun mereka menyalurkan energi mereka untuk aktivitas yang lebih memungkinkan mereka untuk meraih kesuksesan.
  4. Dorongan untuk mencapai kesuksesan dengan cara menjatuhkan orang lain. Elemen ini merupakan elemen yang paling berbahaya yang tujuan utamanya adalah untuk membuat orang lain malu atau kalah melalui kesuksesannya untuk memperoleh kekuasaan…untuk menimbulkan ketidak bahagiaan pada orang lain—yang lebih sering merupakan tujuan untuk mempermalukan orang lain.

 

  1. Permintaan Neurotik

Aspek kedua dari gambaran diri ideal adalah permintaan neurotik. Dalam pencarian akan kemuliaan, orang-oraang neurotik membangun dunia imajinasi—yaitu sebuah dunia yang bertolak belakang dengan dunia nyata. Oleh karena mempercayai bahwa ada sesuatu yang salah dengan dunia luar, maka mereka menyatakan bahwa mereka spesial dan oleh karena itu berhak mendapat perlakuan yang sesuai dengan pandangan ideal tentang diri mereka. Oleh karena permintaan mereka sangat disesuaikan dengan gambaran diri ideal mereka, maka mereka tidak melihat bahwa permintaan mereka akan perlakuan spesial adalah hal yang belebihan.

 

  1. Kebanggan Neurotik

Aspek ketiga dalam penggambaran diri ideal adalah kebanggaan neurotik, kembagaan yang salah dan didasari bukan pada pandangan realistis dari diri sebenarnya, tetapi pada gambaran yang salah dari diri ideal. Kebanggaan neurotik sama sekali berbeda dengan kebanggan yang sehat atau harga diri realistis. Harga diri realistis timbul berdasarkan atribut-atribut serta pencapaian-pencapaian realistis dan biasanya tidak diekspresikan dengan nyata. Disisi lain kebanggaan neurotik timbu, berdasarkan gambaran diri yang ideal dan biasanya dinyatakan dengan lantang untuk menjaga dan mendukung pandangan yang mulia tentang diri sendiri (Horney, 1950).

 

Kebencian Diri

Orang-orang yang melakukan pencarian neurotik akan kemuliaan tidak akan pernah bahagia dengan diri mereka. Ketika mereka menyadari bahwa diri mereka sebenarnya tidak bisa memenuhi tuntutan yang tak pernah terpuaskan tentang diri ideal mereka, mereka akan mulai membenci dan menganggap rendah diri mereka.

Horney menemukan enam cara utama mengekspresikan kebencian. Tuntutan yang tak henti-henti terhadap diri mereka sendiri. Kebencian dapat menyebabkan tuntutan yang tak henti-henti terhadap diri, yang digambarkan oleh tirani atas apa yang sebaiknya.

  1. Dakwaan terhadap diri yang kejam. Dakwaan terhadap diri muncul dalam berbagai bentuk—dari ekspresi yang tampak mengagumkan dan nyata, seperti merasa bertanggung jawab atas terjadinya bencana alam hingga mempertanyakan secara mendetail tentang manfaat dari motivasi mereka sendiri.
  2. Penghinaan terhadap diri. Penghinaan terhadap diri ini biasanya diekspresikan dengan cara meremehkan, merendahkan, meragukan, mendiskreditkan, dan mengolok-olok diri sendiri.
  3. Frustrasi diri. Frustrasi diri bermula dari kebencian diri dan dibentuk untuk membuat gambaran diri yang mengagumkan menjadi nyata.
  4. Penyiksaan diri atau penganiayaan diri. Penyiksaan diri ini dapat muncul dengan tujuan yang berbeda. Seperti beberapa orang bertujuan menimbulkan beberapa penderitaan untuk diri sendiri, namun ada juga yang bertujuan agar mendapat kepuasaan tersendiri apabila menyiksa diri.
  5. Tindakan dan dorongan menghancurkan diri. Keenam dan bentuk terakhir dari kebencian adalah tindakan dan dorongan untuk menghancurkan diri, yang dapat berupa kehancuran fisik maupun psikologis, disadari maupun tidak disadari, akut maupun kronis, dan yang benar-benar dilakukan maupun yang hanya dibayangkan.

Psikologi Feminim

Bagi Horney, perbedaan psikis antara pria dan wanita bukanlah hasil dari perbedaan anatomi, melainkan hasil dari perbedaan kultur dan harapan sosial terhadap masing-masing dari mereka. Horney (1937) meyakini bahwa kecemasan dasar merupakan penyebab utama dari kebutuhan pria untuk mengalahkan wanita dan dari keinginan wanita untuk mempermalukan pria.

Horney mengakui keberadaan Oedipus complex, ia meyakini bahwa hal ini merupakan akibat dari kondisi-kondisi lingkungan dan bukan akibat dari penyebab biologi. Tetapi, Horney (1967) tidak melihat adanya bukti terjadinya Oedipus complex di seluruh dunia. Ia mengatakan bahwa hal itu hanya ditemukan pada beberapa kasus saja dan merupakan ekspresi neurotik dari kebutuhan akan cinta.

Horney sepaham dengan pemikiran Adler bahwa banyak wanita memiliki masculine protest, yaitu mereka mempunyai kepercayaan tidak masuk akal bahwa pria lebih baik daripada wanita. Pada tahun 1994, Bernard J. Paris mempublikasikan sebuah pidato yang Horney berikan di tahun 1935 pada sebuah klub profesional dan pebisnis wanita di mana ia mengungkapkan ide-idenya tentang psikologi feminim. Horney merasa bahwa “tidak terlalu penting untuk mencari jawaban dari pertanyaan tentang perbedaan dibandingkan dengan memahami dan menganalisis signifikansi nyata dari ketertarikan pada ‘sudut pandang’ feminin” (Horney, 1994, hlm. 233).

 

Psikoterapi

Horney percaya bahwa neurosis muncul dari konflik dasar yang biasanya berawal dari masa kanak-kanak. Seiring dengan orang berusaha untuk mengatasi konflik ini, mereka cenderung mengadopsi satu dari tiga kecenderungan neurotik, yaitu mendekati, melawan atau menjauhi orang lain.

Tujuan umum dari terapi Horney adalah untuk membantu pasien berkembang perlahan menuju realisasi diri. Tujuan spesifik dari terapinya adalah agar pasien menghilangkan gambaran diri ideal mereka, menghentikan pencarian neurotik akan kemuliaan mereka, dan mengubah kebencian diri menjadi penerimaan terhadap diri mereka yang sebenarnya.

Tujuan terapis adalah untuk meyakinkan pasien-pasien bahwa solusi mereka saat ini lebih condong pada mendukung daripada mengurangi inti masalah dari neurosis, yang mana tugas ini membutuhkan banyak waktu dan kerja keras. Walaupun seorang terapis dapat membantu mengarahkan pasien-pasien menuju pengenalan diri, terapis baru benar-benar berhasil jika dibangun dari analisis diri (Horney, 1942, 1950). Pasien-pasien harus memahami perbedaan antara gambaran diri ideal mereka dan diri mereka sebenarnya.

Teori Horney menggunakan banyak teknik yang sama yang juga digunakan oleh terapis-terapis yang berdasarkan teori Freud, terutama dalam hal interpretasi mimpi dan asosiasi bebas. Horney menganggap mimpi sebagai usaha untuk mengatasi konflik-konflik, tetapi solusi yang diperoleh dapat berupa solusi neurotik maupun solusi yang sehat. Pada teknik kedua, yaitu asosiasi bebas, pasien-pasien diminta untuk mengatakan segala hal yang muncul di pikiran mereka betapapun sepelenya atau memalukannya hal-hal tersebut. (Horney, 1987). Mereka juga diminta untuk mengekspresikan perasaan apapun yang muncul dari asosiasi tersebut. Asosiasi bebas akan dapat mengungkapkan gambaran diri ideal pasien-pasien secara bertahap membangun rasa percaya diri dalam kemampuan mereka untuk bertanggung jawab atas perkembangan psikologis mereka.

 

Penelitian Terkait

Teori psikoanalisis sosial dari Horney tidak secara langsung menginspirasi sejumlah besar penelitian di psikologi kepribadian modern. Akan tetapi, pemikirannya tentang kecenderungan neurotik cukup relevan dengan banyak penelitian tentang neurotisme yang dilakukan masa kini.

 

Dorongan Neurotik untuk Menghindari Hal-hal Negatif

Dalam pandangan Horney (1942), orang-orang neurotik terus-menerus melindungin diri mereka dari kecemasan dasar dan strategi pertahanan diri ini memerangkap mereka dalam sebuah siklus negatif.

 

Mungkinkah Neurotisme Merupakan Hal yang Baik?

Michael Robinson dan rekan membuat sebuah penelitian untuk mencari tahu hubungan antara neurotisme, pengenalan ancaman, dan mood. Mereka membuat sebuah hipotesis yang berbunyi bahwa sensitivitas neurotik terhadap ancaman akan bisa bermanfaat karena orang-orang semacam ini dapat mengenali masalah kemudian mungkin akan menjauhi masalah tersebut, dan kesuksesan dalam menjauhi masalah itu akan membuat mereka merasa lebih baik. Robinson dan rekan menemukan bahwa ternyata ada cara untuk menjadi “orang neurotik yang sukses.” Secara spesifik, mereka menemukan bahwa bagi mereka yang mempunyai kecenderungan menjadi neurotik, kemampuan mereka untuk bereaksi secara adaptif terhadap kesalahan (yaitu untuk memperlambat respons dan berpikir lebih hati-hati) sambil menilai ancaman berhubungan dengan bahwa mereka mengalami lebih sedikit mood negatif dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari bahwa walaupun banyak penelitian yang menunjukkan sisi buruk dari neurotisme, tidak semua aspek dari hal tersebut merupakan seseuatu yang buruk. Banyak orang-orang neurotik yang berkemampuan baik dalam menghindari hasil-hasil negatif sehingga membuat hari-hari mereka terasa lebih baik.