Happy Ied Mubarak

image

Segenap keluarga besar Mendoan (ILMPI Wil 3) mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H
Mohon maaf lahir dan batin…
Semoga kita dapat dipertemukan
dengan Ramadhan tahun depan.
Taqobbalallohu minna wa minkum,
siyaamana wa siyaamakum.
Wa ja’alanallohu minal aidzin wal faizin.
Amiiin 🙂

Advertisements

BERBAGI CERIA DI BULAN RAMADHAN

Berbagi Ceria

BERBAGI CERIA DI BULAN RAMADHAN

Marhaban Ya Ramadhan, Alhamdulillah kita telah memasuki bulan yang penuh dengan rahmat, hidayah serta ampunan ini bagi umat islam yang menjalankannya. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana umat Islam berlomba-lomba mendapatkan pahala. Sedekah di bulan Ramadhan salah satunya dengan cara berbagi makanan untuk berbuka puasa atau sahur. Pada Ramdhan kali ini Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) Wilayah III mengadakan acara   Berbagi Ceria.

  Berbagi Ceria merupakan progam kerja dari Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (BPPM). Acara ini diadakan pada hari Kamis,16 Juni 2016.   Bebagi Ceria berlangsung di Panti Asuhan Yatim Putri Aisyah Cab. Kota Barat yang beralamatkan di Jl. Sam Ratulangi No.34-38 Surakarta. Acara   Berbagi Ceria ini bukan hanya sekedar untuk berbuka bersama, tetapi acara dibuat sesuai dengan pemberian namanya yaitu membuat acara agar teman-teman di panti asuhan merasa ceria dibulan Ramadhan ini.

Sesampainya disana kami disambut teman-teman panti asuhan dengan senyum keceriaan. Kami memulai acara pukul 15.45 dengan dibuka oleh Ade Sintya dan Triana Nur Baity sebagai pemandu acara. Kata peribahasa tak kenal maka tak sayang, maka selanjutnya perkenalan dari teman-teman Panti Asuhan Yatim Putri Aisyah. Selesai perkenalan kami ngabuburit atau menunnggu waktu buka puasa. Ngabuburit kali ini kita mngemasnya dengan cara yang berbeda, yaitu kita isi dengan permainan yang sangat menarik dan membuat suasan asemakin ramai dan ceria. Permainan ini diberinama joget Jiggy Joy. Jadi semua teman-teman panti diharuskan berjoget bersama. Permainan ini bertujuan agar menumbuhkan semangat dan mencairkan suasana sehingga acara dapat berjalan dengan asik dan akrab.

Teman-teman Panti Asuhan Putri Aisyah begitu senang dengan permainan ini, karena pada akhirnya semua tertawa yang sebelumnya masih malu-malu. Kemudian teman-teman menjadi semangat untuk mengikuti acara selanjutnya, yaitu game kreasi sampah. Game ini bertujuan untuk menunjukkan kreativitas dari teman-teman dipanti tersebut. Permainan ini terbagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-6 orang. Permainan disini teman-teman panti diminta untuk membuat sesuatu yang berguna yang berbahan dasar sampah. Semakin banyak sampah yang digunakan maka kelompok tersebutlah yang akan memenangkan permainan kreativitas ini. Dan pemenang dari permainan ini dimenangkan oleh kelompok 3, karena kelompok 3lah yang berhasil memanfaatkan banyak jenisbahan sampah.

Waktu berbuka puasa telah tiba maka aktivitas dihentikan sejenak untuk berbuka puasa. Kemudian dilanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah, yang di imami  pimpinan dari Yayasan panti Aisyiyah. Setelah sholat kami makan nasi bersama dari ILMPI sekaligus  pembagian hadiah bagi yang menang dan teman-teman yang berpartisipasi. Acara yang berikutnya penutupan sekaligus berpamitan kepada pengasuh dan teman-teman Panti Asuhan Aisyiyah. Setelah itu adalah sesi foto bersama dan bersalaman satu persatu untuk mengucap salam perpisahan. Semoga dengan acara berbgai rasa berbagi ceria kali ini kita dapat terus membagikan keceriaan untuk teman-teman di sekitar kita. Karena kebahagiaan tidak akan kurang jika dibagi, justru akan bertambah. Selamat menunaikan Ibadah Puasa

Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab Membentuk Ketahanan Mental

Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab Membentuk Ketahanan Mental

 

Kondisi kehidupan yang semakin kompleks dan tidak memanusiakan manuisa berdampak pada kondisi mental. Kondisi mental ini diperparah banyaknya tontonan yang tidak menyuguhkan sebuah tuntunan yang baik. Misal, banyaknya tayangan yang menampilkan hedonis, kapitalistik,  pragmatis, individualistik, dan bahkan gaya hidup yang bebas menjadikan rapuhnya kondisi mental. Rapuhnya kondisi mental ini salah satunya berdampak pada penyalahgunaan terahadap obat-obatan terlarang. Hal ini sebagai alternatif jalan keluar dari segala macam ekspektasi yang diinginkan akan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang diharapkan.

Sesuai dengan apa yang dirilis oleh kantor berita Antara Jakarta yang bersumber dari Badan Narkotika Nasional (BNN) berdasarkan laporan UNODC (lembaga survey internasional) yang menempatkan Indonesia pada tahun 2015 lalu pada posisi peringkat pertama mengenai peredaran narkotika di wilayah ASEAN. Kemudian berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BBN dan Universitas Indonesia bahwa pengguna obat-obatan terlarang tercatat dimulai dari rentang usia 10 sampai 59 tahun (Sumber: http://www.antaranews.com).

Berdasarkan data dari BNN tersebut mengindikasikan bahwa kualitas mental masyarakat Indonesia memiliki ketahanan mental yang  rapuh. Indikator yang dapat dijadikan dasar adalah adanya mental-mental yang berorientasi pada hasil akhir yang baik (best output) akan tetapi tidak mengedepankan pada proses yang baik yang dapat dilakukan (best process). Sehingga menjadikan banyaknya masyarakat Indonesia yang mudah mengambil jalan-jalan pintas yang dianggap sesuai agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan.

Mental pragmatis, hedonis, dan praksis ini merupakan indikator yang nyata. Di mana ketika mereka telah sampai pada tujuan yang diinginkan dengan segala macam bentuk popularitas dan fenomena puncak kejayaan, menjadikan banyak yang tidak tahan dengan godaan karena tidak memiliki pondasi dasar yang kokoh. Kemudian menyebabkan  banyak yang terjerat pada pusaran narkoba. Hal ini terbukti, berdasarkan realitas di masyarakat dapat menyaksikan di televisi akhir-akhir ini banyak orang-orang berurusan dengan hukum akibat penyalahgunaan obat-obatan terlarag.

Orang-orang tersebut antara lain adalah selebritis, pimpinan partai politik, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), penegak hukum, bahkan seorang hakim yang memiliki kewenangan untuk mengadilipun akhirnya diadili. Tidak sampai di situ juga, mahasiswa dan pelajar yang belum berpenghasilanpun ikut terjerat barang haram narkoba. Fakta ini mengindikasikan bahwa narkoba tidaklah pandang bulu dalam menjerat para penggunanya yaitu masyarakat Indonesia yang memiliki ketahanan mental yang lemah (Purwowiyoto: Tabloid Profesi Kardiovaskuler, 2014).

Di sisi lain pendidikan yang didapat seeorang sampai pada jenjang yang tinggi pun belum tentu menjadi jaminan dan manifestasi akan kondisi ketahanan mental yang kokoh. Sebab, jika dalam konteks ini pendidikan yang ada hanya sebatas membicarakan tahu apa (kognitif). Maka, tanpa adanya implementasi dan dibiasakan sampai dengan kapanpun tak akan mampu mewujudkan bangunan ketahanan mental yang kokoh.

Boomingnya character building pada tahun 2013 dari implementasi kurikulum 2013 yang berbasis karakterpun tak berdampak secara signifikan terhadap membangun karakter yang dimiliki setiap orang. Akan tetapi, semakin hari kualitas dari karakter masyarakat Indonesia makin mencemaskan. Kasus-kasus yang melibatkan siswa misalnya, banyaknya siswa yang tidak memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik serta dinilai tidak memiliki kesalehan, baik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat menunjukan adanya sebuah hal yang salah dengan sistem pendidikan nasional Indonesia yang menekankan karakter tersebut (Wijaya: Tribun Jateng, 2015).

Hampir setiap hari kita bisa menyaksikan berbagai perilaku penyimpangan dalam realitas sosial. Seperti menurunya moral dan tata krama sosial dalam praktik kehidupan sekolah maupun masyarakat, yang pada dasarnya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal masyarakat setempat. Bahkan justru sering terlibat dalam berbagai tindakan kekerasan massal dan perilaku yang menyimpang lainnya termasuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Potret Mental Masyarakat Indonesia

Dalam bukunya yang berjudul, Pribadi karya Prof. Hamka memberikan gambaran tentang sosok manusia yang pandai tetapi tidak memiliki pribadi yang unggul: “Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi “mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya. Tidak memiliki pribadi yang kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiaannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup (Hamka: Bulan Bintang, 1982).

Pendapat yang hampir sama dijabarkan oleh budayawan Mochtar Lubis mengenai kondisi mental masyarakat Indonesia yang memberikan deskripsi mengenai karakter bangsa Indonesia yang sangat negatif pada masanya. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 6 April 1977, Mochtar Lubis mendeskripsikan ciri-ciri umum manusia Indonesia sebagai berikut: munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya. Bahkan ada bagian paling menarik dari pemaparan yang digambarkan oleh beliau pada ciri kelima manusia Indonesia yaitu  mempunyai watak yang lemah dan karakter yang kurang kuat (Lubis: Yayasan Obor Indonesia, 2001).

Sehingga jelaslah, gambaran mental masyarakat Indonesia tak jauh beda kondisi dulu dengan kondisi sekarang. Memang, bisa jadi pendapat para tokoh tersebut hanya dapat dijadikan sebagai sebatas opini saja. Sebab, kita tidak mengetahui kondisi yang senyatanya pada waktu itu. Sedangkan, jika kalimat itu diterapkan pada masa sekarang banyak bukti yang dapat dijadikan dasar. Contoh yang konkrit misalnya, banyak pejabat, tokoh intelektual, publik figur, sampai dengan pelajar yang tak berpenghasilanpun terjerat pada yang dinamakan barang haram narkoba.

Itulah potret mental manusia Indonesia yang kurang kuat dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Begitu mudah, apalagi jika dipaksa dan demi untuk survive bersedia mengubah keyakinannya. Ketika kondisi mental masyarakat Indonesia seperti itu, hal negatif pasti akan sangat mudah untuk menginjeksi.

Re-internalisasi Pendidikan Karakter dan Adab

Berdasarkan rekomendasi World Health Organization (WHO) seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat apabila memenuhi 4 unsur. Unsur tersebut yang pertama adalah sehat secara jasmani (fisik), sehat secara emosional (rohaniyah), sehat secara spiritual, dan sehat secara sosial. Empat unsur hal dasar ini merupakan syarat utama seseorang dikatakan memiliki kondisi mental yang sehat atau tidak. Namun hal dasar ini tidaklah cukup ketika dijadikan dasar untuk membentuk bangunan ketahanan mental yang kokoh. Karena komponen ini hanya bersifat pondasi dasar sehingga dibutuhkan komponen-kompeonen lain agar mampu membentuk struktur bangunan mental yang kuat.

Salah satunya agar mampu membentuk struktur bangunan ketahanan mental yang kuat yaitu dengan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tidak lain adalah proses aktualisasi potensi diri manusia untuk menjadi lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh  salah satu pakar pendidikan Indonesia, Munif Chatib tujuan akhir pendidikan yaitu mampu memanusiakan manusia. Pernyataan ini mendapatkan persetujuan dari definisi pendidikan itu sendiri yang berasal dari kata “didik” yang mendapat awal “pe” dan akhiran “an” yang mengandung arti perbuatan mendidik (Chatib: Kaifa, 2012).

Yang menjadi menarik adalah seperti apakah pendidikan yang berkualitas tersebut. Pendidikan yang berkualitas tak lain bukanlah yang melangit dengan menggunakan bahasa-bahasa ilmiah yang sulit dipahami. Akan tetapi yang bersifat organik sehingga mampu diserap oleh diri sendiri dan lingkungan yang ada disekitar. Dengan demikian, pendidikan yang mampu membangunkan sisi kemanusiaan (karakter) dan memiliki adab yang mampu membentuk kokohnya mental masyarakat Indonesia (Latif: Mizan, 2014).

Dalam hal ini, blue print pendidikan Indonesia secara idealitas telah tercantum dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia ke-IV. Di mana tujuan pendidikan Indonesia yaitu mampu mencerdasakan kehidupan bangsa. Kemudian dispesifikasikan kembali ke dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 3 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Sehingga jelas, blue print tersebut ditujukan untuk mampu menciptakan manusia Indonesia yang paripurna. Akan tetapi, secara realita pendidikan yang ada hanyalah mendewakan salah satu komponen dasar yang dimiliki manusia Indonesia yaitu segi kognitif. Hal ini berdampak kepada hasil output yang hanya sebatas “tahu apa”. Setelah itu, yang terjadi pendidikan hanyalah menyuguhkan manusia-manusia yang tak ubahnya seperti mesin ataupun robot (Chatib: Kaifa, 2012).

Munculnya gagasan mengenai program pendidikan karakter di Indonesia bisa dimaklumi. Sebab selama ini, dirasakan proses pendidikan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter apalagi beradab. Bahkan, banyak yang menyebut bahwa pendidikan Indonesia telah gagal termasuk pendidikan karakter itu sendiri. Karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang piawai dalam soal ujian, berotak cerdas, tetapi memiliki ketahanan mental dan moral yang lemah.

Banyak pakar bidang moral dan agama yang sehari-hari mengajar kebaikan, tetapi perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Bahkan sejak kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, kebersihan dan jahatnya kecurangan. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan di atas kertas dan dihafal sebagai bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar dalam kertas ujian (Husaini: Cakrawala Publishing, 2012).

Jadi tidaklah salah ketika pendidikan karakter yang ada akan tetapi pengajar dan yang diajar tidak mepunyai karakter dan bahkan memiliki adab. Seperti halnya diberikan pengetahuan mengenai seluk beluk mengenai narkoba dan bahayanya melalui pendidikan anti narkoba akan tetapi tetap saja menggunakan. Sebab dalam konteks ini pendidikan karakter dan adab hanya sebatas ditujukan sebagai transfer of knowladge. Sehingga, pendidikan karakter akan menjadi percuma ketika tidak diinternalisasikan nilai-nilai yang ada. Karena hal ini hanya akan menghasilkan sebatas pengetahuan berupa karakter saja bukan menjadi kepribadian yang memiliki adab yang melekat dalam setiap tingkah laku.

Mental yang Kokoh

Ada sebuah kalimat yang tidaklah asing ditelinga. Kalimat tersebut yaitu mensana in corporisano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Slogan itu sangatlah tepat ketika dinisbatkan kepada orang-orang yang tidak mengkonsumsi narkoba. Hal ini terbukti, orang yang mengkonsumsi narkoba secara fisiologis akan terganggung fungsi-fungsi tubuh yang ada. Dampak dari itu semua akan mengganggu kondisi kesehatan mental yang ada.

Jika merujuk kalimat itu secara utuh tidaklah relevan ketika dinisbatkan untuk mampu mewujudkan ketahanan mental yang kokoh sehingga dapat mencegah penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Akan tetapi, ketika redaksi tersebut susunan kalimatnya dirubah maka bisa jadi untuk mampu menghalau penyalahgunaan penggunaan obat-obatan terlarang. Sehingga redaksinya menjadi “di dalam jiwa yang kuat terdapat tubuh yang sehat”. Karena jiwa yang kuat mampu membentuk ketahanan mental yang kokoh.

Dasar lainpun memperkuat agar mampu membentuk ketahan mental yang kokoh. Hal ini terdapat dalam kutipan lagu kebangsaan kita yang telah dirumuskan oleh orang-orang hebat jauh sebelum Indonesia merdeka. Salah satu tokoh tersebut yaitu Ki Hajar Dewantara yang menginisiasi dan kemudian mengilhami W.R. Soepratman menuliskan lirik berupa “….bangunlah jiwanya bangunlah raganya….” pada lagu Indonesia Raya. Dengan demikian jelas, membangun jiwa adalah prioritas agar mampu membangun mental-mental yang kuat (Purwowiyoto: Tabloid Profesi Kardiovaskuler, 2014).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chatib, Munif. 2012. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa.

Hamka. 1982. Pribadi. Jakarta: Bulan Bintang.

Husaini, Adian. 2012. Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. Jakarta: Cakrawala Publishing.

Lubis, Mochtar. 2001. Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Latif, Yudi. 2014. Mata Air Keteladanan: Pancasila Dalam Perbuatan. Bandung: Mizan.

Purwowiyoto, Budhi S. “Bangunlah Jiwaya (Deskripsi, Komparasi, Refleksi)”. Dalam Tabloid Profesi Kardiovaskuler. Edisi XIX. Jakarta.

Wijaya, Bhatara Dharma. 2016. “Potret Mentalitas Pendidikan”. Dalam Tribun Jateng, 7 April 2016. Semarang.

http://www.antaranews.com/berita/474528/bnn-transaksi-narkoba-indonesia-tertinggi-se-asean (Diakses, 15 Juni 2016).

#GantiTembakaumu

image

#gantitembakau mu
Dengan membeli susu untuk anakmu
#gantitembakau mu
Dengan memberi 1x makan pada anak yatim piatu
#gantitembakau mu
Dengan berinvestasi kesehatan untuk mu kelak agar tidak merepotkan keluarga dan orang lain

#gantitembakau mu󾬄️
Ganti pada hal yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, orang lain dan bangsa.

#HariTanpaTembakauSedunia
#ILMPI

Lomba Artikel “Selamatkan Masa Depanmu”

image

Assalamu’alaikum.Selamat pagi/siang/malam.

Haiii Anak muda penerus bangsa! Gawat!!

Sudah tahukah kamu? Bahwa pada tahun 2015 sudah tercatat angka 5,1 juta orang pengguna “Barang haram” (Narkoba) ini pun mulai menjangkiti semua kalangan, mulai bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan hingga calon generasi masa depan bangsa,  remaja dan anak-anak

Mirisnya, kasus ini semakin hari semakin meningkat, BANYAK kerugian bangsa akibat “ulah nakal” Narkoba, moral dan fisik yang ‘mati’
Tapi, jendela harapan masih terbuka bagi mahasiswa sebagai intelektual bangsa, untuk memberi solusi dan inovasi dalam pemecahan masalah bangsa!

So, siapkah Anda berkontribusi?

Ikutilah LOMBA ARTIKEL “SELAMATKAN MASA DEPANMU”
ILMPI Wilayah III memberikan kamu wadah untuk menuangkan aksi dan kepedulianmu!

Caranya:Daftarkan dirimu dengan mendownload formulir disini,lalu ikuti prosedur selanjutnya yang tertera di poster kami.

Kami tunggu kontribusimu!

Mari Bergerak menjadi Bermanfaat!  Tunjukan ide dan pemikiranmu, untuk MELAWAN Narkoba di Indonesia!!

#MahasiswaHebat
#MemperingatiHariAntiNarkoba26Juni2016
#AyoIkutLombaArtikel
#ILMPIWIL3

CP: 087727823787(Rifky)

More info :
Twitter: @ILMPI_WIL3
Instagram: @ILMPI_WIL3
Email: ILMPI.WilayahIII@gmail.com
Facebook: FACEBOOK.COM/ILMPIWILAYAH3
Blogspot: ILMPIWIL3.WORDPRESS.COM
Path: ILMPI Wilayah 3

Masihkah buku menjadi jendela kita? : “Buku adalah jendela dunia”

infografis artikel bukuMasihkah buku menjadi jendela kita? : “Buku adalah jendela dunia”

 

“yang paling berbahaya dari rendahnya minat baca adalah tingginya minat berkomentar”

Zed RS

Pada pertengahan bulan Mei, tepatnya 17 Mei 2016 merupakan Hari Buku Nasional. Penentuan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional sendiri merupakan ide Mentri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar 2002. Ide awal pencetusan Hari Buku Nasional ini datang dari golongan masyarakat pecinta buku, yang bertujuan memacu minat atau kegemaran membaca di Indonesia, sekaligus menaikkan angka penjualan buku. Hari buku Nasional ini diharapkan dapat meningkatkan dan melestarikan budaya membaca buku, karena dengan terciptanya budaya membaca yang baik dan teratur maka ilmu pengetahuan akan semakin bertambah. Budaya membaca bisa didefinisikan sebagai kegiatan positif yang dilakukan untuk melatih otak agar mampu menyerap segala informasi yang diterima seseorang dalam kondisi dan waktu tertentu.

Apabila melihat potret realitas Indonesia saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa buku telah tertingggal jauh oleh kecanggihan teknologi yang membuat generasi zaman sekarang seakan tutup mata untuk melirik buku. Survei menunjukan bahwa Indonesia menduduki tempat terendah dalam minat baca di kawasan Asia Timur (OECD, 2009) dan hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat serius dalam membaca, rata-rata orang Indonesia membaca buku pertahun yaitu kurang dari (<) 1 judul buku, sedangkan Jepang bisa sampai 10-15 buku dalam sehari dan Amerika bisa sampai 20-30 judul buku dalam sehari (UNESCO, 2012). Lantas apa peran kita sebagai generasi muda untuk fenomena yang begitu tragis tentang minat orang Indonesia dalam membaca buku ini? Untuk itu sebenarnya dengan adanya peringatan Hari Buku Nasional ini setidaknya kita mampu menumbuhkan kecintaan terhadap membaca buku, karena pada hakikatnya membaca buku adalah kebutuhan setiap individu. Problematika mendasar masalah minat baca pada masyarakat indonesia adalah pada tingkat intensitas aktivitas membacanya yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan asia. Faktor budaya dapat dikatakan sebagai penyebab dari permasalahan tersebut dimana budaya lisan dan visual di Indonesia lebih dominan dan menunjukkan angka mayoritas terhadap budaya baca. Permasalahan tersebut juga dipengaruhi oleh seberapa jauh proses pengenalan perilaku dan minat baca sedini mungkin. Untuk hal tersebut peran orang tua dan lingkungan anak lebih diutamakan sebagai pembentukan semangat membaca dalam diri anak. Pada umumnya anak yang gemar membaca mendapat pengaruh dari orang tua maupun lingkungannnya yang kemudian pengaruh itu berkembang menjadi stimulus pada si anak untuk menumbuhkan minat dan perilaku gemar membaca.

Lalu, seberapa jauh masyarakat Indonesia sadar akan fenomena buku di zaman sekarang ini? Ini perlu menjadi cambukan besar bagi kita generasi muda agar setidaknya merubah minat baca buku menjadi lebih tinggi. Kemudian penting gak sih baca buku? Menurut Maghfiratul Istiqamah salah satu Founder Ulet Buku daerah Semarang dengan membaca buku mata akan menjadi jauh lebih sehat, kemudian di buku tidak akan ada notifikasi “smartphone” yang mengganggu, kita juga mampu merasakan serunya berada di toko buku, selain manfaat secara keilmuan buku memang sangat kaya buku juga mampu membuat ruangan jauh lebih bagus dan keren. Manfaat dari membaca buku diatas hanya sebagian kecil dari banyaknya manfaat membaca buku, hanya saja masyarakat khususnya Indonesia terlalu terlena dengan kecanggihan teknologi di zaman sekarang. Zed RS berkata “yang paling berbahaya dari rendahnya minat baca adalah tingginya minat berkomentar” fenomena ini cukup nampak nyata, semakin rendahnya minat baca seseoarang dia akan semakin mudah berkomentar, kenapa demikian? Karena ketika bacaan yang kita dapat itu kurang kita akan mudah mengkritik atau memberi komentar kepada hal-hal yang sebenarnya belum kita ketahui seluk beluknya. Jadi apakah buku masih menjadi jendela kita?

Dengan fenomena diatas tumbuhlah gagasan bahwa membaca dapat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang yang disebut dengan Biblioterapi (jack & Ronan, 2008) sehingga apa yang dibaca oleh seseorang akan berpengaruh pada cara pandang, sikap dan reaksi terhadap sesuatu hal. Oleh karena itu bacaan menjadi penting untuk diperhatikan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Istilah biblioterapi mula-mula muncul pada awal abad 20, Crothes tahun 1916 mengenalkan istilah ini. Biblioterapi merupakan terapi memberikan buku atau cerita bertema tertentu terkait dengan permasalahan pribadi dan sosial untuk membantu individu atau kelompok agar memperoleh insight mengenai masalah pribadinya dan belajar cara-cara yang lebih sehat dalam menghadapi kesulitan (Heath dkk, 2005;  Cook dkk, 2006). Biblioterapi dibedakan menjadi dua yaitu 1) biblioterapi kognitif 2) biblioterapi afektif.

Biblioterapi kognitif ini meyakini bahwa proses belajar merupakan mekanisme utama dari sebuah perubahan dan buku-buku non fiksi dipilih untuk mengajarkan seseorang sebagai bentuk intervensi. Asumsi dasarnya behavioral-kognitif, yakni semua perilaku adalah hasil belajar, dan karenanya segala sesuatu dapat dipelajari dibawah bimbingan yang tepat. Sedangkan biblioterapi afektif berakar pada teori psikodinamik yang berpandangan: penggunaan bacaan untuk membuka pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan pengalaman seseorang. Asumsi dasarnya: seseorang menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti represi untuk melindungi diri  dari sesuatu yang menyakitkan. Ketika menggunakan mekanisme pertahanan diri, individu menjadi tidak terhubung dengan emosinya, tidak sadar perasaan yang sesungguhnya, sehingga tidak dapat menyelesaikan permasalahan secara konstruktif. Cerita akan membantu dengan memberi kesempatan individu untuk mendapatkan insight.

 

FOKUS BIBLIOTERAPI:

Biblioterapi remedial: ditujukan pada penggunaan klinis untuk membimbing pembaca yang mengalami masalah emosi dan perilaku. Gladding (2000): biblioterapi dapat digunakan sebagai bentuk konseling remediasi yaitu konseling yang bertujuan untuk mengoreksi, misalnya membantu individu yang memiliki harga diri rendah dan kecemasan tinggi. Biblioterapi perkembangan: membimbing pembaca untuk mengalami interaksi dinamis antar kepribadian pembaca dan bacaan. Biblioterapi perkembangan menurut Cook, dkk (2006) dirancang sebagai pendekatan proaktif yang ditujukan untuk memunculkan perilaku atau memudahkan seseorang dalam memperoleh solusi-solusi dalam situasi spesifik.

Berikut ini kelebihan penggunaan biblioterapi (Jack & Ronan, 2008)

  1. Meningkatkan pemahaman mengenai reaksi psikologis dan fisiologis dirinya terhadap frustrasi dan konflik,
  2. Meningkatkan pemahaman antara terapis dan klien yang dapat meningkatkan penyembuhan psikologis
  3. Mendorong verbalisasi masalah-masalah yang secara umum sulit disampaikan
  4. Menstimulasi berpikir secara konstruktif dalam sesi-sesi terapi dan menganalisa sikap-sikap dan pola-pola perilaku selanjutnya,
  5. Memperkuat kemunculan perilaku dengan aturan-aturan dan contoh yang terkendala pola-pola sosial dan budaya dan pola perilaku infantil yang terhambat
  6. Menstimulasi imajinasi.

 

Melalui hari buku Nasional ini, mari kita kembali melestarikan budaya membaca buku. Bersama-sama kita kembalikan budaya membaca di lingkungan sekitar kita.

Yuk, kita kembali membaca dan nikmati buku!

 

 

 

 

 

 

Sumber:

http://cibubur.globalmandiri.sch.id/component/content/article/310-sejarah-hari-buku-nasional.html

http://www.riaupos.co/1929-opini-hari-buku-dan-masalah-minat-baca-.html#.V0W2vDV97Dd

Jack, S. J., & Ronan, K. R. (2008). Bibliotherapy: Practice and research. School Psychology International, vol 29 (2), 161-182.

http://kangkoez9.blogspot.co.id/2009/05/kajian-terhadap-fenomena-minat-baca.html

Harper, E. (1989). Bibliotherapy intervention exposure and level of emotional awareness among students with emotional and behavioral disorder. Thesis (unpublished). Kent state university.

Cook, K. E., Earless-Vollrath, T., & Ganz, J. B. (2006). Bibliotherapy. Intervention in School and Clinic, 42 (2), 91-100.

Gladding, S. T. (2000). Counseling: A Comprehensive Profession. Fourth edition. New Jersey: Prentices-Hall, Inc.

http://babongpedia.blogspot.co.id/2015/05/selamat-hari-buku-nasional.html

https://polka.id/peringatan-hari-buku-nasional-dan-pentingnya-membaca/

http://www.riaupos.co/1929-opini-hari-buku-dan-masalah-minat-baca-.html#.V0W8ozV97Df